Mengurai Akar Golput

Oleh : Agung Priyambodo



Ada berita ”mencengangkan” baru-baru ini dengan judul ”Angka Golput Pemilu 2014 Diprediksi Turun 30%”. Dalam berita tersebut, peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI) Karyowo Wibowo memprediksi angka golput dalam Pileg 2014 turun tak kurang 30% dari Pemilu 2009 (SM, 15/6/13).

Menurut dia, ada dua pemicu utama kemunculan golput, yaitu pertama; faktor teknis semisal pada hari pemilihan warga yang punya hak pilih disibukkan urusan pribadi. Kedua; kejenuhan publik lantaran banyak wakil rakyat tak menepati janji, korupsi, juga terlibat skandal. Pada 28 Juni 2013 media massa kembali memberitakan kian tingginya angka golput. dalam berita itu August Mellaz, dari Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mengatakan tingkat penurunan partisipasi pemilih terlihat pada Pileg 1999, 2004, dan 2009. Pada Pemilu 1999 partisipasi pemilih 92,99%, 2004 turun jadi 84,07%, dan 2009 menjadi 70,99%.

Atas dasar itu Mellaz menegaskan bahwa tren partisipasi pemilih menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara pemilu dalam konteks merangsang peningkatan partisipasi pada Pemilu 2014 . Persoalan partisipasi sebetulnya merindukan upaya serius yang bukan hanya oleh KPU melainkan juga elemen lain, seperti pemerintah, organisasi masyarakat, bahkan peserta pemilu.

Fakta berikutnya senada dengan angka tinggi golput terkuak pada pilgub di 11 provinsi tahun 2012-2013, dengan tingkat partisipasi rata-rata pada kisaran angka 68,82%. Jumlah suara tidak sah mencapai 4,10%, dan jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya 31,18%. Sebelas provinsi itu yakni Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Papua, Jawa Barat, Sumatera Utara, Papua Barat, Aceh, Sulawesi Barat, Bangka Belitung, Banten, dan DKI Jakarta. Sumatera Utara memegang ”rekor” tertinggi pemilih yang tak menggunakan haknya yakni 51,42% atau setara dengan 5,29 juta pemilih terdaftar.

Golput merupakan fenomena alami, dalam arti selalu ada dalam tiap pemilu di negara mana pun. Hanya saja itu harus dibatasi oleh jumlah karena sejatinya golput baru disebut sehat jika pada kisaran 30%. Partisipasi politik mengandung arti keikutsertaan warga dalam berbagai proses politik, sejak pembuatan keputusan sampai penilaian keputusan. Pintu Partisipasi Pemilu sebagai salah satu bentuk nyata pesta politik merupakan implementasi dari salah satu ciri demokrasi, yaitu melibatkan rakyat secara langsung, mengikutsertakan mereka dalam menentukan arah dan kebijakan politik lima tahun ke depan.

Tapi menengok ke belakang, Pemilu 2009 misalnya, lantaran sedemikian banyak partai politik, masyarakat justru bingung. Selain itu, ada partai yang dinilai tidak lagi memiliki fungsi seperti diharapkan sehingga rakyat menjadi kurang termotivasi memainkan perannya sebagai pemilih atau cenderung menolak memilih. Seiring waktu berjalan, masalah golput kian merebak dan menjadi bahasan menarik media massa. Beberapa pihak cenderung mengkritik kinerja KPU, penyelenggara pemilu, terhadap realitas tingginya angka golput.

Padahal, banyak instrumen lain yang mendorong warga tidak menggunakan hak pilihnya. Sebut saja kurangnya kedekatan, baik kandidat maupun parpol, dengan masyarakat. Golput juga terjadi karena kejenuhan masyarakat terhadap sistem pemilu. Ada tingkah laku wakil rakyat yang dianggap keliru dan banyak kepala daerah tidak menunjukkan kinerja baik.

Akibatnya, masyarakat merasa kurang mendapatkan manfaat langsung dari pemilu itu. Tatkala meliput pemilu, saya mendengar langsung pernyataan warga bahwa mereka tidak mencoblos karena beberapa alasan. Ada yang menolak ke TPS karena jagonya tidak lolos, tidak kebagian kartu pemilih, bahkan ada yang mengatakan lebih penting bekerja untuk keluarga. Semua pihak berhadap dalam pemilu mendatang, angka partisipasi pemilih, minimal di Jateng, lebih meningkat lagi. Pasalnya, pintu partisipasi politik sebenarnya sudah terbuka lebar dan yang menjadi harapan kita bahwa pintu itu dapat dilewati oleh siapa pun. []

Ir H Agung Priyambodo SE, Ketua DPD Partai Golkar Kota Semarang


Sumber : Harian Suara Merdeka, 27 Juli 2013

 

Tetapkan Hatimu, Satukan Langkahmu

 

Sambutan Ir. H. ABURIZAL BAKRIE - Ketua Umum DPP Partai GOLKAR
Pembekalan Caleg dan Pengukuhan Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu (BKPP) Partai GOLKAR
Nusa Dua - Bali, 22-23 Juni 2013

 

Pertama-tama saya ingin mengajak kita semua untuk mengucapkan puji dan syukur kepada Allah yang Mahabesar. Hanya atas rahmatnya maka kita semua dapat mengikuti pertemuan di pulau Dewata yang indah ini.

Terlebih dahulu, saya ingin mengucapkan selamat kepada pasangan PASTI-KERTA atas kemenangan Pilkada Bali yang baru saja disahkan oleh Mahkamah Konstitusi. Pertemuan kita malam ini seolah ditakdirkan untuk juga menjadi semacam perayaan bagi terpilihnya pasangan Pak Mangku Pastika dan Pak Sudikerta sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Bali.

Kita semua berharap agar dalam menjalankan kepemimpinan nantinya, Pak Mangku dan Pak Sudikerta dapat merangkul seluruh masyarakat Bali, tanpa terkecuali, termasuk mereka yang dalam Pilkada kemarin mendukung pasangan dari partai lain. Ajaklah seluruh masyarakat untuk bahu membahu membangun Pulau Dewata yang indah ini agar menjadi lebih maju lagi dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia di mata dunia.

Selanjutnya, secara khusus saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh kader, pimpinan Golkar dan pimpinan daerah, baik gubernur maupun bupati, serta begitu banyak caleg Partai Golkar dari berbagai daerah yang hadir pada malam hari ini. Saudara-saudara adalah kebanggaan Partai Beringin, ujung tombak kita yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.

Kepada para caleg kita, saya ingin berpesan bahwa saudara-saudara telah resmi menjadi calon peserta dalam Pemilu 2014 (tapi tolong diingat bahwa istilahnya masih DCS, ada kata “sementara” di dalamnya). Saya mengerti bahwa tata urutan nomor dan pembagian wilayah caleg tidak dapat memuaskan semua pihak. Saya ingin semua caleg mendapat nomor urutan satu, tetapi saya harus realistis dan mempertimbangkan banyak hal.

Daripada menjadi caleg nomor bagus tapi tanpa dapil, tentu lebih baik bertanding di sebuah dapil, walaupun dalam nomor urut yang mungkin belum sepenuhnya memuaskan perasaan masing-masing.

Karena itu, sebagai Ketua Umum, dari hati yang terdalam, saya memohon maaf atas kekurangan yang ada, serta berterima kasih sepenuhnya atas pengertian saudara-saudara semua.

Kepada mereka yang saat ini belum mendapat kesempatan untuk menjadi caleg, tetapi terus menunjukkan loyalitas dan dedikasi yang tinggi kepada Partai Golkar, termasuk dalam menjadi panitia pada acara di Bali ini, saya menghaturkan beribu terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Barangkali di situlah terletak salah satu kekuatan partai kita. Dedikasi dan loyalitas, yang diiringi oleh semangat kebersamaan serta perasaan kekeluargaan yang tinggi. Semua itulah yang menjelaskan mengapa Partai Golkar mampu terus bertahan dalam gelombang zaman, bagaikan pohon beringin yang kokoh diterpa angin.

Oleh karena itu, saya mengajak semua elemen partai, baik yang telah mendapat kehormatan menjadi caleg, maupun yang kali ini belum mendapat giliran, untuk melangkah bersama, mengangkat nama besar partai, serta mempersembahkan semuanya demi Tanah Air Indonesia tercinta.

Khusus kepada para caleg kita, saya ingin berpesan agar dalam masa kampanye nanti, esensi ke-Golkar-an tetap dijaga.

Kita semua mengerti bahwa kampanye nanti akan penuh dengan janji dan kembang kata-kata. Namun saya yakin bahwa caleg dari Partai Golkar bukanlah caleg yang suka mengumbar janji kosong. Caleg-caleg kita akan merebut kemenangan dengan komitmen yang jelas, dengan kesungguhan untuk memberikan hasil nyata pada kemajuan daerah masing-masing.

Selain itu, kepada semua caleg, saya juga ingin berpesan agar terus menjaga kebersamaan dan persahabatan. Saya paham bahwa dalam sistem pemilu kita, terkadang persaingan intra-partai lebih seru daripada kompetisi antar-partai. Namun saya ingin terus mengingatkan agar kita semua menjunjung kepentingan yang lebih besar, menjaga kehormatan partai, serta mengedepankan persahabatan di antara kita.

Karena itu, sekarang saya ingin bertanya langsung kepada saudara-saudara semua: Apakah kita siap bekerja keras? Apakah kita siap bekerja sama? Apakah kita siap untuk merebut kemenangan?

Dengan semakin mendekatnya Pemilu 2014, kita semua dituntut untuk semakin meneguhkan hati dan menetapkan langkah yang pasti.

Kompetisi dan kampanye selalu memiliki ritme dan iramanya sendiri, yang terkadang tidak sepenuhnya dapat dikontrol oleh orang per orang. Karena itu, dengan besar hati perlu saya kabarkan kepada saudara-saudara semua bahwa alhamdullillah, dengan semua tantangan, gejolak, serta persaingan antar-partai menjelang Pemilu 2014, Partai Golkar tetap solid dan mantap dalam posisi memimpin di tiga besar partai papan atas.

Tentu saja selalu ada dinamika, pasang surut dan hentakan-hentakan yang tak terduga. Kita lihat data-data terakhir bahwa Partai Demokrat rupanya sudah mulai melewati hari-harinya yang terburuk dan saat ini sedang berusaha bangkit dari keterpurukan.

Demikian pula, kita juga tahu bahwa PDIP di beberapa wilayah kelihatannya sedang mendapat angin dan mengalami peningkatan yang cukup berarti.

Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada sahabat-sahabat partai lainnya, semua dinamika dan tantangan tersebut, bagi Partai Golkar, justru disambut dengan tangan terbuka, kita maknakan sebagai dorongan bagi kita untuk semakin bekerja keras dalam merebut kepercayaan rakyat.

Bagi Partai Golkar, kemenangan yang paling manis adalah kemenangan yang dicapai lewat keringat dan kerja keras. Bagi kita, kemenangan yang paling penuh makna adalah kemenangan yang diraih lewat persaingan yang ketat dan mendebarkan.

Karena itu, saya yakin semua kader dan caleg Partai Golkar akan memberikan yang terbaik, memperlihatkan our finest hours, kualitas kita yang sebenar-benarnya sebagai partai yang paling berpengalaman, sebagai partai yang paling piawai dalam taktik dan strategi politik, serta sebagai partai yang paling mampu mengangkat kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Sekarang, saya mau bertanya sekali lagi kepada saudara-saudara semua: Betul kita akan bekerja sepenuh hati? Betul kita akan bekerja keras memajukan rakyat? Apakah saudara-saudara yakin kita akan menang?

Adapun mengenai Pemilu Presiden, perlu saya kabarkan juga bahwa terjadi beberapa perkembangan yang sangat menarik, termasuk munculnya satu per satu tokoh yang potensial menjadi kandidat presiden dalam pemilu tahun depan.

Saya dan seluruh elemen Partai Golkar tentu turut menyambut semua itu dengan tangan terbuka. Bahkan terus terang, saya merasa senang sebab saya tahu bahwa, seperti dalam permainan tenis atau sepakbola, bertambah lagi lawan tanding yang mumpuni, sehingga dijamin bahwa permainan dan pertandingan 2014 kelak akan seru, ketat, dan menarik, sehingga penonton pasti akan puas dan bertepuk tangan.

Saya berjanji untuk memberikan yang terbaik, meyakinkan seluruh rakyat bahwa Indonesia harus bergerak bersama, mencapai cita-cita kita bersama menjadi bangsa yang maju, damai, dan sejahtera.

Untuk itu semua, saya telah melakukan berbagai langkah. Memang dibutuhkan waktu dan proses, namun alhamdullillah, dengan besar hati saya laporkan bahwa hasilnya sudah mulai terasa.

Ia memang masih menunggu waktu untuk menjadi arus besar, namun dari survei yang ada, posisi Capres Partai Golkar secara konsisten berada dalam kelompok tiga besar capres papan atas. Bahkan di beberapa daerah strategis hasilnya sudah positif melampaui dugaan saya selama ini.

Dalam soal pemilu, ada sebuah ungkapan: don’t peak too early, too far from the election. Hati-hati jika mencapai puncak terlalu cepat, terlalu mudah, sementara pemilu masih cukup jauh.

Semua capres yang akan berlaga nantinya adalah putra dan putri terbaik Indonesia. Kita mendorong semua agar memberikan yang terbaik, berupaya menyapa dan merangkul rakyat dengan simpatik dan terhormat.

Jika ada di antara tokoh-tokoh terhormat ini yang sekarang dianggap sedang mencapai puncak, atau sekarang sedang mendapat angin, kita tentu memaknainya sebagai tantangan yang memacu kita untuk bekerja lebih giat lagi.

Kita upayakan agar momentum dan puncak pencapaian kandidat capres Partai Golkar justru terjadi pada saat yang tepat, dalam proses yang terukur, sehingga insya Allah kemenangan pada Pilpres akan kita raih dengan tuntas dan paripurna. Insya Allah.

Untuk itu semua, dari hati yang terdalam, saya memohon doa dan restu saudara-saudara semua, dan selain itu, tiada hentinya saya menyapa serta memohon doa dan restu dari seluruh rakyat Indonesia.

Langkah yang saya tempuh bukanlah untuk mengejar ambisi pribadi, tetapi sebuah upaya untuk memberikan kontribusi, betapa pun kecilnya, kepada kerja besar dalam memajukan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.

Insya Allah, jika dipercaya oleh rakyat dan diizinkan oleh Allah SWT, tugas saya yang terpenting adalah memimpin serta memastikan bahwa dalam satu generasi, Indonesia akan naik kelas menjadi sebuah negeri yang maju.

Kita harus memastikan bahwa anak dan cucu kita, serta generasi selanjutnya, akan menjadi warga dari sebuah negara maju: Republik Indonesia yang dihormati oleh semua bangsa – dihormati karena prestasinya, dihormati karena kemajuan dan kekuatannya.

Saat itulah, saya dapat membayangkan bahwa semua anak bangsa kita dari Sabang sampai Merauke akan dengan bangga, serta dengan kepala tegak, berkata bahwa I am proud to be an Indonesian, saya bangga menjadi bangsa Indonesia.

Satu generasi. Sebelum Indonesia berusia seabad. Sebelum Perayaan Proklamasi 17 Agustus 2045 — Mungkin saya, dan sebagian dari kita yang ada di ruangan ini, tidak akan ada lagi untuk melihat hari yang berbahagia dan membanggakan itu.

Tetapi adalah tugas saya, serta tugas kita semua, untuk memastikan, bahwa perayaan seabad proklamasi adalah sebuah perayaan penuh syukur dan kebanggaan dari sebuah bangsa yang berhasil mengukir pencapaian dan prestasi yang besar.

Kita siapkan fondasi, serta kita wariskan Indonesia yang siap untuk menyongsong datangnya kejayaan tersebut, sehingga generasi berikutnya kelak akan mengenang kita dengan penuh syukur dan rasa terima kasih yang dalam.

Dengan semua itulah maka berbagai langkah yang kita lakukan untuk memenangkan Pemilu 2014 menjadi penuh makna. Kita berjuang bukan hanya untuk kemenangan kita, tetapi untuk masa depan, untuk generasi muda, serta untuk kemenangan seluruh bangsa Indonesia.

Akhirnya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak, serta kepada teman-teman panitia penyelenggara acara ini, yang telah menunjukkan dedikasi yang tinggi kepada partai kita tercinta.

Sebagai pengantar kepulangan saudara-saudara semua ke daerah masing-masing, perkenankanlah saya membekali dengan oleh-oleh, yaitu tiga bait pantun:

Pulanglah kader pulanglah sahabat
Bangun daerah majukan rakyat
Doa beta mengiring di jalan
Teriring salam selamat jalan

Terkenang gadis di Pulau Dewata
Senyumnya manis melambai di pantai
Bulat sudah tekad di dada
Menangkan ARB majukan partai

Dengan Golkar kita berkarya
Upaya bersama tujuan mulia
Mari sahabat melangkah maju
Jaya negeriku jaya bangsaku

Demikianlah sambutan singkat ini. Maju terus Partai Golkar. Maju terus Indonesia tercinta.[]


Sumber : http://icalbakrie.com

Pendekar dari Lereng Pacitan

 

Lahir di wilayah gersang nan tandus membuat ia punya angan-angan besar untuk selalu menanam. Di sebuah wilayah di selatan Jawa Timur itu, ia terbiasa dengan transportasi yang teramat sulit.

Menempuh studi Sarjana Pendidikan di Institut Keguruan dan Ilmu pengetahuan (IKIP) Semarang, Sudijono Sastroatmodjo harus menempuh perjalanan jauh. Dari Pacitan ke Jawa Tengah, hanya ada dua pilihan, melewati jalur selatan dengan rute lebih panjang atau melewati rute sedeng dengan jarak tempuh lebih pendek namun harus melewati tanjakan curam di desa Sedeng. Bus besar tak mungkin lewat rute terakhir. Nyatanya transportasi tak jadi hambatan. Tahun 1981, ia lulus dari jurusan Hukum di lembaga pendidikan itu.

Zaman bergerak. Setelah kelulusan itu, Sudijono menjadi dosen di almamaternya. 12 tahun kemudian, ia menjabat sebagai Pembantu Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) di almamaternya. Setelah itu, pria yang pernah menduduki posisi Sekretaris Jenderal Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) itu berperan lebih saat menjadi Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan di fakultas yang sama. Ingin lebih mendalami bidang ilmu, Sudijono pun melanjutkan studi S2 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Telaten “merawat” mahasiswa berikut segala kegiatan dan organisasinya, suami dari Sri Hapsarining Rochyani ini menduduki kursi lebih tinggi. Jabatan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan diraihnya. Pada tahun 2005, Sudijono meraih doktor pada bidang Ilmu Hukum dari Universitas Diponegoro Semarang.

Tahun 2006, ayah dari Lina Mahardiani, Banjar Ranu Anditya, dan Haryono Jati Kawekas ini menjadi rektor. Semasa menjabat, ia banyak melakukan perubahan besar di internal kampus. Membenahi birokrasi, sistem informasi, hingga melengkapi sarana kampus. Walhasil, berbagai kemudahan ini pun seakan menjadi lecutan bagi segenap unsur kampus untuk berkarya dan berprestasi.

Tak berhenti di situ. Menjelang masa akhir jabatan di tahun 2010, ia memproklamasikan kampus Sekaran sebagai Universitas Konservasi. Ia punya angan besar bahwa kampus bukan hanya tempat berolah intelektualitas, namun juga tempat menjaga lingkungan serta hasil cipta, rasa, dan karsa manusia; kebudayaan. Deklarasi dan konsep kuat inilah yang nyatanya kembali menjadi rektor pada tahun 2010 hingga 2014.

Tidak butuh waktu lama, setelah diluncurkan, gaung konservasi begitu “cetar membahana”. Upaya menjaga kelestarian alam dilakukan dengan cara menanami kampus dengan berbagai tumbuhan. Perawatan dan pembiakannya pun bukan hanya dilakukan oleh petugas kebersihan. Mahasiswa juga diwajibkan untuk menanam dan menjaga tanaman. Gerakan menanam massal itu acap dilakukan di kampus hingga di luar wilayah. Rekam jejak penanaman oleh mahasiswa dipantau secara berkelanjutan.

Kampus Sekaran kian rimbun. Sudijono memang ingin mengembalikan kawasan Sekaran dan Kecamatan Gunungpati sebagai daerah resapan air dan penyangga untuk wilayah Semarang bawah. Tak puas menanam, berbagai wilayah resapan dibuat, seperti embung dan pemaksimalan hutan kampus. “Pak Rektor pernah memegang semua tanaman di kampus ini. Beliau sangat sayang pada tanaman,” kata Widi Widayat, Kepala Sub Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga.

Pemanfaatan dan pengolahan energi pun dibuat secara taktis. Pemanfaatan panas matahari untuk panel tenaga surya, pengurangan konsumsi listrik oleh alat-alat yang membutuhkan voltase besar, hingga kebijakan mengurangi pandingin ruangan di berbagai ruangan. Supaya tidak hanya pandai memanfaatkan tanpa adanya upaya untuk selalu berhemat.

Agar hemat energi, penggunaan kendaraan bermotor pun diminimalisir. Di kampus, Sudijono gemar berjalan kaki. Di antara deru kendaraan yang berseliweran, ia adalah pejalan kaki yang setia. Mobil dinas “hanya” diparkirkan di luar kampus. Jika tak berjalan, untuk menyingkat waktu tempuh ia biasa bersepeda.

Kegemaran itu membuat ia mengamati perilaku banyak orang di jalan raya. Mereka seakan makin individualistis ketika berkendara. Tak kenal satu sama lain, apalagi akrab bertegur-sapa. Meskipun sesekali ada sapaan, itu pun sepintas lalu karena mereka saling kebut dan tidak sabar untuk mencapai tempat tujuan. Sudijono gelisah.

Di akhir tahun 2012, melalui Badan Pengembang Konservasi ia memaparkan konsep tentang transportasi ramah lingkungan. Kendaraan bermotor tidak akan lagi masuk kampus, melainkan parkir rapi di beberapa parkir sentral. Berbagai sarana penunjang pun langsung dikebut. Mulai 2013, mahasiswa, dosen, dan karyawan masuk kampus dengan berjalan kaki, bersepeda, atau naik bus yang setiap saat berkeliling.

Bidang budaya pun tak luput dari pandangannya. Kegeraman akan abainya generasi masa kini pada hal yang seyogianya mereka jaga, menjadikan Sudijono mengarahkan kampus pada pelestarian budaya lokal. Melalui jargon konservasi budaya, berbagai program untuk senantiasa menjaga dan mengembangkan budaya luhur bangsa itu terintegrasi ke dalam jiwa Unnes yang Sehat, Unggul, dan Sejahtera (Sutera).

Wujudnya, setiap kali kegiatan di tingkat universitas, hampir-hampir tak bisa meninggalkan sajian kesenian tradisi. Jangan heran jika mendapati mahasiswa-dosen menabuh gamelan, mengalunkan gending-gending Jawa sebelum acara, hingga penari yang menyambut tamu resmi di kampus ini. Hal itu selaras pula dengan fasilitas dan sarana pendukung. Enam perangkat gemelan Jawa dan Bali telah diboyong masuk kampus. Dimanfaatkan oleh siapa pun yang ingin belajar dan ambil bagian. Bukan hal lain, semua itu bertujuan mengukuhkan kembali kebudayaan lokal untuk memperteguh karakter bangsa.

Delegasi kesenian pun kerap diberangkatkan, baik pada tataran nasional maupun internasional. Tahun 2012, Unnes memberangkatkan tim seni ke Prancis, Thailand, Singapura. Mereka berangkat sambil membawa misi kerja sama. Berupaya menggaungkan Universitas Konservasi di kancah internasional. Di dalam kampus, Forum Selasa Legen rutin menggelar diskusi budaya, sebulan sekali tiap malam Selasa Legi. Hari itu dipilih karena weton kampus ini. Tiap Kamis, segenap warga kampus pun dianjurkan untuk berbahasa Jawa. “Kemis, eling basa Jawane,” begitu ia sering menyerukan.

Sudijono bukan tipikal kacang lali lanjaran. Santer dengan konservasi, ia masih ingat daerah di mana ia dilahirkan yang sebagian besar berupa pegunungan kapur nan gersang itu. Kerja sama pun ia jalin dengan pemerintah setempat. Di sana, Sudijono mengajak Mendikbud untuk menanam. Bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Mukhlas Samani, dan Bupati Pacitan Indartarto, mereka menanam pohon di kompleks Pantai Teleng Ria Pacitan, 7 Januari 2012.

Bukan hanya menanam, setahun sebelumnya, Sudijono juga meneken kerja sama dalam hal pengelolaan sistem informasi dengan kabupaten Pacitan. Dia menyatakan, Unnes bersedia menyediakan Sistem Informasi Penyelenggaraan Administrasi Pemerintah dan Pengembangan Sistem Informasi Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. “Harapan ke depan, kerja sama ini mampu meningkatkan kinerja bidang adminsitrasi pemerintah dan hubungan kelembagaan antara Unnes dan Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam penyelenggaraan pemerintahan,” ujar Sudijono, setelah meneken MoU dengan Bupati Pacitan, 27 Juli 2011.

Gratiskan Kuliah

Memfasilitasi orang miskin berprestasi yang ingin berkuliah di perguruan tinggi, menjadi salah satu rencana besar Sudijono. Dari tahun ke tahun, ia selalu meminta jatah beasiswa lebih dari Kemdikbud. Tahun 2010, ketika Kementerian Pendidikan Nasional meluncurkan beasiswa full study Bidikmisi, Unnes mendapat jatah sebanyak 400. Ini adalah langkah awal dimulainya gerbrakan besar itu.

Tahun berikutnya, universitas eks-IKIP ini mendapat jatah 450. Tak lantas mengiyakan, Sudijono berpikir ulang. Ternyata presentase penerima beasiswa di kampus Sekaran masih sangat kecil. Untuk itu, ia meminta tambahan kuota 1.000 beasiswa lagi. Walhasil, sebanyak 1.450 mahasiswa duduk di bangku kuliah tanpa biaya serupiah pun. “Ini adalah amanat besar. Kuota tambahan ini justru diberikan ketika jatah untuk perguruan tinggi lain diturunkan,” ujarnya, Januari dua tahun lalu. Saat itu, menurutnya tak ada lagi yang harus ditunda-tunda. Apa yang ia sebut “amanat” adalah hal yang harus disegerakan.

Dengan pelaksanaan amanat yang sebenarnya tertuang dalam PP Nomor 66 Tahun 2010 itu, Unnes menjadi perguruan tinggi pertama yang memelopori dibebaskannya 20% dari keseluruhan mahasiswa yang diterima. Tahun 2012, hal itu dikukuhkan oleh Muri dihadapan Mendikbud M Nuh. Tak lantas goyah, dari tahun ke tahun lembaga pencetak tenaga kependidikan ini selalu konsisten mewujudkan amanat itu.

Dalam berbagai kesempatan, Sudijono selalu menjelaskan, memberikan bangku kuliah untuk orang yang miskin berprestasi adalah amanat yang tidak mungkin lagi ditunda. “Tidak ada kata untung-rugi saat melakukan hal itu, yang ada hanyalah untung dan untung,” tegasnya.

Kiprahnya sebagai pendekar bidang pendidikan, membuat Sudijono meraih berbagai penghargaan. Tahun 2012, ia memperoleh Damandiri Award. Oleh Yayasan Damandiri, Sudijono dianggap punya kepedulian, komitmen, inisiatif, dan inovatif dalam pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui pos pemberdayaan keluarga (posdaya). Memang, ia memaksimalkan mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan untuk memberdayakan masyarakat. Hal itu setelah sekian lama mahasiswa melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) berupaya mengentaskan buta aksara di wilayah Jawa Tengah. Posdaya menjadi pilihan untuk seantiasa memaksimalkan potensi di masing-masing wilayah sekaligus mengurangi angka pengangguran.

Pada tahun yang sama, upayanya untuk selalu menanam pun mendapat penghargaan dari Presiden RI. Pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional 2012, ia menerima penghargaan di kawasan hutan kompleks Bandara Soekarno Hatta.

Dua tahun sebelum itu, tepatnya 8 Juni 2010, presiden telah memberikan anugerah Kalpataru kepadanya. Bersama 11 orang yang dianggap berjasa dalam bidang lingkungan hidup, Sudijono meraih penghargaan dalam kategori penyelamat lingkungan.

Memimpin bukan halangan untuk tidak melakukan salah satu tugas utama seorang dosen, meneliti dan mengabdi. Di bidang pendidikan , penelitian yang telah dilakukannya adalah Peningkatan Kualitas Lulusan dan Efisiensi Penyelenggaraan Jenjang SLTA (2005), Model Pembinaan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (2005), Potret Kemiskinan dan Alternatif Penanggulangannya (2004), Studi Model Pengelolaan guru di Era Otonomi Daerah Dalam Rangka Peningkatan Mutu Pendidikan (2005), Penelitian Pengusaha Kecil yang Berbasis Sumber Daya Lokal (2006), dan Peningkatan Kualitas Lulusan dan Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan Jenjang SLTP di Kab. Pacitan (2004).

-Dhoni Zustiyantoro


Sumber : http://merengkuhsenja.wordpress.com

Visi 2045 untuk Kemajuan Indonesia



Salah satu persoalan yang menghambat kemajuan bangsa ini adalah  tidak adanya grand design atau blue print perencanaan jangka panjang atas pembangunan yang bersifat strategis dan visioner. Akibatnya, pembangunan nasional berjalan tanpa roh dan panduan yang jelas, serta cenderung pragmatis dan berorientasi jangka pendek.

Kita semua tahu, di Era Reformasi sistem politik ketatanegaraan kita berubah secara mendasar. Salah satunya dihapusnya kewenangan MPR untuk  menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dengan tidak adanya GBHN ini maka pelaksanaan pembangunan nasional hanya didasarkan pada visi dan misi Presiden terpilih. Ini yang kemudian dijadikan dasar bagi penyusunan Rencana Kerja Pembangunan (RKP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dalam suatu undang-undang.

Tentu saja itu semua daya ikat dan kekuatan hukumnya tidak  sama dengan dasar hukum penetapan GBHN. Konsekuensinya, berganti pemimpin berganti pula kebijakannya, sehingga aspek kontinuitas pembangunan terabaikan. Lebih dari itu, pembangunan nasional kehilangan sisi visionernya, bahkan cenderung direduksi sekadar sebagai alat untuk melegitimasi kepentingan politik jangka pendek.

Pembangunan nasional juga seakan hanya menjadi urusan dan tanggung jawab pemerintah dan elite kekuasaan dan dunia bisnis semata. Rakyat dan berbagai potensi masyarakat hanya sebagai objek atau sebagai penonton, jauh dari berpartisipasi apalagi menjadi subjek dan pelaku  pembangunan nasional.

Karena itu tanpa bermaksud mengglorifikasikan masa lalu, dan tidak juga untuk kembali ke sistem pembangunan Orde Baru yang telah kita perbaharui dan koreksi, saat ini kita memerlukan Blue Print Pembangunan Nasional seperti GBHN yang memuat dasar, strategi, tujuan dan pelaksanaan  pembangunan nasional secara menyeluruh, terpadu, sistematis, bertahap, berkesinambungan, serta menjadi pedoman dan panduan bagi seluruh  penyelenggara negara dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional.


Uji Visi 2045 di Universitas Indonesia

Merespon hal tersebut, Partai Golkar kemudian menyusun Blue Print Pembangunan Nasional itu yang diberi nama: “Visi 2045: Negara Kesejahteraan”. Ini adalah visi pembangunan jangka panjang yang ditawarkan Partai Golkar dengan tujuan pada tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Indonesia, negeri ini menjadi Negara Kesejahteraan, yang  Bersatu, Maju,  Mandiri, Adil, dan Sejahtera.

Secara umum, Visi 2045 menekankan prioritas pembangunan  pada  sektor: Reformasi Birokrasi, Pendidikan, Kesehatan, Industri, Pertanian, Kelautan, Infrastruktur, UMKM dan Koperasi. Keseluruhan prioritas ini dilaksanakan secara simultan dan terintegrasi melalui Catur Sukses Pembangunan Nasional, yakni :  Pertumbuhan, Pemerataan,  Stabilitas dan  Nasionalisme Baru.

Pertumbuhan yang berkualitas bukanlah pertumbuhan yang dihasilkan oleh strategi yang growth oriented dan berbasis paham market fundamentalism. Sebab, selain akan mengabaikan prinsip dan dimensi pemerataan, juga akan berpihak kepada sekelompok kecil pelaku yang kuat. Karenanya, ia akan cenderung melakukan akumulasi modal untuk mengejar keuntungan ekonomis setinggi-tingginya.

Pemerataan adalah perspektif yang diorientasikan untuk mengatasi segala bentuk kesenjangan. Karenanya, pembangunan harus mengembangkan mekanisme dan strategi yang menjamin pemerataan antarwilayah, antardaerah, antarsektor, antarkota dan desa, maupun antarpusat dan daerah. Aktivitas ekonomi dan sumber daya pembangunan harus disebar merata di wilayah Jawa dan luar Jawa, di kawasan timur dan barat Indonesia, di daerah yang kaya maupun miskin sumber daya, di sektor produktif maupun tidak, di desa dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud hingga Rote.

Stabilitas adalah perspektif pembangunan nasional yang berorientasi pada terciptanya sistem politik nasional yang efektif, demokratis, stabil, berlandaskan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Sukses stabilitas juga berarti kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa, tegaknya kedaulatan negara dan integrasi nasional, terwujudnya pertahanan dan keamanan nasional sebagai landasan yang kokoh bagi peningkatan kesanggupan negara dalam melindungi segenap bangsa.

Sementara nasionalisme baru, dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai perspektif pembangunan nasional yang berorientasi pada reinterpretasi dan reaktualisasi nilai-nilai nasionalisme Indonesia. Tujuannya untuk menjawab dinamika tantangan dan perubahan geopolitik, geoekonomi dan geostrategis baik secara nasional maupun internasional. Nasionalisme baru merupakan energi baru bangsa Indonesia untuk mengukir kembali peradaban-peradaban yang agung yang seakan terabaikan oleh keniscayaan globalisasi dan kecenderungan primordialisme sempit dan politik identitas. Dengan semangat nasionalisme baru, kita tidak perlu takut, menghindari atau memusuhi globalisasi, melainkan memampukan kita untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang globalisasi bagi pemenuhan kepentingan nasional di segenap aspek.

Sedangkan pokok-pokok strategi yang dikembangkan dalam Visi 2045 antara lain: (1) membangun Indonesia dari desa; (2) Penguatan peranan Negara; (3) pertumbuhan ekonomi yang berkualitas; (4) pemerataan pendapatan di antara masyarakat; (5) pemerataan pembangunan antar daerah, antar wilayah; (6) pendidikan dan kesehatan yang berkualitas; (7) penguatan komunitas dalam kerangka program pemberdayaan; (8) pembangunan berkelanjutan yang berbasis blue-economy dan green- ecocomy; (9) penegakkan hukum dan HAM; (10) pengembangan industri berbasis Iptek dan Inovasi berdaya saing tinggi; (11) revitalisasi pertanian pangan dan niaga.

Pembangunan menurut Visi 2045, ada tahapannya yang dirancang sebagai berikut: Dasawarsa Pertama, 2015-2025 : Menetapkan Fondasi Menuju Negara Maju. Dasawarsa Kedua, 2025-2035: Mempercepat Pembangunan di Segala Bidang Memasuki Negara Maju. Dasawarsa Ketiga, 2035-2045: Memantapkan Indonesia sebagai Negara Maju. Setiap dasawarsa memiliki skenario program dan target masing-masing, namun tetap merupakan suatu kesinambungan dari tahapan pertama hingga tahapan-tahapan selanjutnya.

Dasawarsa pertama sangat menentukan bagi arah dan tahapan pembangunan selanjutnya dengan penekanan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pengurangan pengangguran dan kemiskinan secara signifikan, pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan, peningkatan efisiensi, produktivitas, dan keterampilan tenaga kerja, revitalisasi industri dan pertanian, serta optimalisasi pembangunan daerah. Skenario pembangunan nasional pada dasawarsa ini untuk membangun fondasi yang kokoh bagi proses transisi Indonesia menjadi negara maju dengan uraian sebagai berikut:

Uji Visi 2045 di Universitas Sumatera Utara

Pertama, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan pembangunan dan pendapatan, serta pengurangan pengangguran dan kemiskinan. Targetnya, antara lain: (1) Pertumbuhan ekonomi rata-rata 8-9 persen, (2) Pendapatan per kapita sekitar US$10.000-12.000, (3) Terciptanya lapangan kerja yang luas sehingga pengangguran sebesar 6 persen pada tahun 2020 dan menjadi 4 persen pada tahun 2025, (4) Pekerja di sektor informal ditargetkan 45 persen pada tahun 2020 dan 65 persen pada tahun 2025, dan (5) Tingkat kemiskinan absolut 8 persen pada tahun 2020 dan turun menjadi 5 persen pada tahun 2025.

Kedua, kebijakan fiskal yang akomodatif. Dirumuskan skenario dan target, di antaranya: (1) Defisit APBN terhadap PDB di bawah 2,8 persen, (2) Penerimaan pajak ditingkatkan melalui kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan, (3) Rasio pajak terhadap PDB ditargetkan 15 persen pada tahun 2020 dan menjadi 20 persen pada tahun 2025, (4) Tarif pajak Badan ditargetkan 20 persen pada tahun 2020 dan turun menjadi 18 persen pada tahun 2025, (5) Belanja modal diperbesar dan diprioritaskan bagi pembangunan infrastruktur dan revitalisasi sektor industri, (6) Rasio belanja modal terhadap APBN ditargetkan 20 persen pada tahun 2020 dan 25 persen pada tahun 2025, (7) Belanja subsidi diperjuangkan agar tidak lebih 10 persen dari keseluruhan pengeluaran, (8) Subsidi diberikan langsung pada kelompok sasaran, terutama golongan miskin.

Ketiga, pembangunan infrastruktur yang andal. Pembangunan infrastruktur harus dipercepat untuk memfasiltasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pembangunan jalan sangat mendesak untuk memfasilitasi transportasi barang dari tempat produksi ke pasar. Targetnya, antara lain: (1) Pembiayaan pembangunan infrastruktur mencapai 8 persen dari PDB, (2) Pembangunan jalan tol pantai utara Jawa sudah harus selesai pada tahun 2020 dan pembangunan trans Sumatera harus tuntas dan sudah berfungsi sebelum tahun 2020, (3) Peningkatan Trans Sumatera Railway, pembangunan Trans Kalimantan Railway, pembangunan Trans Sulawesi Railway, serta revitalisasi jalur Jawa, pembangunan kereta api berkecepatan tinggi, pembangunan MRT di kota-kota besar perlu dipercepat dan diwujudkan serta jalurs interkoneksi antarpulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya.

Keempat, revitalisasi industri manufaktur dengan target, di antaranya, pengembangan kebijakan yang terfokus dan sistematis dalam meningkatkan industri logam dasar dan industri kimia, pengembangan industri makanan dan minuman secara terintegrasi, menjadikan Indonesia sebagai pusat industri otomotif di Asia Tenggar, revitalisasi dan pengembangan industri kayi, produk kayu dan rotan, serta pertumbuhan industri manufaktur ditargetkan 9-11 persen per tahun.

Kelima, revitalisasi industri pertanian, kehutanan dan perikanan. Target pencapaiannya, di antaranya, mewujudkan ketahanan pangan dengan swasembada pangan pada tahun 2020, terutama untuk pemenuhan bahan pangan pokok. Pemberdayaan petani, termasuk menuntaskan reformasi agraria dengan upaya mendorong pertanian komersial berskala besar, terutama di luar Jawa. Pada tahun 2020, target luas lahan garapan petani mencapai 1,3 hektare per kepala keluarga dan meningkat menjadi 2 hektare per kepala keluarga. Pengembangan perikanan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan kepentingan ekspor, dengan terus mengefektifkan pencegahan illegal fishing, sertra perikanan tangkap dikembangkan melalui pengembangan teknologi dan dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana penangkapan.

Keenam, mineral, sumber daya alam, dan energi. Sumberdaya alam merupakan bagian strategis dari perekonomian. Di antaranya adalah minyak dan gas bumi yang merupakan sumber penerimaan penting negara dan perlu mendapat prioritas perhatian. Sebab, belakangan kebutuhan domestik meningkat sangat tajam. Menurunnya produksi minyak bumi dan tidak optimalnya produksi gas alam berakibat besar terhadap perekonomian. Kebutuhan migas dalam negeri yang terus meningkat tidak dapat dipenuhi, sementara pendapatan ekspor pun jauh dari optimal.

Ketujuh, perdagangan yang kompetitif di dalam dan luar negeri. Perdagangan mempunyai sumbangan cukup besar terhadap PDB dan penciptaan kesempatan kerja meski tidak sebesar industri manufaktur dan pertanian. Sektor perdagangan, termasuk hotel dan restoran, juga mempunyai keterkaitan yang besar dengan sektor-sektor lainnya. Target dari sektor ini, di antaranya, meningkatkan porsi perdagangan luar negeri terhadap PDB dengan target sumbangan ekspor sebesar 35 persen terhadap PDB pada tahun 2020 dan 40 persen pada tahun 2025. Komposisi produk ekspor diarahkan pada produk-produk manufaktur, termasuk produk olahan pertanian dan pertambangan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Kedelapan, sektor keuangan yang mendukung sektor riil. Perbankan yang mendominasi sektor keuangan perlu dioptimalkan pengembangannya untuk mendukung perkembangan sektor riil melalui kebijakan bunga pinjaman dan NIM (net interest margin) yang kompetitif serta peningkatan rasio kredit terhadap PDB. Perlu upaya untuk mendorong peningkatan lembaga keuangan mikro agar memberikan akses lebih besar kepada golongan miskin dan golongan tertinggal lainnya dalam rangka mendukung pertumbuhan dan pemerataan pendapatan. Target rasio kredit terhadap PDB pada tahun 2020 sebesar 50 persen dan 65 persen pada tahun 2025. Sedangkan target akses orang dewas untuk memiliki rekening bannk sebesar 50 persen pada 2020 dan 65 persen pada 2025.

Kesembilan, meningkatkan kemampuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan inovasi. Target pertumbuhan TFP (total factor productivity) pada periode 2015-2020 adalah 3 persen dan pada 2020-2025 rata-rata 4 persen per tahun. Pada tahun 2025, kontribusi TFP pada pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 40 persen.

Dasawarsa kedua, yaitu 2025-2035, tahapan pembangunannya disebut “Mempercepat Pembangunan di Segala Bidang Memasuki Negara Maju”. Dasawarsa ini , Indonesia sudah siap menjadi negara maju. Skenario dan target-target yang ingin dicapai pada periode ini, di antaranya: (1) pertumbuhan ekonomi ditargetkan rata-rata 10-11 persen per tahun, (2) pendapatan per kapita pada tahun 2035 ditargetkan sebesar US$21.000-23.000, (3) investasi penelitian dan pengembangan ditingkatkan menjadi 2 persen dari PDB, (4) angka indeks pembangunan manusia (IPM) ditargetkan 0,86, (5) defisit anggaran pemerintah tidak melebihi 2 persen dari PDB, tingkat inflasi 2-3 persen, utang pemerintah terhadap PDB pada kisaran 18 persen, (5) bahan mentah pertanian dan pertambangan telah dapat dikelola dalam negeri. Rata-rata penguasaan lahan garapan pertanian ditargetkan mencapai 3 hektare per kepala keluarga, (6) jaminan sosial yang bertumpu pada sistem kerja sama pemerintah, swasta dan keluarga sudah harus mampu memberikan jaminan yang memadai pada mereka yang tidak bekerja dan masa pensiun pada kondisi usia harapan hidup rata-rata mencapai 78 tahun.

Terakhir adalah dasawarsa 2035-2045 yang disebut “Memantapkan Indonesia sebagai Negara Maju. Pada masa ini, Indonesia sebagai negara maju melalukan konsolidasi untuk mempertahankan statusnya. Skenario dan targetnya, di antaranya: (1) pertumbuhan ekonomi melambat pada tingkat 6-7 persen, (2) target PDB per kapita pada tahun 2045 adalah US$41.000, (3) perekonomian semakin ditopang oleh inovasi dan produktivitas yang tinggi, dengan sumbangan TFP dalam pertumbuhan mencapai 70 persen, (3) investasi untuk penelitian dan pengembangan ditingkatkan menjadi 3 persen dari PDB, (4) angka indeks pembangunan manusia ditargetkan 0,91, (5) kesejahteraan masyarakat menjadi sangat tinggi dengan tingkat ketimpangan pendapatan yang rendah, (6) rata-rata penguasaan lahan garapan mencapai 5 hektare per kepala keluarga, (7) pendaftaran pada pendidikan tinggi telah mencapai 45 persen. Rasio antara mahasiswa sains dan teknik dengan sosial adalah 65 berbanding 35. Jumlah saintis dan ahli teknik memadai bagi perkembangan inovasi yang menjadi andalan bagi perkembangan ekonomi, dan lain-lain.

Itulah secara garis besar gambaran atas Visi 2045. Ini baru rancangan dan belum final karena masih akan disempurnakan melalui diskusi dan masukan dari para akademisi dan ahli dari berbagai kalangan untuk penyempurnaannya. Visi 2045 bukan hanya milik Partai Golkar namun untuk negeri ini. Karena itu dalam penyusunannya tidak hanya disusun oleh Partai Golkar saja, tapi juga dirumuskan bersama para pakar atau ahli dari berbagai bidang. Pengujian terhadap Visi 2045 yang sementara telah dirangkum menjadi sebuah buku setebal 132 halaman ini terus dilakukan, termasuk melibatkan kalangan kampus.

Kampus yang pertama menguji adalah Universitas Indonesia (UI). Pada 20 Februari 2013 lalu, di Gedung Terapung Perpustakaan UI, di fasilitasi Center for Election and Political Party, FISIP UI, kita diskusikan dengan visi ini. Banyak sekali masukan dari para dosen atau pakar di sana, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya, yang kita tamping untuk perbaikan. Hal yang sama juga kita lakukan di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan pada 27 Maret 2013 lalu. Dalam waktu dekat, rencananya 5 April 2013, kami akan kembali menguji konsep Visi 2045 ini di Universita Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Menyusul setelahnya kampus-kampus lain se-Indonesia.

Tak hanya dengan kalangan kampus atau akademisi. Diskusi serupa juga kita lakukan dengan pihak lainnya, misalnya pada 18 Februari lalu kita mendiskusikan mengenai pendidikan dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama jajarannya di Fraksi Partai Golkar DPR. Kita bahas ide Pendidikan Gratis 12 Tahun dan Kurikulum 2013. Setelah itu kita juga membahas mengenai konsep pembangunan dari desa dan RUU Desa di DPP Partai Golkar bersama para kepala desa dan pihak terkait.

Selain untuk merancang kemajuang bangsa dengan pembangunan yang terarah, terukur, dan berkesinambungan, dalam penyusunan Visi 2045 ini, Partai Golkar juga ingin mengenalkan tradisi baru. Tradisi baru yang ditawarkan Partai Golkar ini adalah: partai politik tidak hanya menawarkan calon presiden saja, tapi juga menyiapkan blueprint pembangunan nasional, yang nantinya dapat digunakan sebagai  acuan dan pedoman dalam penyelenggaraan negara dan pelaksanaan pembangunan nasional.

Ini merupakan salah satu bukti dari dari komitmen Partai Golkar yang menyatakan diri sebagai The Party of Ideas, sebuah partai yang meletakkan ide dan gagasan menjadi instrumen politik, bukan intrik atau fitnah politik. Karena itu, di tengah dinamika kehidupan nasional yang diwarnai oleh intrik-intrik, bahkan fitnah-fitnah politik, Partai Golkar tidak ikut larut ke sana, dan tetap konsisten sebagai The Party of Ideas untuk memberikan sumbangsih secara konseptual bagi terselenggaranya pembangunan nasional di segenap bidang kehidupan.

Hal ini penting tegaskan, sebab saya melihat bahwa salah satu faktor yang menyebabkan bangsa ini kurang maju, karena tradisi intelektual di kalangan elit bangsa kurang mengakar, bahkan sebaliknya sangat diwarnai oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang pernah diteladankan oleh para pendiri negara, yang secara konsisten menjadikan ideologi dan intelektualitas sebagai landasan dan orientasi perjuangannya.

Akhir kata, meski Visi 2045 belum sempurna dan akan terus diuji dan disempurnakan, namun hal ini telah menjadi bukti komitmen kami bahwa berpolitik bukan untuk kepentingan jangka pendek semata, tetapi untuk kepentingan jangka panjang demi terciptanya bangsa Indonesia yang maju dan sejahtera.[]

Sumber : http://icalbakrie.com