Partai Golkar, Bersatu Kita Teguh


Oleh Aburizal Bakrie




Tahun ini Golkar berusia lebih setengah abad, sebuah usia yang matang dan menjadikan partai politik tertua di Indonesia. Tua dalam usia, tetapi terus muda dalam semangat dan gairah kehidupan.

Dalam sejarah Indonesia, Golkar sebagai kekuatan politik pernah mengalami periode pasang dan surut, juga periode pertentangan internal yang tajam. Namun karena kekuatan dan pengaruh Pak Harto yang didukung penuh oleh TNI, konflik dan perbedaan internal Golkar tidak pernah mencuat ke permukaan.

Kondisi internal partai yang terbelah dalam setahun terakhir merupakan salah satu masa tersulit yang dihadapi Partai Golkar. Apalagi, di zaman keterbukaan sekarang ini, friksi internal Golkar menjadi objek pemberitaan yang menarik, dan mungkin telah menjadi alat tarik-menarik dari kekuatan politik di luar Golkar.

Patut disyukuri, setelah prahara yang cukup panjang dan meletihkan, mulai terlihat cahaya penyelesaian dan sebuah solusi permanen. Untuk menyongsong pilkada serentak dan mendukung kader-kader Golkar di berbagai daerah, Kubu Munas Bali dan Kubu Munas Ancol sepakat untuk bekerja sama dan melupakan perbedaan yang ada. Alhamdulliah, kerja sama ini berjalan lancar, dan kader-kader Golkar akan merebut sukses pilkada di banyak daerah.

Selain itu, proses hukum juga sudah mendekati keputusan akhir yang mengikat. Yang membanggakan, dalam situasi konflik setajam apa pun, kita sepakat untuk menjunjung tinggi proses hukum.

Itulah cermin kematangan dan kedewasaan berpolitik. Bahwa setelah ketukan palu terakhir nanti, setelah keputusan hakim menjadi paripurna, tidak akan ada lagi kalah dan menang. Kedua kubu akan saling mengulurkan tangan. Pihak yang kalah akan memberi selamat; pihak yang menang akan merangkul dan membesarkan hati. Semuanya akan kembali lagi dalam semangat persahabatan yang akrab di bawah naungan pohon beringin yang teduh.

Kita akan berjalan bersama, menatap ke depan tanpa dendam dan kegetiran. Tugas besar sudah menunggu. Kita akan membesarkan serta mempersiapkan kembalinya kejayaan Partai Golkar yang kita cintai ini. Kader-kader partai harus siap berdamai dan bersatu kembali, bekerja keras dan merebut kembali kejayaan Partai Golkar.

Setengah abad silam, Golkar lahir dengan semangat untuk menjadi alternatif baru, menyusun trace baru, mengatasi konflik ideologi yang saat itu membawa Indonesia ke jalan buntu, kemiskinan massal, dan bahaya disintegrasi. Golkar menawarkan karya dan kerja nyata, bukan retorika ideologis yang kaku dan membeku dalam zaman lalu.

Golkar lahir dengan tekad menjaga semangat toleransi dan pluralisme Indonesia, meningkatkan kesejahteraan buat semua, lewat pembangunan ekonomi dan stabilitas politik yang kokoh.

Saat ini, zaman memang telah berubah. Tetapi, semangat dan cita-cita dasar kelahiran Golkar justru semakin relevan. Tantangan terbesar kita sekarang adalah menerjemahkan semangat tersebut dalam masyarakat yang terus berubah, dalam konteks baru yang semakin modern dan semakin demokratis.

Bersama kekuatan-kekuatan politik lainnya, Golkar bertekad membawa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang lebih optimistis dalam menatap masa depan. Karena itulah, Partai Golkar menghimbau kepada semua elemen bangsa agar terus menerus memperbaharui tekad dalam melangkah bersama mencapai kemajuan Indonesia. Perbedaan dan konflik akan terus ada. Demikian pula kepentingan kelompok yang beragam.

Namun ada kalanya, kepentingan yang partikular harus di tempatkan untuk menjunjung kepentingan yang lebih besar. Manakala pertaruhannya adalah kepentingan bangsa, maka tidak boleh ada kuning, merah, biru, hijau atau warna lainnya. Yang ada hanyalah Merah Putih yang gagah dan berkibar di langit luas.

Dalam satu generasi, Indonesia harus mampu membuat lompatan besar. Kalau China, Singapore, Korea Selatan mampu, pasti kita juga bisa. Saya yakin, Indonesia sanggup untuk menjadi negeri yang lebih baik lagi menjadi sebuah negeri yang kuat jiwa dan raganya, menjadi sebuah negeri yang ulet serta adaptif terhadap perkembangan zaman, menjadi sebuah negeri yang terbuka tetapi tetap mempertahankan ke-Indonesia-an yang hakiki.

Pada kesempatan ini, perlu kita ingatkan bahwa perjalanan kita ke depan tidak akan semakin mudah. Situasi perekonomian dunia masih berjalan di tempat, sementara kondisi perekonomian domestik, dalam berbagai indikator terbaru, menunjukkan perkembangan yang mulai menuju pada lampu kuning. Saya adalah seseorang yang selalu optimis, namun sebagai mantan pengusaha, saya mulai merasakan suasana kecemasan di dunia bisnis.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia harus segera merapatkan barisan. Untuk mengatasi masalah, fokus harus tajam, langkah kebijakan harus cepat dan tangkas, sambil terus mencari peluang-peluang baru untuk mendorong investasi, membuka lapangan kerja, membangun infrastruktur, dan sebagainya. ***

Di tengah situasi global yang kurang menguntungkan dan situasi ekonomi nasional yang tampaknya mengarah ke lampu kuning seperti sekarang ini, jangan menambah kesulitan dengan saling menyalahkan, saling menyudutkan, atau bermain politik demi kekuasaan itu sendiri.

Seluruh lembaga politik yang ada, baik eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun lembaga-lembaga ekstra seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM), pers, dan kelompok masyarakat sipil, harus menyadari bahwa konflik dan permainan politik sekarang harus diminimalkan. Kaum elite Indonesia jangan terlalu banyak bermain da­lam konflik, saling mendorong dan me­nyudutkan yang lain.

Kita harus mengembalikan ke­kuasaan dan panggung publik ke fitrahnya yang sejati, yaitu alat un­tuk mengatur kehidupan bersama yang lebih baik, lebih toleran, sekaligus lebih maju dan produktif. Kita jangan menjadi bangsa yang cerewet pada isu yang bersifat remeh temeh, namun lupa bahwa persoalan terbesar kita adalah melenyapkan ke­mis­kinan, membangun sekolah, rumah sakit modern, dan semacamnya.

Itulah tantangan terbesar kita sa­at ini. Kita harus berdamai de­ngan diri kita sendiri. Hanya dengan bersatu, saling membesarkan, saling menghargai, saling mem­bantu, ma­ka In­donesia dapat mengatasi saat-saat yang sulit ini serta me­lang­­kah untuk me­raih masa depan yang lebih baik lagi.

Di kalangan ka­um pemikir dikenal ung­kapan, to rule is easy, to govern difficult. Berkuasa me-mang mudah. Tetapi me­merintah, meng­atur, apalagi memim­pin bukanlah pekerja­an yang gampang. Di­butuhkan dedikasi, ker­­ja sama, serta ke­be­ranian untuk ber­tindak manakala di­per­­lukan.

Tanpa bermaksud menggurui, itulah pe­san yang ingin disampaikan Partai Golkar kepada Presiden Jokowi dan segenap anggota kabinet beliau. Pe­me­rin­tahan eksekutif ada­lah sebuah tim kerja, melangkah se­irama de­ngan loyalitas yang tegak lu­rus pada satu pimpinan, yaitu Pre­siden RI. Seluruh bangsa Indonesia berharap bahwa tim kerja ini akan meraih sukses besar dalam membangun negeri kita.

Sukses ini hanya bisa dicapai ji­ka terjadi kesatuan langkah, yang diiringi oleh pernyataan-pernyataan para penyelenggara negara yang se­arah, kompak, dan konstruktif. Ka­rena itulah, kami sangat mendu­kung instruksi Presiden Jokowi ke­pada anggota-anggota kabinetnya un­tuk menerapkan prinsip kerja sama dan kekompakan demikian.

Partai Golkar akan terus menjaga posisi sebagai mitra yang loyal. Kerja sama dengan kawan-kawan di ku­bu KMP (Koalisi Me­­rah Putih) adalah koa­­lisi dalam ke­baik­an, bukan untuk men­­­jegal atau meng­ham­bat lang­kah-lang­kah pemerintah.

Bersama kekuatan yang ada dalam KMP, posisi Partai Golkar terhadap pemerintah adalah posisi seorang sahabat yang berada di seberang jalan. Dan, sebagaimana sa­habat yang baik, Gol­kar akan selalu meng­ulurkan tangan, serta membesarkan hati pada hari-hari yang sulit.

Tetapi, seorang sa­ha­bat sejati bu­kan ha­nya memberikan pu­­jian. Nothing is more dangerous than a friend who says only the good news. ‘Tidak ada hal yang lebih berbahaya dari pada seorang te­man yang kerjanya ha­nya memuji dan me­nga­takan hal-hal yang baik saja.’ Golkar akan mengingatkan, memberi evaluasi objek­tif dan catatan kritis, serta me­nawarkan solusi alternatif mana­kala diperlukan. Golkar akan me­nyua­ra­kan hal-hal yang perlu dide­ngar­kan, be­tapapun pahitnya, bu­kan hanya hal-hal yang selalu me­nyenangkan ha­ti dan enak didengar­kan di telinga kita.

Itulah sahabat sejati. Terhadap pe­merintah, Golkar akan selalu ber­sikap konstruktif. Bersahabat, loyal, tetapi tetap objektif, kritis dan independen, sehingga spektrum suara rak­yat benar-benar terwakili dalam se­tiap elemennya.

Golkar tidak akan pernah me­minta. Golkar akan memberi, bukan me­nuntut. Golkar tidak akan pernah mencari keuntungan dari ne­ga­ra. Justru sebaliknya, Golkar akan terus berupaya memberi kontribusi, memberikan dharma bakti pada ne­ga­ra.  Itulah sikap dasar Partai Gol­­kar dalam mengarungi masa-ma­sa sulit saat ini.

Selanjutnya, perkenankanlah saya mengingatkan kembali sebuah ungkapan klasik yang pernah disampaikan oleh John F Ken­nedy, We do the campaign with poetry, but we govern with prose. ‘Ki­ta melakukan kampanye dengan pui­si, tetapi kita memimpin peme­rintahan dengan prosa.’

Sejak pertengahan tahun lalu, pe­milu yang panjang telah berakhir. Era puisi dan janji telah berlalu. Pui­si harus berganti dengan prosa, janji ha­rus disusul oleh bukti nyata. Kini, ki­ta harus bekerja keras, berkeri­ngat, bergandengan tangan, mening­kat­kan kesejahteraan rakyat dari Sa­­­bang sampai Merauke.

Harapan begitu besar. Kita tidak bo­leh menyia-nyiakannya. Akan ada pasang dan surut. Akan ada beribu ke­sulitan. Tetapi, kita tidak pernah boleh patah semangat. Marilah kita melangkah bersama.

Sebagai penutup, saya ingin me­ne­ruskan tradisi retorika di Partai Gol­kar dengan membacakan dua bu­ah pantun:

Pantun pertama, pesan untuk in­ternal Partai Golkar:

Sudah tampak cahaya perdamaian

Agar Golkar tegak berdiri

Jangan menggunting dalam lipatan

Jangan menohok kawan sendiri

Pantun kedua, pesan untuk pemerintah:

Sudah setahun menunggu bukti

Dari kampanye beribu janji

Rindu menanti Presiden Jokowi

Sukses gemilang membangun negeri

Maju terus Partai Golkar. Maju te­rus negeriku. Maju terus Indo­ne­sia. ***

Penulis adalah Ketua Umum Partai Golkar.
Artikel ini diolah dari bahan pidato sambutan penulis dalam peringatan HUT ke-51 Partai Golkar di Jakarta, Kamis (26/11)

Sumber : harian suara karya

Menyatukan Kembali Partai Golkar




Sambutan Aburizal Bakrie - Ketua Umum DPP partai GOLKAR
pada Acara Silaturahmi Nasional Partai Golkar
Jakarta, 1 Nopember 2015

 

 


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Salam Sejahtera bagi kita semua,

Om Swastyasu.



Segala puja dan syukur patut kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas tuntunan dan pemeliharaanNya, kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat wal’afiat untuk mengikuti acara Silaturahmi Nasional Partai Golkar pada malam hari ini.

Alangkah indahnya bila orang-orang bersaudara yang berteduh di bawah rindangnya pohon beringin, datang dari seluruh penjuru tanah air untuk duduk bersama, bersilaturahmi, saling memadu rindu dan bertukar pengalaman, membicarakan masalah bangsa dan masalah internal Partai Golkar yang sama-sama kita cintai. Malam silaturahmi nasional ini terasa semakin bermakna, karena sudah hampir setahun cakrawala perpolitikan nasional, dilanda “kabut asap” yang pekat akibat terbakarnya dahan dan ranting soliditas internal pohon beringin.

Kita patut bersyukur, karena kabut asap itu kini semakin menipis setelah datangnya siraman “hujan kepastian hukum” dan semangat bersilaturahmi. Malam silaturahmi nasional ini, merupakan pengejawantahan semangat kebersamaan sebagai satu partai, semangat untuk mengurai perbedaan menjadi kekuatan baru guna membangun soliditas internal Partai Golkar untuk terus mengaktualisasikan doktrin, ikrar maupun paradigma perjuangan Partai Golkar.

Hadirin Malam Silaturahmi yang saya hormati,

Kita tahu bersama, bahwa kehadiran Partai Golkar, bukan untuk dirinya sendiri. Motivasi dasar pendirian Partai Golkar, adalah untuk mengukir karya-karya nyata demi persatuan dan kesatuan bangsa, demi kemajuan bangsa di segenap aras dan aspek, yang semuanya diperuntukkan bagi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Marauke, dari Talaud sampai ke Rote.

Oleh karena itu, sebelum membahas berbagai tantangan internal, ijinkan saya mengajak kita semua untuk memberi perhatian sungguh-sungguh terhadap sekurang-kurangnya tiga permasalahan bangsa yang sedang kita hadapi dewasa ini.

Pertama, fenomena pelambatan ekonomi nasional beserta seluruh dampak yang ditimbulkannya. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS, menurunnya produksi akibat beratnya beban ekonomi, dan meningkatnya PHK yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat akibat menurunnya pendapatan masyarakat. Selain itu, angka kemiskinan dan pengangguran terus menunjukan tren kenaikan yang mengkawatirkan karena berdampak langsung bagi menurunnya aksesibilitas masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan pokok dan transportasi serta aksesibilitas terhadap pendidikan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Oleh karena itu, saya mengajak saudara-saudara sekalian untuk bersama-sama Pemerintah, Pelaku Bisnis, partai-partai politik dan semua kekuatan bangsa lainnya, untuk saling bahu membahu menyumbangkan segala yang terbaik yang kita miliki untuk menghentikan laju pelambatan ekonomi nasional, sekaligus memulihkan dan menggairahkan kembali roda perekonomian bangsa. Saya menghimbau kepada seluruh kader Partai Golkar yang berkarya di bidang legislatif maupun eksekutif, baik di pusat maupun daerah, untuk bekerja sekuat-kuatnya meningkatkan daya serap anggaran pembangunan, terutama belanja modal untuk pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat agar dapat memicu kembali perputaran roda perekonomian masyarakat. Begitu juga kader kader yang bergerak di bidang swasta saya ajak untuk menggagas program-program padat karya untuk menolong masyarakat yang kini semakin berat beban hidupnya karena merasakan dampak langsung dari melambatnya roda perekonimian nasional.

Kedua, bencana asap akibat terbakarnya lahan dan hutan. Bencana asap kini telah menjadi bencana bagi banyak daerah, semakin meluas, yang semula hanya di pulau Kalimantan dan Sumatera,  kini telah menjangkau pulau Jawa, Maluku, Sulawesi, Papua dan Nusa Tenggara, bahkan hingga ke Negara-negara tetangga. Akibatnya, bencana asap telah menimbulkan dampak serius tidak saja di bidang transportasi, pendidikan dan kesehatan melainkan sudah meminta korban jiwa yang tidak sedikit. Saya mengajak kita semua untuk membantu Pemerintah dalam mengatasi bencana asap ini, agar bila terjadi lagi pada tahun-tahun mendatang, kita akan cepat menanggulanginya. Sekurang-kurangnya ada tiga aspek yang harus dibenahi ke depan, yakni soal tata kelola perinjinan, soal penegakkan hukum dan soal penanggulangan kebakaran. Selain ketiga hal ini, satu tantangan yang sangat mendesak yang membutuhkan perhatian kita semua adalah bagaimana menanggulangi korban-korban bencana asap yang jumlahnya telah mencapai ratusan ribu orang.

Ketiga, terganggunya harmoni sosial akibat konflik horizontal. Akhir-akhir ini berkembang fenomena sosial yang sangat memprihatinkan, yakni gejala rapuhnya nilai-nilai harmoni sosial, suburnya anarkhisme dan menguatnya sentiment primordial yang seakan-akan mengingkari jati diri Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang plural dan multicultural. Gejala ini harus segera dihentikan, dengan mencari dan memecahkan akar permasalahannya, karena bila dibiarkan berkembang pasti akan memperlemah, bahkan dapat merapuhkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagaimana seruan Ikrar Partai Golkar yang ketiga : “Kami warga Partai Golkar adalah Pembina persatuan dan kesatuan bangsa yang berwatak setia kawan”, saya mengajak seluruh kader partai Golkar untuk mengaktualisasikan ikrar luhur ini untuk membangun solidaritas dan harmoni sosial, mengembangkan cara hidup yang berwatak setia kawan dan toleran, menggantikan politik identitas dengan politik kebangsaan, demi memperkokoh akar-akar persatuan dan kesatuan bangsa di tempatnya masing-masing..

Saudara-saudara Hadirin Forum Silaturahmi Nasional Partai Golkar yang saya hormati,

Ijinkan saya mengajak saudara-saudara untuk mencermati dinamika internal Partai Golkar satu tahun terakhir. Setelah merayakan ulang tahunnya yang ke 50, tahun lalu, Partai Golkar menghadapi tantangan internal yang cukup serius. Perbedaan pendapat dalam forum-forum internal partai, baik Rapat Harian, Rapat Pimpinan Nasional maupun Musyawarah Nasional telah memicu perpecahan dalam partai, baik dualisme kepengurusan maupun pertentangan antar kader partai.

Saya mencermati, bahwa reformasi nasional 1998, yang merubah secara mendasar format perpolitikan nasional ke arah yang semakin demokratis dan konstitusional, membawa dampak terhadap kultur dan format politik internal partai-partai politik, termasuk Partai Golkar. Salah satu dampak dari perubahan ini, adalah berkembangnya faksionalisme dalam partai, yang dalam kadar tertentu daoat mengganggu soliditas internal dan kinerja politik partai-partai politik.

Khusus di dalam Partai Golkar, faksionalisme internal muncul dan berkembang disaat penyelenggaraan Munaslub 1998 dan Pemilihan Presiden Tahun 1999. Sejak saat itu, faksionalisme internal Partai Golkar terus terjadi dalam dua momentum utama, yakni suksesi kepemimpinan nasional dan suksesi kepemimpinan Partai Golkar. Kita bisa melihat bagaimana pertentangan internal yang terjadi disaat Konvensi Nasional 2004, Putaran I dan II Pilpres 2004, Munas VII, Bali, 2004, Munas VIII, Pekanbaru, 2009, Pilpres 2014 maupun Munas IX 2014. Perpecahan internal ini, menimbulkan dampak serius bagi Partai Golkar, baik karena terjadi pembelahan partai hingga ke struktur partai terendah, maupun gerak eksodus kader-kader Partai Golkar untuk membentuk partai-partai politik baru.

Sekalipun demikian, sebagaimana kita saksikan bersama, bahwa pertentangan internal yang terjadi pada Pilpres 2014 dan Munas IX 2014, tidak menggoyahkan akar-akar “beringin” yang terus terpatri kuat di hati rakyat. Partai Golkar tetap berdiri teguh mengemban panji-panji perjuangannya demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Bahkan Partai Golkar justru menjadi kekuatan politik nasional yang dihormati kawan dan disegani lawan. Hal ini desababkan karena seluruh kader Partai Golkar memiliki komitmen yang kuat untuk mengelola konflik secara dewasa, menggunakan akal sehat, dan tetap berpegang teguh pada konstitusi partai dan hukum nasional. Kita memilih untuk menggunakan cara-cara beradab dalam mengatasi pertentangan internal, betapapun beratnya tantangan itu.

Itulah sebabnya kita semua sepakat untuk memilih jalur hukum sebagai cara terbaik dalam menyelesaikan pertentangan internal, walaupun jalan ini membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, baik dari segi waktu, tenaga, moril maupun materil. Jalan hukum, adalah jalan terbaik, terbaik bagi partai, terbaik bagi para kader dan juga terbaik bagi bangsa dan Negara sebagai tempat kita mengabdi. Penyelesaian melalui jalur hukum selain menempatkan hukum sebagai panglima, juga merupakan pembelajaran politik bagi seluruh komponen bangsa untuk terus memperkuat salah satu sendi dasar kebangsaan, yakni Indonesia sebagai Negara hukum dan bukan Negara kekuasaan.

Selain menempuh jalur hukum, terdapat dua ciri kedewasaan mengelola konflik internal Partai Golkar satu tahun terakhir, yakni komitmen  untuk mengedepankan kepentingan Partai Golkar di atas kepentingan kelompok dan kesadaran bersama untuk terus mendorong dan membangun semangat silaturahmi sebagai jalan menuju islah. Semua ini telah kita buktikan dalam proses seleksi calon kepala daerah menghadapi Pilkada serentak 9 Desember 2015 yang akan datang.

Hingga awal Juli 2015, Partai Golkar belum dapat memastikan diri ikut serta dalam Pilkada serentak. Publik politik umumnya berpendapat bahwa menjadi suatu “kemustahilan”, bila Partai Golkar bisa ikut dalam Pilkada 2015. Ada pula kekuatan-kekuatan politik yang berusaha baik secara langsung maupun tidak langsung agar Partai Golkar tidak ikut Pilkada 2015. Namun kita semua tetap yakin dan terus mencari “jalan terbaik”  untuk mewujudkan hak konstitusional Partai Golkar dalam Pilkada 2015.

Bermula dari penandatanganan Kesepakatan Islah, tanggal 30 Mei 2015, yang diprakarsai dan dimediasi oleh Tokoh Senior Partai Golkar, Jusuf Kalla, dibentuklah Tim  Pilkada Pusat DPP Partai Golkar yang dipimpin Saudara M. S. Hidayat dan Yorrys Raweyai, yang lebih dikenal dengan nama Tim 10. Tim ini bekerja keras siang dan malam untuk merumuskan Kriteria dan Tatacara penjaringan, pembahasan dan penetapan calon kepala daerah/wakil kepala daerah dari Partai Golkar. Saya mencatat, bahwa sekalipun dihadapkan pada tuntutan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan, bahkan pada saat Hari Raya Idulfitri, Tim 10 terus bekerja bahkan hingga dini hari.

Kita semua juga patut memberi apresiasi khusus kepada Bapak Jusuf Kalla, yang karena kecintaannya bagi Partai Golkar, telah memediasi pembahasan para pihak untuk merubah PKPU No 9 menjadi PKPU No 12 Tahun 2015, yang menjadi landasan keikutsertaan Partai Golkar dalam Pilkada 2015, dimana kedua pihak yang berkonflik harus mengajukan nama pasangan calon yang sama sebagai prasyarat untuk ikut dalam Pilkada mendatang.

Sekalipun persyaratan ini cukup sulit, apalagi dalam waktu yang demikian singkat, Partai Golkar akhirnya memastikan diri ikut serta dalam Pilkada Serentak 9 Desember 2015. Dari 269 Pilkada, Partai Golkar dapat ikut serta dalam Pilkada di 246 daerah ( 91, 44 %),  dimana di 202 daerah Partai Golkar ikut serta sebagai Partai Pengusung (75,09 %), di 44 daerah, Partai Golkar hanya muncul sebagai partai pendukung (16,35%)  sementara di 23 daerah (8,55 %), Partai Golkar tidak memiliki calon karena berbagai alasan.

Melihat hasil ini, saya ingin menyampaikan apresiasi khusus kepada Tim 10  yang beranggotakan : Yoris Raweyai, Ibnu Munzir, Lorens Siburian, Lamhot Sinaga dan Melky Lakalena dari pihak Agung Laksono serta M. S. Hidayat, Theo L. Sambuaga, H.A.M. Nurdin Halid, Indra Bambang Utoyo dan Ahmadi Nur Supit dari pihak ARB. Tim ini dipimpin oleh politisi senior Partai Golkar, yakni saudara M.S. Hidayat dan Yorrys Raweyai.

Saudara saudara hadirin, peserta dan undangan Silaturahmi Nasional partai Golkar yang saya hormati,

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak kita semua untuk bersatu padu membangun Partai Golkar yang satu, utuh dan demokratis. Saya berharap, tidak ada lagi pengelompokkan internal di dalam Partai Golkar. Mari kita bekerjasama untuk mengatasi tiga dampak negatif dari perpecahan yang kita alami hampir satu tahun terakhir.

Pertama, mari kita bersama melakukan konsolidasi secara menyeluruh untuk menyatukan kepengurusan, membangkitkan semangat kebersamaan dan membangun kembali soliditas internal partai kita yang mengalami perpecahan hingga ke tingkat Pimpinan Kecamatan.

Kedua, mari kita bangun kembali citra positif Partai Golkar di kalangan publik politik, yang hampir setahun disuguhi beragam informasi tentang konflik internal Partai Golkar, yang saya duga turut menggerus kepercayaan rakyat terhadap Partai Golkar.

Ketiga, mari kita bersama-sama membangun kinerja politik Partai Golkar agar dapat mengoptimalkan pelaksanaan fungsi-fungsi Partai Golkar dalam ikut serta mewujudkan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, baik di pusat maupun di daerah.

Untuk menghadapi pilkada serentak, saya menginstruksikan kepada semua kader Partai Golkar diseluruh Indonesia untuk bekerja sekuat tenaga memenangkan calon-calon kepala daerah dalam Pilkada Serentak 2015, baik yang diusung maupun di dukung Partai Golkar. Dengan langkah-langkah  ini kita dapat meyakini, bahwa Partai Golkar akan tampil sebagai pemenang pada Pileg dan Pilpres 2019

Sekali lagi saya ingin memberi penghargaan kepada Bapak Jusuf Kalla dan Bapak Luhut Panjaitan, yang telah memberikan pengarahan-pengarahan kepada kami, untuk penyelenggaraan acara ini.

Akhirnya, saya juga secara khusus ingin menyampaikan terimakasih kepada 2 (dua) orang penggagas acara Silaturahmi ini: Saudara Nurdin Halid dan Saudara Yorrys Raweyai, yang bekerja keras menyatukan pendapat agar acara Silaturahmi Nasional ini dapat berjalan dengan sukses.

Tidak lupa, saya pun ingin mengucapkan terimakasih secara khusus kepada para pengurus DPD I dan II yang telah menjaga keutuhan Partai Golkar di daerah-daerah, yang tanpa Saudara-Saudara, tidak mungkin kita sampai saat ini : kita duduk bersama dalam Silaturahmi Nasional ini.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini.


Wa Billahi Taufik Wal Hidayah Wa’salamualaikum Wr.Wb.

Salam Sejahtera bagi kita semua,

Om Shanti Shanti Shanti Om.



Sumber : http://blog.aburizalbakrie.id

Pilkada dan Peran Parpol


Oleh Wisnu Suhardono*

 

Pilkada serentak yang diselenggarakan akhir tahun ini merupakan terobosan politik penting dalam perkembangan demokrasi. Ini merupakan bagian dari penataan sistem politik yang terus berkembang sejak era reformasi, yang menempatkan daerah sebagai entitas otonom dan mandiri.

Sejak digelar pada pertengahan 2005 hingga sekarang, pilkada di Indonesia telah memperkuat basis legitimasi kepemimpinan politik lokal yang demokratis. Bagaimanapun fenomena pilkada, telah menjadi potret praktik demokrasi politik, di samping pileg dan pilpres.

Dalam konteks ini, wajah politik tidak bisa dipandang utuh bila mengabaikan fenomena pilkada. Ini mengingatkan kita pada adagium politik terkenal dari Tip O’Neill, ‘’all politics is local’’.

Melalui dinamika dan hasil akhir pilkada, politik Indonesia akan terpotret sedemikian rupa. Keberadaan dan kiprah pemimpin politik formal di pemerintahan lokal usai pilkada pun, tidak luput dari pengamatan yang luas. Walaupun tidak banyak, ada satu dua pemimpin lokal yang potensial dilejitkan ke tingkat nasional.

Keterpilihan Joko Widodo, mantan wali kota Surakarta dan gubernur DKI Jakarta menjadi presiden misalnya, memberi nilai tambah tersendiri terhadap potensi kepemimpinan lokal kita. Berbasis konstitusi dan perundangundangan di bawahnya, pemilihan gubernur/ wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan wali kota/wakil wali kota, melibatkan peran penting parpol dan masyarakat.

Parpol memiliki posisi penting dalam pencalonan kandidat, meskipun dimungkinkan lewat jalur perseorangan atau independen. Kendatipun demikian, sebagian besar kandidat maju lewat jalur parpol, baik diajukan partai pengusung sendiri maupun koalisi. Karena itulah, penting mencermati perkembangan parpol dewasa ini.

 

Kandidat Berkualitas

Secara umum sistem kepartaian di Indonesia tak dapat dilepaskan dari eksistensi kepengurusan di pusat. Solid tidaknya kepengurusan pusat parpol dapat berpengaruh pada pilkada. Bila rezim pilkada serentak identik dengan pemilu nasional, eksistensi dan peran maka kepengurusan parpol dari pusat sangat menentukan.

Peta pergulatan politik lokal dalam pilkada, tidak bisa berdiri sendiri karena juga ditentukan oleh kesiapan parpol-parpol pengusungnya, baik di tataran kepengurusan pusat (DPP), tingkat provinsi, kabupaten/kota maupun peran wakil rakyat dari partai pengusung, baik di DPR maupun DPRD tingkat I dan tingkat II.

 

Dalam kaitan inilah, kita melihat hubungan tidak langsung antara kedewasaan parpol dalam memperkuat soliditas dan kelembagaannya. Karena itulah, realitas konflik di parpol, merupakan tantangan, tidak saja bagi masa depan parpol itu, tetapi juga dalam konteks masa depan kepemimpinan lokal.

Parpol memiliki tanggung jawab besar menghadirkan kandidat-kandidat berkualitas, karenanya parpol harus kuat dan berfungsi penuh di samping para kandidat itu. Terlebih lagi kandidat yang merupakan kader partai dan bukan dari struktur partai.

Dalam kerangka itulah, parpol yang berkonflik perlu berkaca diri dan berikhtiar untuk kembali bersatu. Syaratnya, para elite bersedia menurunkan ego politik masing-masing sehingga tercipta sinergi politik yang lebih kuat.

Pilkada bukan saja berpengaruh bagi masa depan sebuah parpol melainkan juga kepemimpinan lokal di masa depan. Sekaligus ajang pembuktian sejauh mana parpol-parpol eksis dan berperan menggulirkan kepemimpinan lokal. Yang tak mampu menata diri dan mengajukan kandidat terbaiknya, akan kehilangan momentum. Untuk itu, pilkada sebagai momentum harus diikhtiarkan oleh semua parpol pada tiap tingkatan.

Elite parpol seyogianya menyadari bahwa pilkada bukan sekadar terkait dengan kepentingan parpol melainkan juga keterlibatan rakyat dalam sebuah pesta demokrasi. Terlepas menang atau kalah dalam kontestasi itu, semua pihak yang terlibat harus bisa menunjukkan bahwa mereka telah menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi demokrasi. (10)

* Wisnu Suhardono - mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial Universitas Diponegoro

Sumber : http://berita.suaramerdeka.com

BERITA ACARA
RAPAT KOORDINASI DPD PARTAI GOLKAR PROVINSI JAWA TENGAH
BERSAMA DPD PARTAI GOLKAR KAB/KOTA SE JATENG



Pada hari ini Rabu tanggal 20 Mei 2015 Jam 12.00 – 14.00 WIB, DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah mengadakan Rapat Koordinasi DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah bersama DPD Partai Golkar Kab/Kota Se Jawa Tengah bertempat di Kantor DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah Jalan Kyai Saleh Nomor 1 Semarang. Rapat dipimpin oleh Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah Bapak Wisnu Suhardono.
Agenda rapat adalah membahas situasi internal Partai Golkar pasca Keputusan PTUN Jakarta Nomor : 62/G/2015/PTUN-JKT,  yang telah memutus sengketa Kepengurusan DPP Partai Golkar.


Setelah mendengar masukan, pendapat  dan saran peserta rapat, maka disimpulkan sebagai berikut :
1.    Kepengurusan yang sah sebagaima telah diputuskan oleh PTUN Jakarta adalah DPP hasil Munas Pekanbaru Riau, berdasarkan SK Menkumham yakni Aburizal Bakrie merupakan Ketua Umum DPP Partai Golkar dan Agung Laksono menjabat sebagai Wakil Ketua Umum. Sedangkan, posisi Sekretaris Jenderal dijabat oleh Idrus Marham.


2.    Dengan mendasarkan hasil keputusan tersebut, DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah dan DPD Partai Golkar Kab/Kota se Jawa Tengah akan tunduk, patuh dan loyal terhadap DPP Partai Golkar sebagaimana Hasil Keputusan PTUN Jakarta dimaksud.


3.    Keputusan PTUN merupakan momentum yang baik bagi  partai golkar menyatukan segala kekuatan bagi seluruh keluarga besar partai Golkar. Karena dengan diakuinya hasil Munas Riau sesungguhnya merupakan wahana Islah bagi semua pihak yang bersengketa.


4.    Berkenaan dengan pelaksanaan Pilkada Kab/Kota tahun 2015, agar DPD Partai Golkar Kab/Kota mempersiapkan segala langkah-langkah politik dan membangun komunikasi serta sosialisasi kepada seluruh pihak terkait dalam rangka kesuksesan Partai Golkar dalam pilkada tersebut.
Demikian berita acara ini dibuat sebagai kesimpulan rapat.


Semarang, 20 Mei 2015
DEWAN PIMPINAN DAERAH PARTAI GOLKAR
PROVINSI JAWA TENGAH
Ketua,
WISNU SUHARDONO

Wakil Sekretaris,
FERRY WAWAN CAHYONO