Mendaki Semeru

Pidato Deklarasi Capres Partai Golkar. SICC Sentul, Jawa Barat, 1 Juli 2012.

 

Yang saya hormati tokoh-tokoh senior dan pinisepuh yang telah mewariskan pada kita Partai Golkar yang kita cintai ini
Yang saya hormati Bapak Akbar Tanjung serta tokoh-tokoh lainnya yang telah memberi kontribusi bagi bangsa kita
Pengurus DPP Partai Golkar, serta ormas dan organisasi sayap partai yang begitu bersemangat serta selalu setia dalam perjuangan partai.
Ketua DPD Tingkat 1 dan DPD Tingkat 2, serta seluruh kader dan pengurus dari berbagai daerah yang merupakan ujung tombak, tulang punggung, serta sumber kekuatan Partai Golkar.
Yang saya cintai dan hormati seluruh tamu dan undangan serta simpatisan dan pendukung deklarasi ini serta seluruh pemirsa di mana pun berada.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas berkah dan rahmatnya, serta atas hidayah yang dilimpahkan pada kita semua, maka kita dapat berkumpul bersama pada acara deklarasi hari ini.

Perkenankanlah saya terlebih dahulu menghaturkan beribu terimakasih kepada begitu banyak pihak yang telah memungkinkan terselenggaranya acara ini, mulai dari panitia pelaksana seperti Sdr. Fuad Mahsyur, Sdr. Mahyudin, Sdr. Sekjen Idrus Markham dan segenap jajarannya.

Juga kepada Sdr. Doktor Ade Komaruddin, komandan pemenangan Jawa 1, yang mencakup wilayah Jawa Barat yang sekarang menjadi tempat penyelenggaraan acara ini, beserta andalan partai seperti Sdr. Erlangga Hartanto; Ketua DPD Provinsi Jabar, Haji Irianto MS Syaifuddin, yang lebih dikenal sebagai Kang Yance; serta Ketua DPD Kabupaten Bogor Sdr. Ade Ruhandi dan segenap pasukannya yang menjadi kebanggaan partai kita.

Secara khusus saya juga ingin menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada penanggung jawab semua rangkaian acara ini, yaitu Sdr. Cicip Sjarif Sutardjo. Tadi Sdr. Cicip telah memberikan pidato pengantar yang sangat baik. Pidato ini dibawakan dengan menarik, sehingga saya sempat berpikir bahwa Sdr. Cicip suatu saat kelak akan mampu menjadi kandidat presiden dan juga membacakan pidato deklarasi. (Saat itu mungkin saya yang akan memberikan pidato pengantar pada deklarasi Sdr. Cicip).

Tidak lupa pula saya menghaturkan beribu terimakasih kepada Ketua DPD Provinsi, Ketua DPD Kabupaten dan kota berserta segenap jajarannya yang hadir saat ini. Saya tahu, banyak dari tokoh-tokoh dan pengurus daerah harus menempuh perjalanan yang jauh untuk sampai ke tempat ini, tetapi semua itu mereka lakukan karena kecintaan yang besar pada Partai Golkar serta untuk memberikan dorongan kepada saya.

Saya juga ingin menyampaikan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada Bapak Akbar Tanjung. Kemarin telah saya katakan di hadapan peserta Rapimnas III, dan sekarang saya ingin tegaskan lagi bahwa Pak Akbar adalah seorang sahabat, seorang tokoh yang berhasil mempertahankan eksistensi partai justru di saat-saat yang sangat sulit. Partai Golkar tidak pernah boleh melupakan jasa tersebut.

Saya tahu bahwa dalam beberapa bulan terakhir ada sedikit perbedaan pendapat di antara kami berdua. Namun demikian, perbedaan ini bukanlah sebuah sikap permusuhan, tetapi sebuah perwujudan dari dinamika yang sehat. Saya yakin, setelah Rapimnas kemarin dan deklarasi hari ini, kita akan melangkah bersama dalam irama yang harmonis.

Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan terimakasih dari lubuk hati saya yang terdalam kepada ketiga adik saya, Odi, Nirwan dan Indra. Barangkali, saya adalah kakak yang paling beruntung. Mereka adalah tulang punggung saya yang selalu mengulurkan tangan tanpa pernah mengeluh. Tanpa dukungan, pengertian serta semangat kekeluargaan mereka, tidak mungkin saya melangkah sejauh ini.

Akhirnya, dan di atas segala-galanya, saya ingin menghaturkan terimakasih yang tak terhingga kepada istri saya tercinta, Tatty Murniati Bakrie, serta kepada ketiga anak kami, Anin, Dita, dan Ardie.

Saudara-saudara yang saya muliakanSaya tidak mungkin berdiri di sini tanpa ketulusan, cinta, doa, serta pengertian mereka. Dalam perjalanan hidup ke depan, pasti akan ada naik dan turun, jatuh dan bangun. Saya tahu bahwa setelah deklarasi ini, barangkali istri dan anak-anak sayalah yang akan menanggung beban paling berat. Namun mereka semua rela, tabah serta mendukung sepenuhnya, sebab mereka memahami bahwa langkah yang saya tempuh bukanlah untuk mencapai ambisi pribadi, tetapi untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan negeri yang kita cintai ini.

Hadirin yang saya hormati

Dalam acara Rapat Pimpinan Nasional III Partai Golkar dua hari yang lalu, saya telah menerima mandat untuk menjadi Kandidat Presiden dalam Pemilu tahun 2014.

Oleh karena itu, pada hari ini, di hadapan para sahabat, simpatisan, serta para pemirsa di seluruh penjuru Tanah Air, dengan memohon restu dari Allah yang Maha-Besar, dengan mengucapkan bismillahirahmani rahim, maka saya nyatakan secara terbuka bahwa saya siap membawa mandat tersebut dan maju sebagai Kandidat Presiden dalam pemilu mendatang.

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya memohon doa dan restu agar langkah ini membawa amanah serta membuka jalan bagi kita semua untuk lebih memberikan pengabdian yang tulus kepada Tanah Air yang kita cintai ini.

Sengaja deklarasi ini dilakukan jauh-jauh hari sebelum Pemilu 2014. Indonesia adalah negeri dengan wilayah yang luas dan penduduk berjumlah besar. Dibutuhkan waktu dan persiapan panjang, sebuah langkah maraton dalam waktu sekitar dua tahun, untuk betul-betul menjangkau seluruh kalangan di negeri kita dengan sentuhan, gagasan, serta program yang matang.

Insya Allah, dalam melakukan semua itu, saya akan berusaha untuk memberikan yang terbaik, saya siap bekerja siang dan malam agar kemenangan berhasil kita raih serta harapan besar yang dilimpahkan kepada saya mampu saya laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Deklarasi ini bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi justru sebuah langkah awal yang panjang. Seperti mendaki Gunung Semeru, akan ada beribu tantangan. Akan ada pendakian yang terjal dan jurang yang dalam. Tetapi insya Allah kita akan berhasil menghadapi semua ini dan sampai pada tujuan yang kita cita-citakan bersama, sambil terus terus menjalankan prinsip “istiqomah dalam amal saleh.”

Di puncak gunung, kita akan kibarkan bendera merah putih, bukan hanya bendera kuning Partai Golkar, sebab kemenangan kita kelak adalah kemenangan yang akan dipersembahkan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam proses menuju deklarasi ini, saya telah mengunjungi begitu banyak tempat, bukan hanya di beberapa kota besar, namun terutama di kota-kota menengah, kota kecamatan hingga ke pelosok desa. Saya bertemu serta melihat begitu banyak variasi kehidupan rakyat: anak muda dan remaja, siswa dan mahasiswa, dosen dan guru, pegawai, pekerja, buruh, petani, nelayan, dan pedagang kecil.

Terus terang, saya tersentuh dan terharu oleh antusiasme serta kehangatan sambutan mereka. Dalam sorot mata mereka, saya melihat kerinduan pada sosok pemimpin yang mau dan sanggup membela nasib mereka. Khususnya di kalangan remaja dan generasi muda, saya merasakan pancaran sinar mata kehidupan, kehendak untuk maju, serta harapan besar untuk menempuh kehidupan.

Kepada mereka semualah deklarasi ini dipersembahkan. Kita bekerja keras meraih kemenangan untuk memastikan bahwa nasib dan kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi di masa-masa mendatang.

Kita justru ingin memberi pengorbanan, mengabdikan hidup kita untuk memastikan bahwa lembaga pemerintahan memang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan-tujuan besar bangsa Indonesia.Kita bekerja keras bukan untuk mengejar jabatan dan kursi kekuasaan. Bagi saya pribadi, apalagi bagi istri dan anak-anak saya, barangkali hidup akan lebih tenang dan tenteram tanpa semua itu.

Dalam melangkah ke depan, kita harus selalu berpedoman pada sebuah prinsip, bahwa posisi presiden adalah sebuah amanah dan tanggung jawab. Salah satu tugasnya yang terpenting adalah sebagai nakhoda yang memberikan arah bagi kapal besar Republik Indonesia, serta memastikan bahwa kapal tersebut memang berjalan menuju arah yang dituju.

Bung Karno pernah berkata, siapa yang melawan kehendak zaman akan digiling dan digilas oleh perputaran sejarah. Oleh karena itu, Sang Nakhoda harus memastikan bahwa kapal besar Republik Indonesia terus bergerak mengikuti gelombang zaman, sambil tetap mempertahankan empat pilar kebangsaan kita, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan motto Bhineka Tunggal Ika.

Bahaya terbesar bagi sebuah bangsa, sama dengan nasib terburuk para penumpang kapal, adalah jika Sang Nakhoda bimbang dan ragu, terombang-ambing dalam tujuan-tujuan yang kabur dan saling bertentangan.

Karena itu, sejak awal perlu ditegaskan bahwa arah kita jelas dan tujuan kita terang benderang, yaitu perjuangan untuk mewujudkan sebuah bangsa yang mandiri dan dihormati dalam pergaulan antar-bangsa, serta sebuah bangsa yang terus menerus membuka diri terhadap berbagai perkembangan baru.

Sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan, jika memang rakyat menghendaki, saya akan menggunakan prinsip-prinsip yang diadaptasi dari filosofi Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan yang saya kagumi.

Seorang pemimpin harus mampu mengamalkan prinsip tut wuri handayani, yaitu berdiri di belakang, membimbing, serta membuka kemungkinan bagi setiap orang untuk mewujudkan potensinya secara mandiri.

Seorang pemimpin juga harus mampu untuk ing madya mangun karso, yaitu berdiri di tengah, merangkul semua pihak, memberi inspirasi, menengahi perbedaan, serta membangun kerjasama dari segenap potensi yang ada.

Dan yang terakhir, seorang pemimpin juga harus sanggup menerapkan prinsip  ing ngarso sung tulodo, yaitu memimpin di depan, memberi teladan, berwibawa serta berani bertindak tegas untuk membela kepentingan rakyat, seberat apapun resiko yang dihadapinya.

Prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut saya peroleh bukan dari buku teks sekolahan, tetapi dari pengalaman kehidupan saya selama ini. Selain dunia usaha swasta, sejak menginjak bangku SMA, saya selalu tertarik pada kegiatan organisasi, baik di perkumpulan pelajar, dewan mahasiswa, persatuan insinyur, serta himpunan pengusaha. Terakhir, jalan hidup membawa saya ke dunia pemerintahan, menjadi Menko Perekonomian, Menko Kesra, dan sekarang sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Saya menyebut semua pengalaman ini bukan untuk meninggikan diri. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dengan pengalaman yang panjang dan beragam itu, saya menyerap beberapa butir kearifan hidup serta prinsip-prinsip kepemimpinan: memimpin adalah memberi motivasi; memimpin adalah membangun kerjasama; memimpin adalah keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan bertindak tegas manakala diperlukan.

Selain semua itu, perlu juga saya tegaskan: Jangan lihat seorang pemimpin dari apa yang dia katakan, melainkan dari apa yang dia perbuat. Membuat janji dengan seribu kembang kata-kata bukanlah hal yang sulit. Tetapi tantangan terbesar seorang pemimpin adalah mewujudkan kata menjadi perbuatan, serta menjaga satunya kata dan perbuatan.

Saudara-saudara yang saya muliakan
Hadirin yang saya hormati


Perkenankanlah saya sekarang untuk menjelaskan visi dan konsep saya tentang masa depan Indonesia.

Pada hemat saya, perjalanan bangsa Indonesia sejauh ini sudah menuju pada arah yang benar. Tentu saja, dalam perjalanan sejak proklamasi 1945, ada pasang dan surut, ada berbagai pencapaian besar, namun masih banyak pula masalah yang perlu diatasi. Setiap generasi dan setiap pemimpin yang kita miliki telah berjasa menghadapi tantangan zaman mereka, dengan gaya, kelebihan, serta karakter masing-masing.

Bung Karno mewariskan persatuan dan semangat kebangsaan Indonesia; Pak Harto mewariskan pembangunan ekonomi yang sukses serta manfaatnya dirasakan oleh rakyat hingga ke pelosok desa; sementara generasi Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati dan Pak SBY secara bersama-sama dan dengan cara mereka masing-masing telah menggulirkan langkah-langkah reformasi, demokratisasi serta desentralisasi kekuasaan.

Semua itu adalah warisan sejarah. Indonesia sekarang adalah akumulasi dari warisan-warisan besar tersebut. Tapi warisan ini tidak boleh membeku ditelan zaman. Bangsa yang besar adalah bangsa yang  mampu merawat, meneruskan serta mengembangkan warisan mulia tersebut agar menjadi lebih baik lagi.

Oleh karena itulah, di tahun-tahun mendatang Indonesia harus melangkah dan membuat terobosan di berbagai bidang. Dalam waktu satu generasi ke depan, yaitu generasi anak-anak kita, Indonesia harus mampu naik kelas, dari negara sedang berkembang menjadi negara maju, dengan tingkat pendidikan, teknologi, keuangan, industri, pertanian yang sejajar dengan negara-negara maju lainnya.

Kita harus bertekad bahwa sebelum Republik Indonesia berusia 100 tahun pada tahun 2045 kelak, kita sudah berhasil mewujudkan visi besar tersebut.

Insya Allah, dalam melangkah ke depan, semua itulah yang akan menjadi dasar perjuangan saya.

Untuk mencapai semua itu, saya ingin menawarkan sebuah konsep yang terbukti telah sukses digunakan sebelumnya, dan sekarang masih sangat relevan jika sesuaikan dengan semangat zaman ini. Konsep tersebut adalah Trilogi Pembangunan yang dilengkapi dengan gagasan baru nasionalisme Indonesia, sehingga menjadi sebuah formula yang saya namakan sebagai Catur Sukses Pembangunan Nasional.

Formula ini terdiri dari empat elemen, yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan hasil-hasil pembangunan, stabilitas sosial-politik, dan paham kebangsaan yang disesuaikan dengan konteks globalisasi. Keempat hal inilah yang harus kita jabarkan secara serempak, dengan memanfaatkan peluang-peluang baru dan menjawab tantangan-tantangan baru dalam dunia yang semakin terbuka dan berputar cepat.

Dalam hal pertumbuhan ekonomi, kita tidak boleh puas hanya dengan angka pertumbuhan dalam kisaran 6 persen. Potensi Indonesia begitu besar sehingga tingkat pertumbuhan 7 atau 8, bahkan 10 persen harus mampu kita capai.

Untuk itu, kita harus berani melakukan pembangunan infastruktur secara besar-besaran, seperti jalan raya dan jalan pedesaan, bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, irigasi, puskesmas, rumah sakit, dan banyak fasilitas umum lainnya yang semakin modern.

Selain itu, kita harus membangun sarana pendidikan yang semakin maju. Indonesia sudah cukup berhasil menyediakan sarana pendidikan dasar dan menengah. Sekarang, fokus kebijakan harus kita arahkan pada peningkatan kualitas pendidikan, khususnya pada tingkat SMA, SMK dan pada tingkat universitas.

Kita harus menyiapkan pendidikan yang semakin maju, agar mereka dapat merealisasikan bakat-bakat mereka. Keterbatasan ekonomi tidak boleh menghalangi semangat untuk menimba ilmu pengetahuan yang akan membuka cakrawala kehidupan mereka.Dalam perjalanan safari ke berbagai daerah, saya bertemu dan memberi ceramah motivasi kepada ribuan siswa dan mahasiswa. Mereka adalah anak-anak petani, anak-anak nelayan, pedagang kecil, guru dan sebagainya. Saya melihat sendiri bahwa siswa dan mahasiswa kita sebenarnya sangat potensial, berbakat, tidak kalah oleh siswa dan mahasiswa dari negeri mana pun.

Semua itu perlu pula diiringi dengan langkah-langkah lainnya, seperti pendalaman dan peningkatan daya saing di sektor manufaktur dan sektor industri lainnya, termasuk industri jasa dan pertanian, penyehatan iklim investasi, stabilitas ekonomi makro, serta penataan sektor finansial dan efisiensi badan usaha milik negara.

Khusus untuk sektor industri dan jasa, hal itu mutlak dilakukan, sebab sektor inilah yang menjadi tempat penyerapan terbesar tenaga kerja serta menjadi katalis atau sumber pemicu bagi peningkatan teknologi. Indonesia harus memberi dorongan kepada kaum industrialis dan kaum pengusaha, tetapi nasib kaum pekerja tidak boleh tertinggal.

Sekarang, variasi upah minimum adalah 800 ribu rupiah hingga 1.5 juta rupiah per bulan. Kita harus berani menegaskan, jika pengusaha dan kaum pekerja mampu secara bersama-sama meningkatkan produktifitas, maka pada tahun 2014 atau 2015 upah minimum di seluruh Indonesia harus ditingkatkan menjadi sekurang-kurangnya 2 juta rupiah per bulan.

Dengan begitu, kaum pengusaha menjadi lebih berinisiatif membuka peluang kerja, sementara kaum buruh dan pekerja turut menikmati ekspansi ekonomi yang semakin membesar.

Semua itulah yang perlu kita lakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Namun demikian, untuk lebih memberi makna sosial bagi pertumbuhan ini, kita harus melengkapinya dengan kebijakan pemerataan yang tidak kurang intensifnya.Di sektor energi, kita harus segera menegakkan prinsip nasionalisme. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan kebijakan baru yang menjamin kemandirian energi nasional serta pada saat yang sama membuka peluang investasi yang leluasa. Di sektor strategis ini, kita harus mendahulukan kepentingan sektor usaha nasional, tanpa mengurangi kredibilitas Indonesia sebagai negara yang ramah terhadap investasi asing.

Pertumbuhan ekonomi  tanpa pemerataan akan melahirkan ketimpangan sosial serta ketidakadilan. Ia menyimpan bom waktu yang setiap saat dapat meruntuhkan fondasi sistem sosial kita.

Pemerataan dapat dilakukan dengan berbagai metode, namun pada prinsipnya kita harus menggunakan cara yang mendidik, bukan dengan jalan pintas yang justru melanggengkan kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Berbagai program yang sudah baik, seperti PNPM, Jamkesmas, Program Keluarga Harapan, jaminan pensiun, dan semacamnya perlu semakin ditingkatkan cakupan maupun pendanaannya. Semua program ini harus disatukan secara sistematis dalam sebuah konsep besar yang disebut sebagai Negara Kesejahteraan.

Hal yang sama juga perlu dilakukan dalam memberdayakan pengusaha kecil dan menengah, serta sektor informal dan koperasi yang kesemuanya melibatkan sekitar 50 juta penduduk.

Dalam perjalanan saya ke berbagai daerah, serta dalam pengalaman panjang sebagai pengusaha di masa lalu, saya bertemu begitu banyak pengusaha dan pedagang kecil, tua dan muda, pria dan wanita. Kebutuhan mereka yang utama adalah akses terhadap modal. Mereka sanggup berkembang, atau paling tidak sanggup membuka kesempatan kerja bagi diri dan lingkungan sekitarnya jika akses seperti itu cukup terbuka dan mudah diperoleh.

Ayah saya, almarhum Achmad Bakrie, merintis usahanya dari bawah. Ia mulai sebagai pedagang kecil di zaman Jepang, berdagang roti dan hasil bumi di Kalianda, Lampung. Pendidikannya hanya tamatan setingkat sekolah dasar. Tetapi ia pekerja keras, tangguh, mandiri, dan selalu belajar mengembangkan dirinya. Pada akhir hidupnya, ia berhasil mewariskan sebuah kelompok usaha dengan ribuan pegawai.

Achmad Bakrie adalah sebuah contoh sukses dari seorang anak negeri, seorang pengusaha kecil yang berhasil merangkak, mengatasi kesulitan hidupnya secara mandiri, dan akhirnya meraih sukses kehidupan.

Karena itulah, saya akan mendorong peningkatan berbagai program seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) serta program lainnya yang ditujukan untuk memberdayakan sektor kecil dan menengah ini.Saya bangga pada ayah saya. Saya berdiri di sini pada hari ini karena saya selalu terinspirasi oleh kehidupan semacam itu. Saya menerima pencalonan sebagai kandidat presiden karena saya ingin mendorong dan memberi motivasi agar Indonesia mampu melahirkan ribuan dan jutaan orang yang sukses, rakyat kecil yang berhasil mengatasi tantangan kehidupan, pengusaha dan sektor informal yang mampu hidup dan berkembang dengan baik.

Di sinilah salah satu peran strategis instrumen fiskal pemerintah serta potensi bank-bank milik negara, seperti BRI, Bukopin, BTN, Bank Mandiri, BNI 1946 dan Bank Exim. Kita harus harus mengarahkan kekuatan fiskal pemerintah agar lebih agresif dalam kebijakan pro-rakyat. Demikian pula, kita harus  mendorong agar bank milik negara jangan berpangku tangan dan hanya menunggu.  Mereka perlu lebih giat lagi terjun ke berbagai sektor memberdayakan rakyat, seperti yang telah dilakukan dengan baik oleh BRI selama ini.

Saya yakin, dengan semua itu, fondasi pembangunan ekonomi Indonesia akan menjadi lebih berakar dan bermanfaat buat semua.

Saudara-saudara yang saya muliakan
Hadirin yang saya hormati


Elemen ketiga dari formula Catur Sukses Pembangunan Nasional adalah stabilitas sosial-politik. Dengan menekankan hal ini saya bukan ingin berpaling kembali ke masa silam. Justru sebaliknya, saya ingin mengajak bangsa Indonesia melangkah ke depan.

Demokratisasi telah berjalan cukup baik dan kita sekarang bangga bahwa Indonesia adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Kita juga bangga bahwa ketika ruang kebebasan politik diperluas, harmoni sosial dan kemajemukan Indonesia tetap terjaga.

Indonesia juga telah memberi bukti konkret bahwa Islam, modernitas, dan demokrasi dapat berjalan seiring. Semua itu menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kita memiliki jiwa yang bebas dan leluasa untuk mengelola perbedaan, sambil menghormati satu dan yang lainnya.

Hal demikian sangat membanggakan kita. Namun kita juga tidak boleh lupa bahwa sejauh ini masih sering terjadi ekses negatif yang justru akan mengancam legitimasi demokrasi itu sendiri. Jika tidak segera di atasi, ia akan mengancam langkah kita untuk mencapai kemajuan bersama.

Ekses ini terlihat dari tindakan perusakan dan pembakaran ruang universitas oleh demonstrasi yang menjurus pada anarki, pembatalan pembangunan fasilitas umum hanya karena ketidaksetujuan satu kelompok, keraguan untuk bertindak dari para petugas keamanan dalam menjalankan tugasnya, potensi konflik etnis di beberapa daerah yang tak kunjung berhenti, dan masih banyak lagi ekses negatif lainnya.

Semua itu harus segera dihentikan. Setiap orang membutuhkan ruang-ruang sosial dan rasa aman untuk hidup dan bekerja dengan baik. Kebebasan harus dibela, tetapi bukan kebebasan untuk mengancam hidup orang lain. Kelangsungan demokrasi justru bersandar pada wibawa hukum dan ketaatan pada aturan bersama.

Karena itulah, lewat deklarasi ini, kita tegaskan bahwa Indonesia harus tetap memegang komitmen pada demokrasi, dan pada saat yang sama Indonesia harus mendorong terciptanya pemerintahan yang kuat, yang tegas, bersih, dan berwibawa.

Untuk itu semua, berbagai hal perlu dilakukan, seperti penguatan lembaga-lembaga hukum, penguatan otoritas institusi keamanan seperti TNI dan Polri, reformasi birokrasi, dan banyak lagi.

Penanggulangan korupsi perlu lebih digalakkan. Namun langkah ini jangan hanya bersifat kosmetik. Kita harus memberantas korupsi pada sumber masalahnya, yaitu pada tingkat kesejahteraan pegawai, pada hubungan kelembagaan antara pemerintah dan dunia swasta, pada kebijakan serta begitu banyak aturan yang saling bertentangan sehingga membuka celah bagi penyelewengan kekuasaan.

Perlu pula kita perhatikan bahwa pemerintahan yang tegas, bersih dan berwibawa bukan hanya menyangkut pemerintahan pusat di Jakarta. Kekuatan Indonesia bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di daerah, di setiap provinsi, kabupaten, kota, dan kecamatan bahkan desa-desa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Jika daerah kuat, Indonesia kuat. Jika daerah maju, Indonesia pasti akan maju dengan gilang gemilang.

Dengan demikian, dorongan yang intensif juga harus diarahkan pada pemerintahan daerah. Semua gubernur, bupati dan walikota harus terlibat, sebab mereka adalah ujung tombak pelayanan publik yang menentukan berjalannya berbagai program pembangunan.

Perjuangan dalam menciptakan pemerintahan yang kuat dan berwibawa di alam demokrasi adalah modal dasar bagi Indonesia untuk menjadi negara yang terhormat dalam pergaulan antar-bangsa.

Indonesia yang kuat dan percaya diri adalah Indonesia yang membuka pintu seluas-luasnya kepada pergaulan dunia. Kita merangkul dunia, sambil tetap mempertahankan jatidiri sebagai sebuah bangsa yang mandiri.

Indonesia yang percaya diri adalah Indonesia yang tidak takut pada keterbukaan di era global ini, tetapi justru menyambutnya sebagai peluang untuk lebih mendorong kemajuan bangsa.

Itulah esensi dari paham nasionalisme baru yang merupakan elemen keempat dari Catur Sukses Pembangunan Nasional. Dengan paham ini, kita dapat menempatkan filosofi dasar bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, bukan sebagai sebuah pemikiran yang statis, membeku ditelan waktu, melainkan sebuah pemikiran dinamis yang menjadi sumber inspirasi kebangsaan kita.

Hal itu memungkinkan kita untuk terus belajar dan membuka diri, menyerap unsur dan perkembangan baru, sambil tetap menjaga kecintaan kita pada Tanah Air, serta penghargaan kita pada filosofi warisan bangsa.

Khususnya bagi generasi muda kita, hanya paham seperti inilah yang dapat mendorong mereka untuk melangkah maju, menjadi warga dunia yang produktif, sambil tetap menjadi manusia-manusia Indonesia yang utuh dan bertanggung jawab.

Singkatnya, dengan paham nasionalisme baru ini, kita dapat menyerukan kepada generasi muda Indonesia: reach for the stars, but put your feet on the ground. Buka cakrawalamu seluas mungkin, tuntutlah ilmu setinggi mungkin, kembangkan pergaulanmu seluas-luasnya, terbanglah meraih sejuta bintang, tetapi letakkan kakimu di bumi, yaitu bumi Indonesia yang kita cintai ini.

Saudara-saudara yang saya muliakan
Hadirin yang berbahagia

Semua itulah yang menjadi pertaruhan pada Pemilu 2014 mendatang. Setelah deklarasi ini, tidak ada lagi jalan untuk mundur. Layar sudah terkembang, pantang bagi kita untuk surut kembali.

Hari ini kita memulai pendakian yang panjang. Saya akan mengunjungi kota dan desa, kota kecamatan dan pelosok-pelosok Tanah Air untuk mendengarkan suara rakyat dan merebut simpati mereka.

Saya tidak mungkin melakukannya sendiri. Jika saudara-saudara siap melangkah, saya siap memimpin di depan. Jika saudara-saudara sudah membulatkan tekad, dengan ridho Allah SWT, saya yakin Pemilu 2014 akan menjadi milik kita.

Saya tahu jalan masih panjang dan berliku. Tetapi dengan dukungan, persahabatan dan kerjasama saudara-saudara, maka pasti tidak akan ada gunung yang terlalu tinggi, tidak ada laut yang terlalu dalam, serta tidak ada sungai yang terlalu lebar.

Akhirnya, sebagai penutup, perkenankanlah sekali lagi saya menghaturkan terimakasih yang sedalam-dalamnya, baik kepada pengurus, kader dan pimpinan Partai Golkar di semua lapisan dan semua daerah, maupun kepada para simpatisan, sahabat, pendukung, dan khususnya kepada istri, adik-adik dan anak-anak saya.

Begitu banyak yang telah membantu. Begitu banyak yang telah membesarkan hati saya.

Saya tidak dapat membalas semua kebaikan itu selain dengan mengulurkan persahabatan yang tulus. Insya Allah, jika diberikan kekuatan dan kesehatan, saya berjanji untuk memberikan yang terbaik.

Semoga kita akan sampai pada tujuan bersama, dan kemenangan berhasil kita raih demi nasib seluruh rakyat Indonesia. Maju terus Indonesia. Maju terus negeriku tercinta.

Sekarang, seperti yang sudah menjadi tradisi di Partai Golkar, perkenankanlah saya mengakhiri pidato deklarasi ini dengan tiga buah pantun:

Sajadah panjang dari beludru
Dipakai sholat gadis ayu
Bila kita istiqomah dan tawadhu
Pasti Allah memberi restu

Dari Bogor hingga Jakarta
Merah putih berkibar-kibar
Bila kita melangkah bersama
Indonesia menjadi negara besar

Piring emas berisi madu
Jadi minuman bagi sang ratu
Bila seluruh rakyat berpadu
Bangsa pasti melangkah maju


Wabillahitaufiq walhidayah
Wassalamualaikum Wr. Wb.


Sumber: icalbakrie.com

Mengapa Saya Mau Maju Jadi Capres

 

Di-singapuraSalah satu isu politik yang belakangan ini selalu ramai dibicarakan terkait saya dan Partai Golkar adalah soal calon presiden atau capres. Banyak yang bertanya, mengapa saya yang akan dipilih sebagai capres. Juga ada yang bertanya mengapa dulu saya terlihat seperti enggan maju, lalu sekarang mau. Melalui blog ini, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dulu memang saya tidak mau buru-buru mengatakan mau maju sebagai capres. Meskipun banyak kader Partai Golkar yang saya temui di berbagai daerah seluruh Indonesia meminta saya maju. Kepada mereka saya selalu mengatakan saya masih belum terfikir untuk maju karena saya masih fokus bekerja untuk membesarkan partai.

Bahkan saat Rapimnas II, Oktober tahun lalu, ketika semua DPD I, DPD II, dan Ormas yang mendirikan dan diririkan Golkar meminta saya maju, saya masih belum mengiyakan sepenuhnya dan memberi syarat mereka untuk bekerja membesarkan partai dulu. Karena dengan partai yang suaranya besar, akan mudah mengusung capres sendiri tanpa tergantung partai lain.

Rupanya kader-kader Partai Golkar mencamkan hal itu dan bekerja keras membesarkan partai. Partai Golkar meningkat pesat popularitas dan elektabilitasnya. Kini, semua survei menunjukkan bahwa partai ini ada di urutan teratas. Di berbagai survei rata-rata Partai Golkar memimpin, bahkan, survei terbaru Universitan Padjajaran (Unpad) menyatakan Partai Golkar mendapat 25 persen suara di Jawa Barat. Padahal, saat Pemilu 2009 suara Partai Golkar di wilayah ini merosot ke angka 9 persen.

Karena itu, kemudian kader menagih janji saya untuk mau dicalonkan jika partai sudah besar. Belakangan ini, rumah saya di Jalan Mangunsarkoro, Jakarta, mendapat kunjungan terus-menerus dari tamu istimewa. Mereka adalah rombongan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar, baik tingkat I maupun tingkat II. Mereka datang bergantian, tidak bersamaan, namun dengan tujuan yang sama.

Rombongan pertama yang datang adalah DPD Partai Golkar se-Jawa Timur. Mereka datang Senin, 2 April 2012 lalu. Pak Martono, Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Timur, yang memimpin mereka. Lalu menyusul DPD se-Jawa Barat yang datang pada hari Rabu, yang dipimpin ketuanya Pak Yance. Setelah itu besoknya hadir tiga rombongan DPD sekaligus di hari yang sama yaitu DPD se-Sumatera Utara yang saya terima siang hari, dan DPD se-Jambi dan Bengkulu yang saya terima sore harinya. Ini terus diikuti DPD-DPD lainnya se Indonesia.

Mereka semua bertamu ke rumah saya, selain untuk bersilaturahmi juga membawa sebuah agenda yang sama yaitu menginginkan segera selenggarakannya Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III. Mereka juga mencalonkan saya sebagai capres untuk resmi diusung Partai Golkar pada Pemilu 2014.

Mereka berpandangan Rapimnas III untuk menetapkan saya sebagai capres sebagaimana amanat Rapimnas II bulan Oktober tahun lalu, segera dilaksanakan. Mereka beralasan, dengan sudah ditentukannya capres Partai Golkar, akan membuat kader jadi termotivasi untuk bekerja dan menggerakkan mesin partai. Mereka juga tidak ingin capres ditentukan mendadak sehingga tak cukup waktu untuk mensosialisasikannya sampai ke tingkat akar rumput.

Untuk meyakinkan saya, mereka membawa dan menunjukkan bukti dukungan dari seluruh DPD baik tingkat I maupun II. Mereka juga membantah ada perpecahan dan menyangkal ada Forum DPD II yang menolak pencalonan saya. Jika selama ini ada suara-suara sumbang, menurut mereka, itu hanya dari satu orang saja. Bukti hasil rapat dan tandatangan seluruh pengurus DPD II se-Indonesia menggugurkan tudingan bahwa keinginan untuk menetapkan saya sebagai capres tak mengikuti mekanisme partai.

Berdasarkan aspirasi seluruh DPD II itulah, DPP Partai Golkar kemudian akan menyelenggarakan Rapimnas III pada tanggal 29-30 Juni nanti di Bogor, Jawa Barat. Rapimnas ini agendanya antara lain membahas keputusan Rapimnas II yang telah mengusulkan saya sebagai capres, membahas kriteria dan mekanisme penentuan calon wapres, dan membahas strategi pemenangan pada pilpres mendatang.

Untuk diketahui Isi keputusan Rapimnas II Partai Golkar 2011 Nomor 01/Rapimnas-II/Golkar/X/2011 tanggal 28 Oktober 2011, antara lain: pada poin pertama Rekomendasi Bidang Organisasi Rapimnas II Partai Golkar Tahun 2011 disebut, merekomendasikan agar Rapimnas II Golkar 2011 menetapkan sebagai keputusan Rapimnas II tentang pencalonan saya sebagai Presiden RI 2014. Terlampir dengan pertimbangan sebagai berikut:

Poin A, meminta kesediaan saya sebagai calon Presiden RI 2014 dari Golkar. Poin B, menugaskan pada DPD PG agar segera membuat rencana aksi guna melakukan sosialisasi secara intensif dan massif terhadap figur saya sebagai Capres 2014 dari PG. Sosialisasinya dilakukan semua jajaran DPD PG, DPD Provinsi, DPD kabupaten/kota, pimpinan kecamatan, pimpinan desa serta seluruh kader dan anggota Partai Golkar di seluruh Indonesia. Pada poin C, pengukuhan saya sebagai capres RI dari Golkar ditetapkan dalam Rapimnas-III tahun 2012 dan/atau Rapimnas Khusus yang dilaksanakan selambat-lambatnya pada akhir 2012.

Bisa dilihat pula di halaman 24 buku hasil Rapimnas ke-II tercantum pula Rekomendasi Bidang Pemenangan Pemilu Rapimnas II Partai Golkar tahun 2011 point 13. Ada rekomendasi penting di sana yang meminta DPP Partai Golkar segera membuat penetapan saya sebagai calon presiden dari Partai Golkar pada Pemilu Presiden 2014, melalui mekanisme partai, selambat-lambatnya pada bulan Juni 2012. Jadi tidak benar jika dikatakan pencalonan saya tidak sesuai atau tidak melalui mekanisme partai.

Dukungan kader Partai Golkar dan kerja keras mereka membesarkan partai membuat saya tidak bisa menolak aspirasi itu. Jika Rapimnas III secara resmi memutuskan, saya insya Allah menerima amanat untuk menjadi capres Partai Golkar. Deklarasi sendiri rencananya akan dilakukan di Sentul pada tanggal 1 Juli 2012.

Memang benar, survei menunjukkan elektabilitas saya sebagai capres belumlah yang tertinggi. Namun, para kader selalu meyakinkan saya bahwa berbagai survei menunjukkan tren popularitas dan elektabilitas saya yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Ini, insya Allah, akan menjadi pemacu saya dan kader Partai Golkar bekerja lebih keras lagi. Sejak memimpin Partai Golkar, hampir semua waktu saya, saya gunakan untuk turun langsung ke tengah masyarakat, untuk menyelami aspirasi mereka dan merumuskan program yang tepat untuk mereka.

Program saya sebagai capres sederhana, namun insya Allah akan dapat menjawab inti permasalahan bangsa ini. Saya menawarkan berbagai program untuk menjadikan Indonesia mandiri dan sejahtera. Cetak birunya sedang disusun oleh tim DPP bersama berbagai pakar di bidang masing-masing. Cetak biru ini yang akan dipakai jika Partai Golkar dipercaya rakyat untuk kembali memimpin bangsa ini. Amin!

Sumber : icalbakrie.com

Potensi Konflik di Negeri Hukum

Bambang Soesatyo - Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar

 

Tiba-tiba sejumlah data dan fakta mengingatkan kita bahwa stabilitas negara rapuh karena tingginya potensi konflik di akar rumput. Potensi konflik tereskalasi karena agenda penegakan hukum, sama sekali belum berupaya menjangkau persoalan-persoalan hukum yang terpendam di banyak daerah. Banyak orang tertawa sinis karena melihat penegak hukum memersepsikan ruang agenda penegakan hukum begitu sempit.

Penegakan hukum semata-mata diterjemahkan sebagai pemberantasan korupsi. Karena itu, aktualisasinya pun hanya memburu, menyergap, dan menjadikan para koruptor pesakitan di ruang pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pengadilan Tipikor.

Padahal, sejatinya, kewajiban yang termuat dalam agenda penegakan hukum tidak hanya mengadili dan menghukum para koruptor. Indonesia era reformasi mewarisi begitu banyak persoalan hukum dari pelanggaran hukum yang masif oleh penyelenggara negara di masa lalu.Pelaksanaan hukum yang manipulatif-represif di masa lalu itu menyebabkan banyak komunitas di sejumlah daerah tak berdaya dan diam, sekalipun mereka diperlakukan tidak adil oleh penyelenggara negaranya sendiri. Ketika negara masuk era reformasi, komunitas-komunitas itu berharap reformasi sebagai momentum dan akses mencari serta mendapatkan keadilan.

Negara diyakini akan hadir untuk meluruskan dan menyelesaikan persoalan-persoalan lama yang mereka hadapi dalam diam itu. Ternyata tidak. Agenda penegakan hukum hanya dijadikan slogan.Elite di Jakarta lebih disibukkan oleh kegiatan mengelola kepentingan melalui kekuasaan yang digenggamnya. Kekuasaan pun lebih memprioritaskan tertib koalisi, dibandingkan menyerap dan mengelola aspirasi rakyat.Agar terlihat gagah di panggung penegakan hukum, hanya progres pemberantasan korupsi yang dikedepankan. Sebaliknya, jerit individu ataupun komunitas di sejumlah daerah yang meminta kehadiran negara untuk mewujudkan keadilan, bahkan nyaris tidak ditanggapi.

Negara begitu sering menyepelekan persoalan-persoalan hukum yang dihadapi rakyatnya. Tahu bahwa negara tidak peduli, tidak sedikit oknum penegak hukum menyalahgunakan wewenangnya dengan memanipulasi persoalanpersoalan itu untuk mendapatkan keuntungan materi. Pihak yang benar disalahkan, dan sebaliknya yang salah dibenarkan. Sikap negara yang minimalis serta perilaku tak terpuji oknum penegak hukum itu secara tidak langsung menumbuhkan potensi konflik yang berkelanjutan.Akhir-akhir ini, media massa sudah menggambarkan bahwa potensi konflik yang bermuara pada persoalan agraria ibarat bom waktu.

Sengketa agraria yang berpotensi menjadi konflik berdarah antarkelompok masyarakat, ataupun komunitas warga versus pelaku bisnis,terjadi di hampir seluruh pelosok Indonesia. Menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN), hingga 2011 lalu, ada 14.337 kasus sengketa agraria dengan berbagai tingkatan. Sementara Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH), sejak September 2009 hingga April 2011 sudah menerima 910 laporan perkara sengketa tanah.

Proaktif

Dalam konteks ini, pemerintah sudah berkali-kali diingatkan tentang bom waktu konflik agraria. Potensinya sudah terlihat pada data BPN. Jadi, bukan data yang mengada- ada. Dari potensi yang terbaca pada data BPN itu, kemungkinannya adalah konflik antarwarga atau konflik yang melibatkan warga versus pelaku bisnis.

Kasus Mesuji, kasus Sape, dan terakhir konflik di Deli Serdang, berkemungkinan mengeskalasi semangat warga di daerah lain yang juga sedang bersengketa lahan dengan pelaku bisnis. Siapa pun tidak ingin semua potensi konflik itu benar-benar menjadi kenyataan, apalagi sampai harus menelan korban jiwa. Karena itu diperlukan program khusus untuk menyelesaikan proses hukum belasan ribu sengketa agraria itu.

Akan tetapi, untuk mencegah konflik berikutnya, langkah pertama yang harus ditempuh pemerintah adalah melakukan pendekatan kepada semua komunitas yang bersengketa lahan. Semua komunitas itu diajak untuk menahan diri, bermusyawarah, dan menghindari tindak kekerasan dalam menyelesaikan persoalan mereka. Langkah pendekatan itu tidak sulit karena bisa dilakukan para bupati atau camat. Terpenting, ada instruksi presiden kepada semua pemerintah daerah dan kepolisian daerah untuk melaksanakan pekerjaan itu.Di mana saja potensi konflik itu, cukup memanfaatkan data BPN.

Pendekatan pemerintah itu sangat diperlukan sebagai bukti kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masalah. Karena Indonesia negara hukum, langkah berikutnya adalah menyelesaikan semua sengketa lahan itu melalui proses hukum yang adil dan transparan. Perlu dibuatkan program khusus untuk menyelesaikan persoalan ini. Pemerintah perlu menawarkan konsep win-win solution.

Konflik di Mesuji dan Sape terjadi karena warga sekitar merasa hak-hak mereka dirampas begitu saja, tanpa kompensasi apa pun.Padahal, mereka hidup dari areal tanah itu.Kalau areal tanah itu harus diserahkan demi kepentingan investasi negara ataupun swasta, tentu harus ada kompensasi bagi warga sekitar agar mata pencarian mereka tidak hilang begitu saja. Pemerintah memang harus proaktif dalam meminimalisasi potensi konflik agraria di berbagai daerah.Presiden memiliki alat kelengkapan untuk mengatasi persoalan yang satu ini. Masalahnya adalah kemauan dan konsistensi.

Kalau persoalan ini segera ditangani, bukan hanya konflik yang bisa dihindari, melainkan juga sebagai pesan tentang kepastian hukum di sektor pertanahan. Mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan, konflik itu ibarat gempa bumi yang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, sehingga diperlukan lembaga yang memonitor potensi munculnya sebuah konflik. Potensi konflik agraria di negara ini sudah tergambarkan cukup jelas.

Kalau presiden memerintahkan semua pemerintah daerah dan kepolisian daerah mendata dan melakukan pendekatan kepada semua komunitas yang sedang bersengketa, konflik bisa dicegah.


Sumber: golkar.or.id

Pemimpin Hamlet, Jakarta Runtuh!

Oleh : Indra J Piliang

 

Sekalipun sistem otoriter sudah tumbang, namun sisa-sisanya masih hidup dan berkembang. Satu yang terpenting adalah sentralisasi kekuasaan di Jakarta. Sentralisasi itu memang tidak terasa, ketika kata desentralisasi, otonomi atau devolusi diperkenalkan sejak tahun 1999. Dalam prakteknya, hegemoni menggurita. Jakarta semakin kuat, daerah semakin lemah.

Karena itu, Jakarta layak diruntuhkan! Keruntuhan seperti apa? Dari sisi lelaku dan perilaku penguasanya. Jakarta tidak bisa lagi dipimpin oleh tipe pemimpin yang menghela kerbau atau pedati, karena lamban. Citra sebagai kota yang macet, dengan jumlah manusia stress yang banyak di jalanan, selayaknya dihapus. Kota yang terlalu banyak menerima, daripada memberi, dari sisi pendapatan negara.

Meruntuhkan Jakarta dimulai dengan mengganti pemimpin Jakarta secara demokratis. Pilihannya, to be or not to be. Jakarta tidak membutuhkan lagi para pemimpin laksana Hamlet. Keragu-raguan bagi Jakarta adalah kemubaziran, seperti tumpukan beton di Jalan Rasuna Said yang tidak jadi dibangun monorelnya. Apabila tipe Hamlet terus menerus menjadi pemimpin Jakarta, kemacetan tak akan terurai, spiral kekerasan massa terus terulang.

Pemimpin ala Hamlet bisa menjadi Brutus bagi demokrasi, ketika masyarakat kehilangan kesabaran. Kesabaran yang lama dipendam, akibat jalur-jalur tikus juga ikut-ikutan tersumbat macet. Kalau ini yang terjadi, kualitas demokrasi bisa menjadi buruk, karena warga tidak lagi disiplin. Pemimpin ala Hamlet bisa memancing munculnya sikap phobia terhadap demokrasi. Padahal, Jakarta mestinya jadi corong di bidang itu.

Adakah peristiwa budaya yang mampu menginspirasi Indonesia, dari wilayah yang bernama Jakarta selama ini? Rasa-rasanya tidak. Yang ada hanya model pemberian penghargaan oleh para menteri. Sifatnya birokratis, tanpa inovasi, serta penuh seremoni. Contohnya Piala Adipura. Padahal, Jakarta diperlukan bukan untuk itu. Jakarta idealnya menjadi inspirasi bagi belahan Indonesia yang lain.

Begitupula, Jakarta sudah jadi pusat tujuan kehadiran bagi musisi, disainer dan olahragawan dunia. Lagi-lagi, adakah inspirasi dari keseluruhan acara yang menghabiskan anggaran warga itu? Apakah ketika para pesohor itu kembali ke negaranya, tertanam dalam dirinya tentang keindonesia yang penuh nuansa? Pesona etnografis Indonesia, sudahkah menjadi ciri dari Jakarta?

Nasib Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang terbengkalai adalah contoh betapa tak pentingnya budaya dan ilmu pengetahuan di era pemimpin Jakarta yang sekarang. Begitujuga dengan contoh-contoh lainnya yang datang setiap hari lewat banyak saluran. Dalam waktu cepat, masalah di Jakarta menjalar ke seluruh daerah. Dari genk motor sampai perilaku pejabat negara yang seenaknya menggunakan jalur Bus Way.

No way! Keadaan berulang itu layak untuk dihentikan. Bukan untuk kepentingan warga Jakarta semata, tetapi untuk Indonesia secara keseluruhan. Perubahan, tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang sama. Kalaupun bisa, itu membutuhkan waktu yang lama. Kita sudah menyaksikan bagaimana Indonesia dipimpin tanpa inspirasi, walau lewat jalur demokrasi. Akankah juga hal itu juga akan terulang di Jakarta?

Harapan agar Jakarta tidak dipimpin oleh pemimpin model Hamlet tentu tergantung pemilih, terutama pemilih kritis. Para pemilih loyal sulit diharapkan bisa melakukan perubahan. Masalahnya, pemilih kritis bisa dalam waktu singkat menjadi pemilih apatis. Merasa tidak bisa membuat perubahan. Padahal, menurut hasil survei, jenis pemilih kritis inilah yang menjadi faktor penentu perubahan di Jakarta.

Pemimpin Hamlet, pada prinsipnya, lahir dari pemilih Hamlet. Termasuk anda atau sayakah?

Sumber: golkar.or.id