Partai Golkar, Bersatu Kita Teguh


Oleh Aburizal Bakrie




Tahun ini Golkar berusia lebih setengah abad, sebuah usia yang matang dan menjadikan partai politik tertua di Indonesia. Tua dalam usia, tetapi terus muda dalam semangat dan gairah kehidupan.

Dalam sejarah Indonesia, Golkar sebagai kekuatan politik pernah mengalami periode pasang dan surut, juga periode pertentangan internal yang tajam. Namun karena kekuatan dan pengaruh Pak Harto yang didukung penuh oleh TNI, konflik dan perbedaan internal Golkar tidak pernah mencuat ke permukaan.

Kondisi internal partai yang terbelah dalam setahun terakhir merupakan salah satu masa tersulit yang dihadapi Partai Golkar. Apalagi, di zaman keterbukaan sekarang ini, friksi internal Golkar menjadi objek pemberitaan yang menarik, dan mungkin telah menjadi alat tarik-menarik dari kekuatan politik di luar Golkar.

Patut disyukuri, setelah prahara yang cukup panjang dan meletihkan, mulai terlihat cahaya penyelesaian dan sebuah solusi permanen. Untuk menyongsong pilkada serentak dan mendukung kader-kader Golkar di berbagai daerah, Kubu Munas Bali dan Kubu Munas Ancol sepakat untuk bekerja sama dan melupakan perbedaan yang ada. Alhamdulliah, kerja sama ini berjalan lancar, dan kader-kader Golkar akan merebut sukses pilkada di banyak daerah.

Selain itu, proses hukum juga sudah mendekati keputusan akhir yang mengikat. Yang membanggakan, dalam situasi konflik setajam apa pun, kita sepakat untuk menjunjung tinggi proses hukum.

Itulah cermin kematangan dan kedewasaan berpolitik. Bahwa setelah ketukan palu terakhir nanti, setelah keputusan hakim menjadi paripurna, tidak akan ada lagi kalah dan menang. Kedua kubu akan saling mengulurkan tangan. Pihak yang kalah akan memberi selamat; pihak yang menang akan merangkul dan membesarkan hati. Semuanya akan kembali lagi dalam semangat persahabatan yang akrab di bawah naungan pohon beringin yang teduh.

Kita akan berjalan bersama, menatap ke depan tanpa dendam dan kegetiran. Tugas besar sudah menunggu. Kita akan membesarkan serta mempersiapkan kembalinya kejayaan Partai Golkar yang kita cintai ini. Kader-kader partai harus siap berdamai dan bersatu kembali, bekerja keras dan merebut kembali kejayaan Partai Golkar.

Setengah abad silam, Golkar lahir dengan semangat untuk menjadi alternatif baru, menyusun trace baru, mengatasi konflik ideologi yang saat itu membawa Indonesia ke jalan buntu, kemiskinan massal, dan bahaya disintegrasi. Golkar menawarkan karya dan kerja nyata, bukan retorika ideologis yang kaku dan membeku dalam zaman lalu.

Golkar lahir dengan tekad menjaga semangat toleransi dan pluralisme Indonesia, meningkatkan kesejahteraan buat semua, lewat pembangunan ekonomi dan stabilitas politik yang kokoh.

Saat ini, zaman memang telah berubah. Tetapi, semangat dan cita-cita dasar kelahiran Golkar justru semakin relevan. Tantangan terbesar kita sekarang adalah menerjemahkan semangat tersebut dalam masyarakat yang terus berubah, dalam konteks baru yang semakin modern dan semakin demokratis.

Bersama kekuatan-kekuatan politik lainnya, Golkar bertekad membawa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang lebih optimistis dalam menatap masa depan. Karena itulah, Partai Golkar menghimbau kepada semua elemen bangsa agar terus menerus memperbaharui tekad dalam melangkah bersama mencapai kemajuan Indonesia. Perbedaan dan konflik akan terus ada. Demikian pula kepentingan kelompok yang beragam.

Namun ada kalanya, kepentingan yang partikular harus di tempatkan untuk menjunjung kepentingan yang lebih besar. Manakala pertaruhannya adalah kepentingan bangsa, maka tidak boleh ada kuning, merah, biru, hijau atau warna lainnya. Yang ada hanyalah Merah Putih yang gagah dan berkibar di langit luas.

Dalam satu generasi, Indonesia harus mampu membuat lompatan besar. Kalau China, Singapore, Korea Selatan mampu, pasti kita juga bisa. Saya yakin, Indonesia sanggup untuk menjadi negeri yang lebih baik lagi menjadi sebuah negeri yang kuat jiwa dan raganya, menjadi sebuah negeri yang ulet serta adaptif terhadap perkembangan zaman, menjadi sebuah negeri yang terbuka tetapi tetap mempertahankan ke-Indonesia-an yang hakiki.

Pada kesempatan ini, perlu kita ingatkan bahwa perjalanan kita ke depan tidak akan semakin mudah. Situasi perekonomian dunia masih berjalan di tempat, sementara kondisi perekonomian domestik, dalam berbagai indikator terbaru, menunjukkan perkembangan yang mulai menuju pada lampu kuning. Saya adalah seseorang yang selalu optimis, namun sebagai mantan pengusaha, saya mulai merasakan suasana kecemasan di dunia bisnis.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia harus segera merapatkan barisan. Untuk mengatasi masalah, fokus harus tajam, langkah kebijakan harus cepat dan tangkas, sambil terus mencari peluang-peluang baru untuk mendorong investasi, membuka lapangan kerja, membangun infrastruktur, dan sebagainya. ***

Di tengah situasi global yang kurang menguntungkan dan situasi ekonomi nasional yang tampaknya mengarah ke lampu kuning seperti sekarang ini, jangan menambah kesulitan dengan saling menyalahkan, saling menyudutkan, atau bermain politik demi kekuasaan itu sendiri.

Seluruh lembaga politik yang ada, baik eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun lembaga-lembaga ekstra seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM), pers, dan kelompok masyarakat sipil, harus menyadari bahwa konflik dan permainan politik sekarang harus diminimalkan. Kaum elite Indonesia jangan terlalu banyak bermain da­lam konflik, saling mendorong dan me­nyudutkan yang lain.

Kita harus mengembalikan ke­kuasaan dan panggung publik ke fitrahnya yang sejati, yaitu alat un­tuk mengatur kehidupan bersama yang lebih baik, lebih toleran, sekaligus lebih maju dan produktif. Kita jangan menjadi bangsa yang cerewet pada isu yang bersifat remeh temeh, namun lupa bahwa persoalan terbesar kita adalah melenyapkan ke­mis­kinan, membangun sekolah, rumah sakit modern, dan semacamnya.

Itulah tantangan terbesar kita sa­at ini. Kita harus berdamai de­ngan diri kita sendiri. Hanya dengan bersatu, saling membesarkan, saling menghargai, saling mem­bantu, ma­ka In­donesia dapat mengatasi saat-saat yang sulit ini serta me­lang­­kah untuk me­raih masa depan yang lebih baik lagi.

Di kalangan ka­um pemikir dikenal ung­kapan, to rule is easy, to govern difficult. Berkuasa me-mang mudah. Tetapi me­merintah, meng­atur, apalagi memim­pin bukanlah pekerja­an yang gampang. Di­butuhkan dedikasi, ker­­ja sama, serta ke­be­ranian untuk ber­tindak manakala di­per­­lukan.

Tanpa bermaksud menggurui, itulah pe­san yang ingin disampaikan Partai Golkar kepada Presiden Jokowi dan segenap anggota kabinet beliau. Pe­me­rin­tahan eksekutif ada­lah sebuah tim kerja, melangkah se­irama de­ngan loyalitas yang tegak lu­rus pada satu pimpinan, yaitu Pre­siden RI. Seluruh bangsa Indonesia berharap bahwa tim kerja ini akan meraih sukses besar dalam membangun negeri kita.

Sukses ini hanya bisa dicapai ji­ka terjadi kesatuan langkah, yang diiringi oleh pernyataan-pernyataan para penyelenggara negara yang se­arah, kompak, dan konstruktif. Ka­rena itulah, kami sangat mendu­kung instruksi Presiden Jokowi ke­pada anggota-anggota kabinetnya un­tuk menerapkan prinsip kerja sama dan kekompakan demikian.

Partai Golkar akan terus menjaga posisi sebagai mitra yang loyal. Kerja sama dengan kawan-kawan di ku­bu KMP (Koalisi Me­­rah Putih) adalah koa­­lisi dalam ke­baik­an, bukan untuk men­­­jegal atau meng­ham­bat lang­kah-lang­kah pemerintah.

Bersama kekuatan yang ada dalam KMP, posisi Partai Golkar terhadap pemerintah adalah posisi seorang sahabat yang berada di seberang jalan. Dan, sebagaimana sa­habat yang baik, Gol­kar akan selalu meng­ulurkan tangan, serta membesarkan hati pada hari-hari yang sulit.

Tetapi, seorang sa­ha­bat sejati bu­kan ha­nya memberikan pu­­jian. Nothing is more dangerous than a friend who says only the good news. ‘Tidak ada hal yang lebih berbahaya dari pada seorang te­man yang kerjanya ha­nya memuji dan me­nga­takan hal-hal yang baik saja.’ Golkar akan mengingatkan, memberi evaluasi objek­tif dan catatan kritis, serta me­nawarkan solusi alternatif mana­kala diperlukan. Golkar akan me­nyua­ra­kan hal-hal yang perlu dide­ngar­kan, be­tapapun pahitnya, bu­kan hanya hal-hal yang selalu me­nyenangkan ha­ti dan enak didengar­kan di telinga kita.

Itulah sahabat sejati. Terhadap pe­merintah, Golkar akan selalu ber­sikap konstruktif. Bersahabat, loyal, tetapi tetap objektif, kritis dan independen, sehingga spektrum suara rak­yat benar-benar terwakili dalam se­tiap elemennya.

Golkar tidak akan pernah me­minta. Golkar akan memberi, bukan me­nuntut. Golkar tidak akan pernah mencari keuntungan dari ne­ga­ra. Justru sebaliknya, Golkar akan terus berupaya memberi kontribusi, memberikan dharma bakti pada ne­ga­ra.  Itulah sikap dasar Partai Gol­­kar dalam mengarungi masa-ma­sa sulit saat ini.

Selanjutnya, perkenankanlah saya mengingatkan kembali sebuah ungkapan klasik yang pernah disampaikan oleh John F Ken­nedy, We do the campaign with poetry, but we govern with prose. ‘Ki­ta melakukan kampanye dengan pui­si, tetapi kita memimpin peme­rintahan dengan prosa.’

Sejak pertengahan tahun lalu, pe­milu yang panjang telah berakhir. Era puisi dan janji telah berlalu. Pui­si harus berganti dengan prosa, janji ha­rus disusul oleh bukti nyata. Kini, ki­ta harus bekerja keras, berkeri­ngat, bergandengan tangan, mening­kat­kan kesejahteraan rakyat dari Sa­­­bang sampai Merauke.

Harapan begitu besar. Kita tidak bo­leh menyia-nyiakannya. Akan ada pasang dan surut. Akan ada beribu ke­sulitan. Tetapi, kita tidak pernah boleh patah semangat. Marilah kita melangkah bersama.

Sebagai penutup, saya ingin me­ne­ruskan tradisi retorika di Partai Gol­kar dengan membacakan dua bu­ah pantun:

Pantun pertama, pesan untuk in­ternal Partai Golkar:

Sudah tampak cahaya perdamaian

Agar Golkar tegak berdiri

Jangan menggunting dalam lipatan

Jangan menohok kawan sendiri

Pantun kedua, pesan untuk pemerintah:

Sudah setahun menunggu bukti

Dari kampanye beribu janji

Rindu menanti Presiden Jokowi

Sukses gemilang membangun negeri

Maju terus Partai Golkar. Maju te­rus negeriku. Maju terus Indo­ne­sia. ***

Penulis adalah Ketua Umum Partai Golkar.
Artikel ini diolah dari bahan pidato sambutan penulis dalam peringatan HUT ke-51 Partai Golkar di Jakarta, Kamis (26/11)

Sumber : harian suara karya