50 Tahun Golkar: Pengabdian Tiada Akhir

Pidato HUT ke-50 Partai Golkar. Jakarta, 28 Oktober 2014

 

Pertama-tama, saya ingin mengajak kita semua untuk memanjatkan puji dan syukur kepada Allah yang Mahabesar. Hanya atas berkahnyalah kita dapat berkumpul pada malam yang penuh rahmat ini. Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran saudara-saudara semua untuk merayakan 50 Tahun lahirnya Golongan Karya, serta untuk memperingati peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda yang dimotori oleh para pendiri bangsa kita 86 tahun yang silam.

 

Secara khusus, saya ingin mengucapkan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kehadiran Bapak Jusuf Kalla pada malam yang berbahagia ini. Di tengah kesibukan mempersiapkan dan memimpin pemerintahan yang baru terbentuk, beliau masih menyempatkan diri untuk hadir bersama kita. Inilah sebuah tanda persahabatan, sebuah gesture untuk bahu membahu dalam membangun Indonesia. Oleh karena itu,  kepada seluruh kader dan pimpinan Partai Golkar yang berada di ruangan ini, marilah sekali lagi kita memberikan applause yang meriah kepada Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia.

 

Pada kesempatan ini pula, saya ingin mengucapkan selamat bekerja kepada segenap menteri anggota kabinet yang baru dilantik kemarin. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berdiri di garis terdepan, membantu Presiden dalam mewujudkan sebuah tekad untuk membangun negeri yang kita cintai ini.

 

Terus terang, saya turut merasa senang bahwa nama kabinet baru ini adalah “Kabinet Kerja,” sebab maknanya tidak jauh berbeda dengan makna “golongan karya”. Kerja yang baik akan menjadi sebuah karya, dan karya yang positif pasti akan didukung sepenuhnya oleh Partai Golongan Karya. Oleh karena itu, walaupun kader-kader kami tidak berada dalam Kabinet Kerja, namun karena semangatnya sama, dan tekadnya juga pasti sama untuk membangun Indonesia, maka Partai Golkar akan selalu mengulurkan tangan, serta manakala dibutuhkan, akan siap menawarkan solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada.

 

Apalagi, seperti yang disampaikan Bapak Presiden dalam pidato pelantikan di Senayan seminggu lalu, pemerintahan eksekutif yang beliau pimpin akan berusaha mewujudkan ajaran Trisakti dari Bung Karno, yaitu negara yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, serta berkepribadian secara budaya. Bung Karno adalah Sang Proklamator yang menjadi milik semua partai dan golongan. Ajaran dan cita-cita beliau adalah juga cita-cita kita bersama, sebuah cita-cita mulia yang tak akan lekang oleh zaman.

 

Oleh karena itulah, saya yakin bahwa bukan hanya Partai Golkar, tetapi juga seluruh kekuatan besar yang berada dalam barisan Koalisi Merah Putih akan mendukung sepenuh hati upaya Bapak Presiden dalam mewujudkan ajaran Trisakti secara tepat dan konsisten.

 

Demikian pula, kami semua bersyukur bahwa Bapak Presiden bertekad untuk menghidupkan kembali gagasan negara maritim sebagai konsep pembangunan yang utama. Laut bukanlah pemisah, namun pemersatu gugusan kepulauan di Nusantara. Sejak masa perjuangan kebangsaan di awal abad ke-20, kaum intelektual, pemikir dan sastrawan, seperti Sutan Takdir Alihsjabana, telah menyerukan bahwa gelombang samudera dan horizon di laut lepas adalah panggilan bagi sebuah bangsa yang ingin menjadi bangsa besar gilang gemilang. Laut bukanlah masa lalu, namun merupakan  masa depan kita, dan karenanya perlu dikelola dengan penuh kesungguhan.

 

Bung Karno pernah berkata, bahwa “dari Sabang sampai Merauke” bukanlah untaian empat kata semata, namun merupakan kesatuan administratif, politik, kesatuan kebudayaan, dan yang lebih penting lagi, kesatuan semangat dan cita-cita dari selurun anak bangsa untuk menyongsong masa depan yang cerah.

 

Tentu saja, merumuskan arah baru, mewujudkan sebuah konsep besar, serta memimpin 250 juta manusia Indonesia yang begitu beragam tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tapi insya Allah, karena begitu besarnya harapan rakyat, serta berkat doa dan dukungan kita semua, pemerintahan yang dipimpin oleh Bapak Jokowi insyaAllah akan mengukir sukses di masa-masa mendatang.

 

Semua Presiden Indonesia telah memberikan dedikasi serta kontribusi yang positif. Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati, dan Pak SBY: mereka semua adalah putra dan putri terbaik bangsa kita, tokoh-tokoh sejarah yang telah berbakti dan mengukir legacies yang akan terus kita kenang dengan penuh rasa syukur. Saya dan seluruh kader Partai Golkar yakin bahwa pada waktunya nanti, Insya Allah Pak Jokowi juga akan mengukir prestasi besar dan menjadi pemimpin kebanggaan kita semua.

 

Para pelaut Bugis sering berkata: layarku sudah terkembang, lebih baik tenggelam  daripada aku surut kembali. Pak Jokowi sekarang adalah nahkoda Indonesia. Kita berlayar bersama, mengarungi gelombang, menantang angin, untuk mencapai pelabuhan idaman. Your success is our success, keberhasilan Sang Nahkoda adalah keberhasilan kita semua. Selamat bekerja dan semoga sukses, Bapak Presiden. Insya Allah, perjalanan bangsa Indonesia akan direstui oleh Tuhan yang Maha-pengasih dan penyayang.

 

Bapak Wakil Presiden yang saya hormati

 

Hadirin yang saya muliakan

 

Golongan Karya kini telah berusia 50 tahun, setengah abad, sebuah usia yang sudah cukup matang.  Sejak awal era reformasi, Golkar telah melakukan metamorfosis menjadi sebuah partai politik, dan saat ini dapat dikatakan bahwa Golkar adalah partai politik paling senior di Indonesia.

 

Pada kesempatan ulang tahun emas yang berbahagia ini, dengan besar hati saya ingin menyampaikan bahwa Partai Golkar memberikan anugrah dan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang telah memberikan dharma baktinya, bukan hanya buat Partai Golkar, tetapi lebih luas lagi, yaitu kepada negeri kita tercinta. Mereka adalah almarhum Jendral  Ahmad Yani, almarhum Hamengkubuwono IX, almarhum Wahono dan almarhum Haji Mochamad Said. Kami juga memberikan penghargaan kepada Mayjen Purnawiranan Amin Syam, mantan Ketua DPD Tingkat 1, Sulsel, serta seorang rekan anggota DPR RI yang belakangan ini sangat populer di media massa, yaitu Ibu Popong Otje Djundjunan.

 

Kepada tokoh-tokoh tersebut, atau kepada keluarga yang mewakili mereka, Partai Golkar menghaturkan apresiasi yang setinggi-tingginya.

 

Dalam pasang dan surut, Partai Golkar telah mengawal Republik  Indonesia. Kami bersyukur bahwa betapapun terbatasnya, partai kami telah memberikan kontribusi positif, baik dalam mempertahankan pancasila sbg dasar dan ideologi negara,menjaga integrasi bangsa, membangun ekonomi dan manusia indonesia,maupun dalam menciptakan stabilitas politik serta mewujudkan kesejahteraan rakyat.

 

Dengan usia yang semakin matang, kami bertekad untuk berusaha lebih baik lagi, berkembang bersama perkembangan zaman, tanpa meninggalkan warisan mulia yang menjadi jati diri kebangsaan kita, khususnya Pancasila, NKRI, UUD 45, serta semangat Bhineka Tunggal Ika.

 

Ulang tahun Golkar sebenarnya jatuh pada  20 Oktober yang lalu, tepat pada saat pelantikan Bpk Presiden dan Wakil presiden. Tetapi sengaja peringatan ulang tahun ke-50 ini kami adakan hari ini, pada tanggal 28 Oktober. Dengan ini Partai Golkar ingin mengajak semua pihak untuk tidak pernah melupakan sebuah peristiwa besar pada 28 Oktober 1928, yaitu Sumpah Pemuda. Pada saat itulah bangsa Indonesia bertekad untuk menyatu dalam satu payung kebangsaan, dengan satu bahasa nasional. Peristiwa tersebut adalah perwujudan lebih lanjut dari bangkitnya gerakan kebangsaan yang lahir 20 tahun sebelumnya, yang diawali dengan pembentukan organisasi Budi Oetomo. Kedua peristiwa sejarah inilah yang memungkinkan tercapainya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

 

Dengan menyinggung semua itu, Partai Golkar ingin mengingatkan bahwa perjalanan bangsa Indonesia kini telah cukup jauh dan secara bersama-sama kita harus memastikan bahwa Indonesia harus  berkembang menuju arah yang benar, yaitu kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila. Kita pun harus meyakini, bahwa seperti apapun besarnya tantangan yang kelak kita hadapi, warisan sejarah adalah kekayaan kita, sumber inspirasi manakala kita berhadapan dengan pilihan-pilihan yang sulit.

 

Demokrasi Indonesia harus terus diperkuat, dan kita bangga bahwa Indonesia adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, di mana demokrasi, Islam dan modernitas hidup berdampingan secara damai. Kita juga bangga dan bersyukur bahwa kemajemukan dan perbedaan yang ada di masyarakat Indonesia bukanlah sumber pemecah belah, namun justru menjadi sumber kekayaan dan kelenturan kultural kita.

 

Lewat dua pemilu besar beberapa bulan yang silam, sekali lagi kita membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah tumbuh semakin arif dan dewasa. Dengan segala kekurangannya,pemilu kita adalah salah satu pemilu yang paling kompleks di dunia, namun kita berhasil melewati semua tahapnya, dan kini secara fair dan konsisten kita menerima dan mensyukuri hasil-hasilnya. Tentu saja, dalam proses besar dan kompleks ini, terjadi berbagai dinamika yang terkadang cukup tajam dan menggetarkan hati. Namun semua ini bukanlah merupakan isyarat perpecahan atau kehancuran, namun justru merupakan pertanda besarnya semangat, passion, dan keterlibatan perasaan kita dalam sebuah partisipasi politik bersama.

 

Itulah tanda bahwa demokrasi Indonesia melangkah semakin maju. Setelah pemilu selesai, tidak ada lagi menang dan kalah. Era kompetisi sudah berlalu. Pemenangnya hanya satu, yaitu seluruh bangsa dan rakyat Indonesia.

 

Indonesia telah menjadi sebuah model perkembangan positif di negara-negara yang sedang berkembang. Dunia melihat Indonesia, dan yang mereka saksikan adalah sebuah perkembangan yang mengagumkan, sebuah negeri besar dengan pluralitas yang begitu penuh warna, tetapi terus bergerak menjaga keterbukaan, kebebasan, persahabatan, serta senantiasa berusaha mewujudkan tingkat kesejahteraan yang semakin tinggi bagi seluruh rakyatnya.

 

Dengan semua itulah kita menjadikan Sumpah Pemuda dan perjuangan kebangsaan di masa lalu menjadi perwujudan yang nyata di masyarakat. Sejarah menjadi nilai yang kita wujudkan pada hari ini, dan masa depan menjadi pelita harapan yang memotivasi kita untuk bekerja lebih baik lagi.

 

Bapak Wakil Presiden yang saya hormati

 

Hadirin yang saya muliakan

 

Dalam usianya yang setengah abad, Partai Golkar bertekad untuk menjadi kekuatan politik yang semakin konstruktif bagi semua pihak. Kami sepakat bahwa demokrasi yang sehat menghendaki peranan penyeimbangan di parlemen, bukan peranan oposisi yang asal-berbeda atau asal-menentang. Eksekutif dan legislatif: kedua lembaga ini harus menjalankan perannya masing-masing, saling mengontrol, saling mendorong dalam pencapaian kemajuan bersama.

 

Partai Golkar kini memasuki sebuah fase baru, di mana konsentrasi peranan kami akan lebih banyak bertumpu di lembaga legislatif dan lembaga non-pemerintahan lainnya. Bersama rekan-rekan di Koalisi Merah Putih, Kami akan memainkan peranan sebagai seorang sahabat yang loyal dan terbuka, mendorong kehidupan parlemen yang dinamis dan bertanggung jawab. Dengan koalisi yang semakin solid, Partai Golkar mendukung kerjasama partai ke dalam dua atau tiga tenda besar, sehingga pada ujungnya terjadi penyederhaan kehidupan politik secara sehat dan alamiah, dan pada gilirannya hal ini juga memperkuat sistem presidensial di negeri kita.

 

Terhadap pemerintah sebagai eksekutif, kami akan terus mengulurkan tangan dan membesarkan hati. Tetapi sahabat yang sejati tidak akan mengatakan hal-hal yang baik saja. Sahabat yang loyal tidak akan menjadi yes-men, hanya memuji dan hanya mengatakan hal-hal yang menyenangkan saja.

 

Karena itu, manakala diperlukan, dari waktu ke waktu Partai Golkar akan mengingatkan dan bersikap kritis. Partai Golkar juga akan selalu menyiapkan solusi alternatif, agar sikap kritis kami tidak menjadi sekadar ungkapan perbedaan, tetapi lebih merupakan ajakan untuk mencari penyelesaian sebuah masalah.

 

Itulah sikap dasar Partai Golkar. Kami akan terus menjaga keseimbangan politik yang dinamis. Partai Golkar tidak akan meminta, tetapi akan terus memberi kontribusi positif pada sahabat-sahabat kami. Partai Golkar tidak akan mempertajam perbedaan, tetapi justru akan terus mencari persamaan dengan partai dan kekuatan politik lainnya demi mewujudkan mimpi menjadikan Indonesia sebagai sebuah negeri maju, sebuah negeri besar yang membanggakan kita semua.

 

Akhirnya, perkenankanlah saya, mewakili segenap kader dan pimpinan Partai Golkar, untuk sekali lagi mengucapkan apresiasi dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh hadirin. Semoga kita semua memperoleh rahmat dari Allah yang Maha Pemurah dan semoga bangsa Indonesia terus bertahan mengarungi perjalanan zaman.

 

Sebagai penutup, sebagaimana yang menjadi tradisi di Partai Golkar, perkenankanlah saya menutup pidato ini dengan membacakan tiga bait pantun:

 

Aku di sini kau di sana

 

Bergoyang lenso senang sendiri

 

Tapi kita bisa jalan bersama

 

Berjabat tangan membangun negeri

 

 

Pakai batik pakai kebaya

 

Berwarna-warni menarik bergaya

 

Alangkah indah langit Jakarta

 

Kalau gaya memang menghasilkan karya

 

 

Selendang kuning meliuk dan menari

 

Gadis manis menghibur hati

 

Partai Golkar kawan sejati

 

Selamat bekerja Presiden Jokowi

 

Dirgahayu Partai Golkar

 

Maju terus negeriku

 

Maju terus Indonesia tercinta

 

Wabillahi taufiq walhidayah

 

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

 

Sumber : http://icalbakrie.com