Kerukunan Beragama ala Pancasila

Deding Ishak - Ketua Umum DPP Majelis Dakwah Islamiyah (MDI)

Indonesia adalah bangsa majemuk dengan berbagai suku, ras, golongan, adat istiadat, dan agama. Kebinekaan tersebut merupakan kenyataan yang harus diterima sebagai takdir Tuhan.

Namun, di sisi lain, kebinekaan Indonesia tetap mengandung kerawanan yang dapat memicu disintegrasi nasional. Khususnya, terkait masalah kerukunan antarumat beragama. Hubungan dan interaksi antarpenganut agama yang berbeda bisa menimbulkan konflik akibat sikap prasangka negatif dan suasana persaingan yang tajam.

Itulah sebabnya, upaya untuk terus membangun dialog di kalangan penganut agama (interfaith) sangat penting. Ini demi mewujudkan pemahaman bersama (mutual understanding) dan menciptakan kerukunan antarumat beragama ke depan.

Yang perlu digarisbawahi, dialog agama bukan untuk saling menjatuhkan antara agama satu dan yang lainnya demi mendapatkan supremasi bahwa agamanyalah yang paling benar. Dengan kata lain, dialog agama harus diarahkan untuk saling memahami kebenaran masing-masing agama, yang pada gilirannya tercipta keharmonisan hidup beragama.

Barangkali tepat sekali jika bangsa Indonesia--sesuai cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers)--memilih Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Sikap saling terbuka untuk melakukan dialog antarbudaya, peradaban, dan agama telah terbangun dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Sebagai falsafah hidup negara, sila-sila dalam Pancasila mampu menjadi arah kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh dengan keberagaman. Sekaligus, mampu membangun semangat saling menghargai dan menghormati antarpemeluk agama dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Konsep kerukunan antarumat beragama ala Pancasila mengedepankan semangat persamaan (kalimatun sawa), bukan perbedaan yang potensial menimbulkan konflik. Hal ini sesungguhnya pernah dicontohkan Rasulullah Saw ketika membangun Madinah. Penduduk yang beragama Islam, Nasrani, dan Yahudi bisa hidup damai dan penuh toleran bersama-sama dalam membangun peradaban al-Madinah al-Munawwaroh.

Secara konsepsional, ada empat komitmen bersama dalam keberagamaan yang diintroduksikan oleh Parlemen Agama-agama Dunia sebagai kebutuhan dunia yang paling pokok. Sebab, setiap manusia harus diperlakukan secara manusiawi: (a) Komitmen antikekerasan dan menghormati kehidupan; (b) Komitmen untuk solider dan adil terhadap tatanan ekonomi; (c) Komitmen untuk toleran dan saling percaya; (d) Komitmen menjunjung persamaan hak dan kerja sama antara laki-laki dan perempuan.

Kerangka konseptual ini memberikan petunjuk penting dalam membangun persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di tengah pluralitas dan multikulturalisme Indonesia. Yang perlu disadari, gesekan-gesekan yang berakibat konflik barangkali bisa saja muncul seiring dengan kompleksitas persoalan di tengah masyarakat yang terus berkembang.

Di sinilah diperlukan upaya jernih dan bijak dari berbagai pihak dalam mengatasi problem-problem sosial tersebut. Bagi para tokoh masyarakat--termasuk kiai, ustadz, mubalig, pejabat negara--harus bisa memberikan uswah (teladan) yang baik dan dewasa dalam membantu menyelesaikan problem-problem kemasyarakatan.[]

Sumber : suarakarya-online.com

Melestarikan Nilai-nilai Budaya Jawa

Disampaikan Pada Acara Penganugerahan Penghargaan untuk Pelestarian Budaya Jawa.
Surakarta, 8 April 2012.




Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati,
Para sesepuh, Para tokoh, Para pemerhati dan pelaku budaya Jawa,
Dewan Juri Penganugerahan Pelestari Budaya Jawa,
Para undangan, Rekan-rekan insan pers, dan Hadirin yang saya banggakan.

Memulai sambutan ini, perkenankan saya mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan karunia-Nya, sehingga kita dapat menghadiri acara “Penganugerahan Penghargaan untuk Pelestari Budaya Jawa” dalam keadaan sehat wal afiat.

Pada kesempatan ini, saya sungguh merasa bangga dan sangat berbahagia berkumpul bersama para pelestari budaya jawa.  Karena, acara ini pada hakikatnya, bukan hanya sekedar pemberian penghargaan, tetapi merupakan momentum penyadaran akan pentingnya pelestarian nilai-nilai budaya bangsa umumnya dan budaya Jawa khususnya, sekaligus sebagai wujud komitmen kita semua untuk merawat dan menjadikan nilai-nilai budaya sebagai pedoman dalam kehidupan kita bersama.

Acara ini sangat penting, karena kita adakan di tengah sebagian masyarakat mulai memandang budaya bangsa lain lebih menarik, lebih hebat dari budaya kita sendiri. Bahkan, ada sekelompok orang yang sudah menganggap budaya lokal sudah tidak relevan dengan kemajuan globalisasi. Mereka bangga dengan budaya luar dan menganggap remeh budaya sendiri. Mereka menganggap budayanya sendiri tidak relevan dengan kehidupan modern.

Memudarnya kecintaan terhadap budaya lokal menjadi tantangan bagi kita untuk mencari cara bagaimana mengembalikan rasa hormat kepada budaya sendiri. Sejarah membuktikan, kemajuan suatu bangsa dapat terjadi justru apabila suatu bangsa menghargai  kebudayaannya sendiri. Mari kita lihat bagaimana China bisa maju, tanpa kehilangan identitas budayanya, dan Jepang bisa melaju karena melandasi kehidupan modern dengan nilai dan karakter kebudayaannya.

Para Pelestari Budaya dan Hadirin yang saya hormati.

Budaya kita, jika dikaji lebih dalam, sesungguhnya mampu menjadi pendorong kemajuan. Bila Rhonda Byrne dalam bukunya The Secret mengatakan, bahwa sumber utama kesuksesan adalah mensyukuri apa yang telah ada, karena alam akan memantulkan kembali kebahagiaan, maka orang Jawa sudah lama memiliki moto “nrimo pawehing pandum”, artinya menerima apa yang diberi Tuhan. Jika orang lain mengatakan, bahwa sumber kesuksesan adalah terus berusaha, mencoba, dan mencoba, maka orang Jawa telah lama memiliki moto “tatag-tutug”, yang maknanya siapa yang yakin dan terus mencoba, maka dia akan sampai. Oleh karena itu, saya tegas menolak jika ada teori perubahan sosial yang mengatakan, bahwa kebudayaan adalah penghambat kemajuan. Yang benar adalah bahwa kebudayaan, jika dimaknai dengan benar akan menjadi pendorong kemajuan.

Sejak lama saya sudah mengagumi budaya Jawa, yang menurut saya merupakan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur yang tinggi. Budaya Jawa yang dipegang teguh telah menciptakan sikap, kepribadian, dan gaya, serta perilaku orang Jawa menjadi sosok yang simpatik, halus, santun, toleran, fleksibel, dan menyukai keharmonisan. Sosok yang cocok dengan kehidupan bangsa Indonesia yang bersifat kekeluargaan dan kegotong-royongan.

Bahkan, saya tidak hanya mengagumi budaya Jawa, tapi saya juga mengagumi gadis Jawa, saya tertarik pada gadis Jawa. Ini terbukti, karena isteri saya adalah putri Jawa dari daerah Pati, Jawa Tengah. Padahal saat saya masih lajang, banyak lho gadis-gadis cantik yang mengejar saya, bukan cuma gadis-gadis, bahkan banyak orang tua yang kesengsem ingin menjadikan saya sebagai menantunya. Mungkin, karena saat itu saya sudah kelihatan punya tanda-tanda masa depannya akan cerah.

Walaupun banyak godaan, tapi cinta saya teguh dan tak tergoyahkan, hanya untuk seorang putri Jawa, dan alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah SWT, nawaitu saya dikabulkan dan saya dianugerahi seorang istri yang memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa dan menjadi pendamping setia saya dalam mengarungi kehidupan yang dengan segala suka duka dan pahit manisnya.

Para  pelestari budaya Jawa serta hadirin yang saya hormati.

Mengapa nilai dan budaya Jawa menarik perhatian saya?. Bukan hanya karena Jawa adalah etnis terbesar di Republik ini, di mana secara demografis etnis Jawa berjumlah sangat besar, sekitar 43 % dari seluruh penduduk Indonesia. Tetapi yang lebih hebat dari itu, adalah kebesaran hati orang Jawa. Di negara lain, dengan jumlah penduduk yang dominan, etnis Jawa sesungguhnya dapat memaksakan negara ini berdiri atas dasar kesukuan, yaitu suku Jawa, seperti halnya terjadi di beberapa negara lain, yaitu Irlandia dengan suku Irish, Uzbekistan dengan suku dominan Uzbek, Azerbaijan dengan suku dominan Azeri,  dan bahkan Arab Saudi yang berdiri di atas pilar Keluarga Saud atau Bani Saud.

Tetapi di Indonesia, bangsa kita berdiri justru atas prinsip persatuan dan kesatuan Indonesia yang menghargai kemajemukan, Bhinneka Tunggal Ika, dan yang memelopori kemajemukan itu sebagiannya justru berasal dari Jawa. Orang-orang Jawa juga berbesar hati merelakan “bahasa Jawa” tidak menjadi Bahasa Nasional, tetapi justru mendukung bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Padahal, Bahasa Indonesia berinduk pada rumpun bahasa Melayu.

Kebesaran hati orang Jawa ini, pasti ada sumbernya, yaitu pada nilai-nilai dan filosofi Budaya Jawa. Dalam pandangan saya, budaya Jawa memiliki nilai-nilai dan filosofi luhur, bila dijalankan secara konsisten dan konsekuen akan membawa begitu banyak manfaat dan kemajuan bagi bangsa.

Orang Jawa merupakan suku yang penyebarannya paling luas di seluruh Indonesia, bahkan melampaui batas teritorial bangsa, di Suriname misalnya, dan mampu hidup harmonis bersama anak bangsa lainnya. Mengapa orang Jawa bisa hidup harmonis bersama suku bangsa lain? Cara hidup yang mengedepankan harmoni, menjadikan orang Jawa dapat hidup berdampingan secara damai dan nyaman dengan suku bangsa lain. Dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas, orang Jawa berprinsip seperti wasiat Mangkunegoro I, yang dikenal dengan istilah Tribroto, yaitu selalu “rumongso melu handarbeni”, harus merasa ikut memiliki, wajib “melu hangrungkebi“, wajib ikut membela dengan ikhlas, dan “mulat sariro hangroso wani”, harus selalu mawas diri dan memiliki sifat berani membela kebenaran. Filosofi itulah, menjadikan orang Jawa mudah diterima semua pihak.

Filosofi  orang Jawa dipelajari, bahkan dipakai oleh banyak orang di luar etnis Jawa. Tidak hanya dalam urusan kehidupan secara umum, tetapi juga dalam hal kepemimpinan. Sebelum lahir pakar kepemimpinan modern, masyarakat Jawa telah memiliki doktrin kepemimpinan sendiri, seperti tercantum dalam kitab Ramayana karangan Yosodipuro I yang hidup di Keraton Surakarta, abad ke-18 yang dikenal dengan istilah Hasto-Broto, yakni ciri kepemimpinan berdasarkan sifat-sifat alam, yaitu : Suryo, matahari yang menyebarkan energi. Condro, bulan, indah dan penuh keteduhan. Kartiko, bintang, menjadi penunjuk arah. Maruto, angin, adil terhadap yang dipimpin. Selain itu juga Dahono, api, memberikan reward and punishment. Angkoso, langit, berwawasan luas. Samudro, laut, menampung semua masalah; dan Bantolo, bumi, sabar, penuh pengertian dan mencukupi.

Selain itu, masih banyak lagi filosofi kepemimpinan Jawa yang hidup dan berkembang luas dalam masyarakat, di antaranya : “menang tanpo ngasorake”, yakni menang tanpa merendahkan, tanpa membuat hina yang dikalahkan. Filosofi ini penting dan sangat relevan di terapkan dalam ranah politik, agar kontestasi  dan kompetisi politik tidak membawa dampak negatif berupa rusaknya hubungan baik dan terganggunya keharmonisan antar-pelaku politik; tetapi dari kontestasi dan kompetisi politik akan menghasilkan rasa respek, tetap terjalinnya persahabatan di kalangan para politisi lintas partai dan kelompok. Dalam bahasa yang sering saya ungkapkan, kita menghindari intrik dan fitnah politik, dan secara sungguh-sungguh menjadikan ide dan gagasan sebagai instrumen politik, melalui perdebatan konseptual.

Nilai kepemimpinan lainnya, adalah “mikul dhuwur mendem jero”, yang berarti menjadi kewajiban untuk menjunjung tinggi pimpinan, menjaga kehormatan dan martabat pimpinan. Falsafah ini memberikan pesan bahwa menceritakan aib pimpinan sesungguhnya menceritakan aibnya sendiri. Falsafah ini sesuai dengan ajaran Islam yang melarang menceritakan aib orang lain, dan bagi mereka yang melakukannya, sama dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.

Falsafah kepemimpinan Jawa lainnya yang penting dan sangat relevan dengan situasi ke-kinian, adalah “ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh” , artinya, bahwa sebagai pemimpin, janganlah terlalu terheran-heran terhadap sesuatu yang baru, tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan, dan tidak boleh sombong sewaktu menjadi pemimpin. Budaya Jawa juga mengajarkan sikap kerendah-hatian, seperti mengemuka dalam adagium Jawa yang sangat populer dalam masyaraakat : “Ojo Rumongso Biso, Nanging Biso O Ngrumangsani”, jangan cepat-cepat merasa bisa, merasa mampu, tetapi terlebih dahulu, belajarlah untuk bisa merasa.

Bahkan, ada filosofi kepemimpinan Jawa yang lain, yang kemudian lebih dipopulerkan oleh Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantoro, sebuah filosofi yang saya anggap sangat penting untuk diadposi dan diterapkan oleh pemimpin dewasa ini, adalah ”ing ngarso sung tulodho”, ”ing madyo mangun karso”, “tut wuri handayani”. ”Ing ngarso sung tulodho”, yaitu pemimpin harus mampu berdiri di depan untuk memberi tauladan lewat sikap dan perbuatannya. ”Ing madyo mangun karso”, berarti seorang pemimpin harus mampu berada di tengah-tengah bawahannya, terus memberi semangat dan motivasi agar bawahan dapat bekerja lebih baik dan lebih produktif, dan  ”tut wuri handayani”, yaitu mendorong dan mendukung dari belakang kepada bawahannya, kepada staf dan kadernya, agar mereka berani tampil dan maju dengan penuh tanggung jawab.

Dengan berpedoman kepada nilai-nilai kepemimpinan Jawa tersebut, saya meyakini, tidak akan ada pemimpin yang “pinter nanging keblinger “ , yaitu pemimpin yang pintar tapi keblinger, salah besar atau salah jalan, atau pemimpin yang “lali marang asale”, pemimpin yang lupa dengan asal usulnya. Nilai-nilai budaya Jawa tersebut sangat relevan di tengah suasana kegaduhan politik nasional yang kerap terjadi dewasa ini. Saya yakin, bila nilai-nilai luhur tersebut kita terapkan, pasti tidak terjadi kegaduhan politik, bahkan sebaliknya budaya politik kita semakin bermartabat, karena semua pihak saling menghargai dan menghormati, menjaga kesantunan dan fatsun politik, serta lebih fungsional dan produktif.

Para tokoh pelestari budaya Jawa dan hadirin yang saya hormati.

Kekaguman saya pada nilai-nilai dan filosofi budaya Jawa tersebut, membuat saya terpanggil untuk ikut aktif mengambil kepeloporan  dalam ikhtiar melestarikan dan internalisasi nilai-nilai luhur budaya Jawa. Saya juga terpanggil untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang mengabdikan dirinya untuk melestarikan budaya Jawa, khususnya kesenian Jawa.

Saya meyakini, masih cukup banyak orang Jawa yang menekuni jalan hidupnya di bidang kebudayaan, di bidang kesenian. Mereka mengabdikan hidupnya untuk melestarikan budaya Jawa,  mengembangkan kesenian Jawa, agar jangan sampai budaya Jawa “mati”, karena kematian budaya Jawa sesungguhnya adalah “kematian” seluruh orang Jawa, bahkan “kematian” bangsa Indonesia. Walaupun jalan hidup yang ditempuh tersebut adalah “jalan yang sunyi”, jalan yang jarang dilalui orang, karena tidak menarik, tidak populer, dan tidak mendatangkan uang yang banyak, namun mereka tetap melakoninya dengan penuh kesungguhan, karena rasa cintanya kepada budaya Jawa.

Keberpihakan dan kepedulian para pelestari budaya Jawa tersebut, sangat pantas mendapatkan apresiasi dan penghargaan yang tinggi. Apabila sampai saat ini  budaya Jawa masih hidup dan berdenyut di tengah-tengah masyarakat, apabila masih ada anak-anak muda bangsa aktif menekuni berbagai bidang kebudayaan dan kesenian Jawa, sesungguhnya hal itu hanya dapat terjadi, karena kerja para pelestari budaya Jawa. Untuk itu, sudah seharusnya, jasa dan pengabdian mereka diberikan penghargaan sebaik-baiknya.

Karena itu, saya merasa tergerak oleh dedikasi dan semangat yang pantang menyerah dari para  pemerhati dan pelestari budaya Jawa, yang dengan segala cara tetap “nguri-nguri“  filosofi dan budaya Jawa, jangan sampai  hilang ditelan modernisasi dan globalisasi. Saya ingat salah satu pesan para leluhur Jawa, yaitu : “ojo nganti wong Jowo ilang jawane kari jahile”, jangan sampai orang Jawa hilang kejawaannya, yang tinggal hanyalah kebodohan;  karena  tidak memahami filosofi Jawa. Jangan sampai kita kehilangan identitas,  yang menyebabkan kita lupa siapa diri kita sebenarnya.

Untuk mewujudkan niat tersebut, saya membentuk sebuah Tim Dewan Juri untuk menilai aneka kesenian Jawa yang sangat populer dan merakyat. Setelah membahas secara intensif, Tim Dewan Juri menetapkan 5 (lima) Kesenian Rakyat yang sangat populer dalam masyarakat, yaitu Wayang Kulit, Ketoprak, Ludruk, Reog, dan Keris. Kelima kesenian inilah yang menjadi kategori pemilihan Tokoh Pelestari Budaya Jawa. Mungkin di lain waktu jenis kesenian rakyat ini bisa ditambahkan kategori lain, seperti Batik, Tembang, dan Sastra Jawa.

Selanjutnya, Tim Dewan Juri bekerja secara profesional, akurat, dan independen dan mencatat lebih 50 tokoh yang  memiliki pengabdian yang tinggi dalam pengembangan dan pelestarian kesenian-kesenian tersebut. Kemudian Dewan Juri melakukan seleksi secara ketat, obyektif, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, akhirnya terpilih 5 orang tokoh pelestari budaya Jawa untuk mendapatkan penghargaan yang diserahkan pada acara ini. Perlu saya kemukakan, bahwa penghargaan di bidang budaya ini melengkapi penghargaan BAKRIE AWARD yang telah saya berikan selama ini setiap tahun kepada para tokoh di bidang ilmu pengetahuan dan pengabdian  masyaraka.

Para tokoh pelestari budaya Jawa serta hadirin yang saya hormati.

Secara kultural, seni budaya Jawa merupakan salah satu budaya tertua yang sangat berpengaruh. Seni budaya wayang, misalnya, telah menjadi seni rakyat yang menyebar di Indonesia. Bahkan, Wayang diakui oleh UNESCO menjadi “Warisan Budaya Dunia”. Selama ini seni wayang telah menjadi sarana edukasi yang sangat diminati rakyat. Melalui seni wayang, pesan luhur kebudayaan Jawa disampaikan oleh para “Dalang” yang dibungkus melalui guyonan-guyonan segar. Melalui wayang, nilai-nilai disampaikan tanpa kesan menggurui. Dengan demikian, wayang bukan sekedar tontonan, tetapi sarana untuk menyampaikan tuntunan.

Demikian juga dengan Keris, atau lebih luas adalah Senjata Pusaka. Keris bagi orang Jawa adalah simbol kewibawaan dan keagungan, bukan hanya personal tetapi juga komunal. Keris juga diyakini mempunyai kekuatan gaib dan keunggulan. Karena itu, di zaman Kerajaan Jawa masa lalu, ada simbol pusaka kerajaan, seperti Keris Nogo Sosro dan Sabuk Inten dan pusaka-pusaka lainnya. Sebagian orang Jawa bahkan percaya bahwa senjata menyatu bersama pemiliknya. Itulah yang menjelaskan berbagai peristiwa tentang Aryo Penangsang dan Ki Ageng Mangir. Sebagaimana sering dikisahkan dalam seni ketoprak, Aryo Penangsang terbunuh oleh Keris Setan Kober miliknya sendiri, dan Ki Ageng Mangir terbunuh setelah senjata pusaka Kyai Nogo Baruklinting disembunyikan oleh Retno Pembayun.

Selain itu, pada kesempatan ini diberikan juga penganugerahan kategori budaya  Jawa lainnya, yaitu Ketoprak, Reog dan Ludruk. Berbeda dengan wayang yang sumber ceritanya adalah Kisah Ramayana dan Mahabarata, Ketoprak lebih sering mementaskan legenda dan sejarah Tanah Jawa. Melalui ketoprak, diajarkan pelajaran sejarah dan legenda yang hidup di masyarakat, sehingga masyarakat memahami sejarahnya sendiri. Sumber cerita diambilkan dari karya kesusasteraan dan cerita lisan yang berkembang dalam masyarakat luas.

Sedangkan Ludruk, berkembang di daerah Surabaya dan sekitarnya, masuk dalam bagian “sub kultur Arek”. Sumber cerita ludruk adalah fenomena masyarakat sehari-hari. Ludruk memotret fakta-fakta dalam masyarakat dengan menyisipkan pesan-pesan moral sekaligus kritik sosial. Melalui ludruk, rakyat diajak merenungkan kembali kehidupan sosial kita, apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai kita atau sudah bergeser.  Ludruk juga menjadi alat perjuangan  pada masa kemerdekaan. Kita mengenal Cak Durasim, tokoh Ludruk Organisatie (LO) yang melontarkan sindiran melalui kidungan yang sangat populer hingga dewasa ini : “pegupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro” (artinya : ikut Nippon tambah sengsara). Kidungan ini membangkitkan perlawanan masyarakat terhadap penjajah Jepang. Tokoh Ludruk ini akhirnya meringkuk dalam tahanan, sampai pada tahun 1944, Tuhan memanggilnya.

Yang agak berbeda adalah Reog Ponorogo. Reog lebih mirip sendratari, yaitu suatu pertunjukan tari yang mengisahkan sejarah akhir Majapahit. Kesenian reog beberapa tahun yang lalu sempat menghebohkan, karena negara tetangga juga menganggap reog sebagai kebudayaan mereka. Kita harus tegaskan, bahwa reog adalah kesenian otentik ponorogo, bagian dari kebudayaan nasional bangsa Indonesia.

Bapak, Ibu dan hadirin yang berbahagia.

Saya sendiri, telah lama belajar banyak tentang filosofi Jawa yang luhur dan budaya Jawa yang adiluhung. Saya beruntung karena tidak perlu jauh-jauh belajar, bisa berguru kapan saja, karena saya belajar dari istri saya, putri Jawa. Tetapi kalau hanya belajar dari istri saya saja, rasanya belum cukup. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar para sesepuh dan pinisepuh dapat memberikan piwulang, agar saya yang sekarang ini tengah mengemban amanat sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar dapat membawa Partai ini menjadi harapan bangsa Indonesia dan menjadi partai yang mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan bangsa, termasuk dalam upaya pelestarian budaya bangsa, khususnya budaya Jawa.

Melalui para sesepuh, saya mengetahui bahwa yang dimaksud dengan istilah “Jawa” sebenarnya telah bergeser ke atas, ke tingkat yang lebih tinggi, bukan sekedar bermakna etnis, tetapi sudah dimaknai sebagai sebuah ciri dan karakter yang luhur. Orang yang suka berderma disebut “Njowo” sebagai lawan dari pelit. Seorang anak yang patuh kepada orang tuanya disebut “Njowo”. Seorang kakak yang penyayang kepada adiknya dikatakan “Njowo marang adi’ne”. Dengan cara berfikir seperti itu, para sesepuh berkesimpulan bahwa menjadi “Wong Jowo” adalah takdir, tetapi menjadi “Njowo” adalah pilihan.

Terakhir, sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya menyampaikan  pesan singkat tentang kondisi bangsa dan negara kita saat ini. Kondisi bangsa dan negara kita saat ini memang belum sampai ke tingkatan ideal seperti yang kita harapkan semua; belum seperti cita-cita para Pendiri Bangsa. Kita semua tahu, bahwa negara kita belum “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo”. Jangan sampai karena kecewa terhadap kondisi negara dan bangsa, kita justru ikut-ikutan merusaknya, karena itu tidak memperbaiki kondisi, bahkan tambah membuat kerusakan makin berat. Prinsipnya, adalah “Jika malam menjadi gelap, karena lampu padam, tidaklah penting kita mengutuk kegelapan, yang lebih penting adalah menyalakan lilin, agar suasana menjadi terang”.

Jika zaman ini dianggap zaman edan, janganlah kita ikut menjadi edan, ikut menjadi lupa dan terlena, kemudian merusaknya. Tetapi kita harus tetap selalu ingat dan waspada, seperti  pesan dari Pujangga besar Jawa, Ronggowarsito, yaitu : sa’ bejo-bejoning wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo, maksudnya : sebaik-baiknya orang yang lupa, masih lebih baik orang yang ingat dan waspada.

Para tokoh pelestari budaya dan  Hadirin yang saya hormati.

Demikian sambutan yang dapat saya sampaikan. Saya ucapkan selamat kepada para tokoh pelestari budaya Jawa yang terpilih, semoga ke depan pengabdian Saudara-saudara makin meningkat bagi kemajuan bangsa. Amien…!

Sebagai hadiah kepada para tokoh pelestari budaya Jawa dan hadirin sekalian, perkenankan saya mempersembahkan dua buah pantun:

JALAN-JALAN KE BOROBUDUR

TIDAK LUPA MEMBELI ANGGUR

BUDAYA JAWA TIDAK KAN MUNDUR

SELAMA DIJAGA DENGAN TERATUR

POHON BERINGIN BERDIRI TEGUH

TEMPAT WARGA DUDUK BERTEDUH

BUDAYA JAWA BERKEMBANG SUNGGUH

INDONESIA AKAN SEMAKIN TANGGUH

Sekian, terima kasih, dan mohon maaf atas segala kekurangan.

Matur sembah nuwun,

Billahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Sumber : icalbakrie.com

Berikan Karya, Dedikasi, dan Bukti Nyata, Bukan Janji dan Retorika Belaka

Pidato pada Acara Pelepasan Kader Fungsional Partai Golkar. Sabtu, 31 Maret 2012.



Ketua Dewan Pertimbangan Partai GOLKAR

Wakil Ketua DPP Partai GOLKAR

Seluruh pengurus, kader dan simpatisan partai yg kita cintai ini

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera buat kita semua

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadapan Allah SWT. Hanya atas rahmat dan berkahnya kita dapat berkumpul pada hari yang berbahagia ini, menutup orientasi Fungsionaris 8 angkatan, serta secara simbolis melepaskan para kader dan fungsionaris Partai Golkar untuk terjun dan berkarya ke tengah-tengah masyarakat.

Sebelum memulai sambutan ini, saya ingin mengajak saudara-saudara semua para kader, fungsionaris serta pengurus partai kita untuk memberikan apresiasi kepada Fraksi Partai Golkar di DPR RI. Drama politik baru berakhir kemarin, dengan pusat pusarannya di Senayan. Seluruh rakyat Indonesia menyaksikan bahwa Partai Golkar adalah kekuatan konstruktif, dan fraksi kita sanggup memainkan peran yang efektif, bermain cantik dan elegan untuk mewujudkan semboyan kebanggaan kita, “suara Golkar suara rakyat.”

Oleh karena itu, saya dan seluruh kader serta pengurus DPP Partai Golkar menyampaikan kebanggaan dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada segenap jajaran FPG di Senayan. (Saya minta kepada seluruh teman-teman FPG yang hadir di ruangan ini untuk berdiri… Mari kita berikan applause yang meriah kepada mereka…).

Kebanggaan kita semua menjadi lengkap karena FPG tidak hanya sekadar berkata ya atau tidak, atau hanya sekadar mengikuti gelombang naik-turun opini yang bersifat temporer. FPG juga memberi solusi praktis terhadap jalan buntu subsidi BBM dengan menawarkan rumusan 15% deviasi ICP selama 6 bulan sebagai prasyarat bagi kenaikan harga BBM. Dengan rumusan ini, tuntutan rakyat terpenuhi, tetapi hak pemerintah juga tetap terjaga untuk menyesuaikan harga BBM dengan perkembangan harga di pasar internasional sehingga kondisi fiskal negara tidak akan terancam.

Dalam perkembangan situasi kemarin, di mana polarisasi opini dan pendapat sudah terlalu tajam, emosi sudah mulai tersulut, serta aksi-aksi massa yang hampir lepas kendali – dalam situasi seperti itu tidak akan mungkin tercapai jalan keluar yang ideal dan memuaskan semua pihak.

Hanya politisi yang tangguh dan piawai, berpengalaman, serta berakal panjang yang dapat mencari jalan keluar dari situasi pelik tersebut. Dan itulah yang dilakukan oleh Fraksi Partai Golkar.  Formula baru yang ditawarkan oleh FPG terbukti mampu memberi ruang yang memadai bagi kompromi di antara partai-partai koalisi kita, dan karena itulah fraksi dari partai-partai lainnya (Demokrat, PKB, PPP dan PAN) akhirnya menerima solusi baru ini.

Karena itu pula, saya menyampaikan apreasiasi dan terima kasih kepada teman-teman dari partai koalisi, serta khususnya juga kepada Bapak Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, serta segenap jajaran pemerintah di Kabinet Indonesia Bersatu II.

Bahkan apresiasi dan uluran tangan persahabatan juga kita sampaikan kepada kawan-kawan dari partai lain yang kali ini memilih alternatif berbeda, yaitu PKS, PDIP, Gerindra dan Hanura. Perbedaan di antara kita bukanlah sikap permusuhan tetapi hanyalah perbedaan cara dalam melihat masalah perekonomian. Saya yakin, kita semua mencintai bangsa yang sama dan merindukan hal yang sama, yaitu bangkitnya Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang maju, adil dan bermartabat.

Dengan semua itu Partai Golkar sekali lagi membuktikan bahwa kita mendengarkan suara rakyat untuk tidak menaikkan harga BBM pada hari ini, tetapi kita juga memberikan jalan keluar serta berdiri sebagai pimpinan yang memberi arah dalam penyelesaian masalah-masalah besar yang kita hadapi, dalam hal ini masalah efesiensi anggaran serta masa depan perekonomian Indonesia.

Di saat-saat mendatang, saya menghimbau kepada seluruh kader Partai Golkar, serta kepada seluruh partai lainnya, kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia untuk melangkah bersama dalam suasana persahabatan, berinisiatif mencari rumusan-rumusan baru yang kreatif, seperti energi terbarukan, konversi gas, penghematan energi, dan sebagainya, agar perekonomian Indonesia tetap tumbuh dan berjalan di jalur yang benar.

Kita harus jujur dan menyadari bahwa memang persoalan subsidi BBM adalah sebuah persoalan pelik yang terus-menerus menghantui perekonomian Indonesia. Di dalamnya ada masalah keadilan, sebab sebagian besar subsidi dinikmati bukan oleh kalangan termiskin dalam masyarakat kita.

Selain itu juga ada persoalan rasionalitas alokasi sumber daya, sebab kita tidak ingin memboroskan ratusan triliun setiap tahun bagi konsumsi bahan bakar yang tidak produktif, sementara justru kebutuhan kita untuk membangun sekolah, puskesmas, irigasi, jalan raya, bandara, dan banyak lagi infrastruktur lainnya yang vital bagi pembangunan ekonomi menjadi terbangkalai dan mengalami masalah kronis dari kurangnya anggaran pemerintah.

Jutaan anak muda Indonesia memasuki lapangan kerja setiap tahun. Puluhan juta rakyat Indonesia membutuhkan uluran tangan dalam bentuk program-program pemerintah yang efektif. Kota-kota besar kita serta daerah-daerah pedesaan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke membutuhkan program-program kongkret agar semua potensi yang ada bisa bergerak secara simultan dan menggerakkan roda perekonomian nasional. Semua ini membutuhkan dana dan anggaran yang semakin besar.

Kita harus menjawab kebutuhan hari ini, tetapi kita juga harus mempersiapkan fondasi masa depan perekonomian Indonesia yang lebih baik lagi.

Karena itulah, Indonesia harus segera menyelesaikan dilema pelik tersebut, dan saya yakin, Partai Golkar akan terus menjadi pelopor bagi upaya penyelesaian persoalan ini.

Taman indah dipenuhi kembang, Harum baunya mendatangkan kumbang
Fungsionaris partai serius berjuang, Golkar menang besar pada pemilu mendatang

Partai Golkar adalah partai pembangunan, sebuah partai yang mengedepankan kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Insya Allah, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, kesempatan akan datang pada kita untuk membuktikan semua itu. Kita akan merebut kembali kejayaan partai, serta mempercepat pembangunan sehingga Indonesia untuk menjadi negeri yang maju, berprestasi, serta menjadi negeri yang membanggakan kita semua.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Para kader dan fungsionaris partai yang saya banggakan

Pada hari yang berbahagia ini, secara resmi saya menutup orientasi 8 angkatan yang telah dimulai sejak 11 Februari lalu, serta dengan resmi melepaskan fungsionaris-fungsionaris partai yang jumlahnya cukup besar, yaitu 1804 orang, untuk kembali dan terjun ke masyarakat dalam rangka merealisasikan gerakan karya dan kekaryaan.

Kepada panitia penyelenggara di DPP Partai Golkar, dan atas partisipasi aktif saudara-saudara semua, saya sebagai Ketua Umum menghaturkan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Dengan bekal ide-ide dan gagasan yang diperoleh selama ini, saya yakin bahwa fungsionaris Partai Golkar akan terjun langsung ke masyarakat di wilayah masing-masing. Saudara-saudara akan membuktikan bahwa bagi Partai Golkar, politik bukanlah sekadar masalah kekuasaan dan jabatan, tetapi sebuah pengabdian untuk mendengarkan dan memperjuangkan suara rakyat.

Selain itu, saya juga yakin, bahwa saudara-saudara akan membuktikan bahwa partai kita bukan hanya bisa ngomong dalam seribu retorika serta mengobral janji semata. Partai Golkar adalah partai yang memberi bukti, sebuah partai karya yang mengedepankan kerja, usaha, serta kiat yang sungguh-sungguh mengangkat kesejahteraan rakyat.

Kita mendengarkan suara rakyat, kita merasakan denyut nadi kehidupan mereka. Yakinkanlah rakyat Indonesia bahwa kita berada di pihak mereka, kita bersama mereka, serta dengan dukungan mereka Partai Golkar akan sungguh-sungguh memperjuangkan keadilan, kebenaran, serta meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.

Dengan mengatakan semua ini, saya sebagai Ketua Umum tidak hanya berhenti dalam himbauan dan anjuran. Sejak beberapa bulan terakhir ini, dan akan terus saya lakukan hingga 2014 sebagai rangkaian dari Safari Ketua Umum, saya juga sudah langsung mengunjungi dan terjun di tengah masyarakat hingga ke tingkat desa dan kecamatan. Saya bertemu begitu banyak remaja dan pemuda, mahasiswa, guru, petani, nelayan, pegawai buruh, tukang ojek, dan sebagainya.

Saya terharu akan sambutan dan antusiasme mereka. Saya melihat di mata mereka kerinduan akan sosok figur dan pimpinan, kerinduan akan perbaikan nasib, serta kecintaan yang besar pada Indonesia. Dengan berada bersama mereka, dengan mendengarkan harapan dan kerinduan mereka, saya menjadi lebih sadar lagi, bahwa tugas kita di Partai Golkar, serta tugas semua lapisan kepemimpinan politik di partai atau kelompok manapun: tugas yang ada di pundak kita adalah sebuah tugas yang mulia, sebuah tugas yang pada intinya adalah untuk wujudkan kehidupan yang lebih baik, memberi harapan kepada putra-putri Indonesia bahwa masa depan akan lebih cerah buat mereka semua.

Saya yakin bahwa saudara-saudara juga mengalami dan berpikiran yang sama. Semua itulah yang memperteguh niat dan upaya kita untuk menjadikan politik dan dedikasi kepada partai sebagai sebuah mission sacre, sebuah misi suci, sebuah tugas mulia to make a difference, untuk berbuat sesuatu yang memberi manfaat positif kepada kehidupan kongret rakyat Indonesia.

Saudara-saudara yang saya muliakan

Hadirin yang saya cintai

Selain pengalaman pribadi yang mengesankan seperti itu, dalam safari saya sejauh ini ke kabupaten, kecamatan dan desa-desa, saya melihat bahwa memang positioning Partai Golkar sudah semakin membaik dan penerimaan rakyat pada partai kita semakin antusias. Tidak salah jika tahun lalu saya pernah berkata bahwa “padi sudah mulai menguning hingga ke pelosok-pelosok desa.” (Betul?….)

Dan tidak pula salah jika berbagai survei akhir-akhir ini memang menunjukkan bahwa Partai Golkar sudah berada pada posisi teratas, nomor satu di antara partai-partai besar lainnya.

Pencapaian bagus ini harus terus kita pertahankan bersama-sama, bahkan kita tingkatkan di masa-masa mendatang. Insya Allah kita akan merebut kembali kejayaan partai. Sekarang dan di saat-saat mendatang, rawatlah baik-baik padi yang sudah tumbuh dan berkembang ini. Rawatlah, sehingga pada saatnya panen raya di 2014 kelak, bulir-bulir beras yang kita nikmati rasanya manis dan gurih. (Sanggup?….)

Akhirnya, untuk mengantarkan saudara-saudara semua dalam tugas mulia mewujudkan gerakan karya dan kekaryaan, perkenankanlah saya mempersembahkan pantun berikut ini:

Santap bersama di rumah warga, Jangan lupa mengisi bejana

Untuk meraih hati semua,Sampaikan pesan Golkar dengan bijaksana

Taman indah dipenuhi kembang, Harum baunya mendatangkan kumbang

Fungsionaris partai serius berjuang, Golkar menang besar pada pemilu mendatang

Demikianlah sambutan ini.

Wabillahi taufiq walhidayah Wassalamualaikum Wr. Wb



Sumber : icalbakrie.com

Membangun Indonesia dari Desa

Mengingat kondisi obyektif   bangsa kita yang masih sangat jauh dari cita-cita proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai, secara jujur harus diakui, bahwa di usia republik Indonesia yang memasuki 66 tahun ini, pembangunan yang dilaksanakan belum merata dan bahkan belum menyentuh sebagian besar lapisan bawah masyarakat yang hidup di pedesaan.

Masih sangat terasa adanya berbagai ketimpangan dan kesenjangan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, baik kesenjangan desa dengan  kota, kesenjangan pembangunan wilayah Timur, Tengah, dan Barat, maupun kesenjangan kaya dan miskin.  Akibatnya, antara lain masih banyak desa-desa yang terlantar pembangunannya, terpuruk dalam keterbelakangan,  kualitas hidup masyarakatnya rendah, baik dari segi pendidikan, kesejahteraan, kesehatan maupun kewirausahaan, sementara angka urbanisasi pun semakin tinggi. Apabila berbagai ketimpangan terus berlangsung ,sewaktu-waktu dapat memicu terjadinya konflik sosial dalam masyarakat, sebagaimana kasus-kasus yang terjadi selama ini di berbagai daerah.

Menyadari kondisi tersebut, maka diperlukan perjuangan dari segenap elemen bangsa yang tidak hanya membutuhkan semangat juang semata, tetapi yang paling penting adalah adanya konsep pembangunan yang secara efektif mampu mengantarkan rakyat Indonesia untuk mencapai cita-cita kemerdekaannya. Konsep pembangunan yang mampu menggerakkan dinamika pembangunan yang bertumpu pada pemanfaatan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sebuah konsep pembangunan terpadu yang memastikan dapat mewujudkan kemandirian bangsa menuju Negara Kesejahteraan (Welfare State).

Dalam kerangka itulah, Partai Golkar berkeyakinan bahwa paradigma “Membangun Indonesia dari Desa” sangatlah tepat dan mendesak untuk dilaksanakan. Paradigma ini bersifat bottom up, berangkat dari persoalan-persoalan riil yang dihadapi langsung oleh masyarakat desa. Dengan demikian, maka akan terjadi pola gerak pembangunan yang betul-betul berangkat dari grass root (akar rumput), yang melibatkan warga masyarakat desa secara aktif.

Partai Golkar sebagai the party of ideas menyadari sepenuhnya, bahwa paradigma Membangun Indonesia dari Desa, tidak boleh hanya berhenti pada tataran wacana saja, tetapi harus secara sungguh-sungguh dapat dimanifestasikan dalam program-program nyata yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat desa. Itulah hakekat doktrin karya kekaryaan partai Golkar. Tiada hari tanpa karya, dan karya hanya dipersembahkan untuk rakyat, Suara Golkar suara Rakyat.

Paradigma Membangun Indonesia dari Desa, merupakan wujud perhatian nyata Partai Golkar dalam mengangkat harkat dan martabat “urang desa”  yang selama ini diposisikan secara marjinal. Karena sejatinya Pembangunan itu sendiri berorientasi pada penyelesaian masalah rakyat, pemenuhan kebutuhan rakyat, dan memberi jaminan adanya harapan kehidupan rakyat masa depan yang lebih baik.

Partai Golkar tidak ingin melihat rakyat Indonesia yang tinggal di desa-desa hanya menjadi penonton di desanya sendiri, karena segenap potensi sumberdaya alamnya tersedot dan tereksploitasi oleh mereka yang mengatasnamakan pembangunan, tetapi tidak memikirkan kemajuan pembangunan desa. Pembangunan desa, tidak dapat dipertentangkan dengan pembangunan nasional, mengingat logikanya, kemajuan pembangunan desa akan menopang kemajuan pembangunan daerah dan pembangunan nasional.

Partai Golkar menyadari sepenuhnya, bahwa konsep Membangun Indonesia dari Desa hanya dapat dilaksanakan dengan baik, bila mana didukung oleh  sumberdaya manusia yang berkualitas di desa-desa dalam menggerakkan pembangunan secara  partisipatif dan produktif.

Kualitas manusia Indonesia adalah faktor penentu dalam pembangunan. Keberhasilan suatu bangsa dan negara akan lebih ditentukan oleh kualitas manusianya, bukan hanya kekayaan sumber daya alamnya semata. Dalam laporan mengenai pembangunan manusia, UNDP, salah satu badan Perserikatan Bangsa Bangsa berkali-kali menyebutkan bahwa hanya negara-negara yang meningkatkan investasi dalam pembangunan sumber daya manusia, terbukti  dapat menikmati  pertumbuhan ekonomi yang baik.

Konstitusi kita sesungguhnya sudah berorientasi pada pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Untuk mewujudkan pembangunan manusia Indonesia yang diinginkan, pola pikir atau mindset masyarakat harus berubah sesuai dengan perubahan paradigma pembangunan. Tanpa adanya perubahan pola pikir dan paradigma yang dianut, akan sulit bagi kita untuk mewujudkan cita-cita kita dalam membangun kemandirian bangsa menuju negara kesejahteraan Upaya untuk merubah pola pikir dan paradigma pembangunan itu harus dimulai dengan  langkah-langkah nyata.

Masyarakat mendambakan  contoh dan suri tauladan  yang baik. Masyarakat sudah lelah mendengarkan berbagai wacana dan janji-janji tentang perbaikan nasib dan kehidupan mereka yang tak kunjung terwujudkan. Karenanya, Partai Golkar ingin memberi bukti  melalui karya nyata, bukan janji melalui pernyataan. Kita harus bersama rakyat membangun, bersama rakyat bekerja keras, bersama rakyat merasakan kelelahan, kepanasan, kedinginan, didasari   keyakinan bahwa semua itu pasti bermanfaat bagi masa depan rakyat.

Komitmen Partai Golkar adalah menjadi bagian dari solusi (part of the solution), bukan menjadi bagian dari masalah (part of the problem). Dengan perinsip ”menjadi bagian dari solusi”, maka kader-kader Partai Golkar harus berani tampil ke depan  mengambil kepeloporan di tengah-tengah masyarakat  dalam upaya menyelesaikan masalah rakyat, memenuhi kebutuhan rakyat, dan memberi kepastian adanya masa depan rakyat yang lebih baik.

Di sisi lain, kader-kader Partai Golkar juga harus mampu mendorong peningkatan kinerja pemerintahan desa/kelurahan, meningkatkan kemampuan kelembagaan di tingkat desa/kelurahan dalam mengelola proses penyaluran aspirasi, musyawarah dalam pengambilan keputusan, serta memberdayakan masyarakat desa.

"Kader-kader Partai Golkar harus berani tampil ke depan  mengambil kepeloporan di tengah-tengah masyarakat".

Partai Golkar senantiasa mengambil kepeloporan dalam  berjuang agar pembangunan desa didukung oleh kebijakan pusat yang tepat, proporsional, dan aspiratif, sehingga implementasi pembangunan dan otonomi daerah benar-benar menyentuh masyarakat  di pedesaan. Program pembangunan yang diajukan melalui proses Musrenbang yang dilakukan secara berjenjang mulai dari desa harus secara sungguh-sungguh menjadi skala prioritas. Musrenbang jangan hanya sekedar pertemuan yang bersifat formalistik dan hanya  melegitimasi keinginan kelompok politik tertentu. Secara khusus, Partai Golkar senantiasa  memperjuangkan agar politik anggaran kita berpihak pada pembangunan daerah dan desa-desa.

Alokasi anggaran belanja negara harus berimbang antara pusat dan daerah, tidak seperti alokasi anggaran belanja  sebelumnya yang masih bersifat piramida terbalik, di mana belanja pusat mencapai sekitar 70 %, sementara belanja daerah hanya berkisar 30 %. Komposisi alokasi anggara belanja demikian, tentu menimbulkan ketimpangan pembangunan Pusat – Daerah, sehingga berdampak pada proses marjinalisasi masyarakat pedesaan.

Karena itu, politik anggaran pembangunan tidak boleh hanya bersifat sektoral, tapi juga secara sungguh-sungguh harus mencerminkan semangat kewilayahan. Sehingga dengan demikian, pembangunan nasional dapat berkembang secara adil dan merata. Demikian pula halnya, Partai Golkar mengharapkan agar revisi Undang-undang tentang Desa harus segera diselesaikan, untuk memberikan landasan penguatan eksistensi pengelolaan pembangunan desa.

*Pidato Pengarahan Ketua Umum Partai Golkar pada Pembukaan Diklat Karakterdes Partai Golkar Secara Nasional. Cibogo, Sabtu, 2 Juli 2011


Sumber: icalbakrie.com