Jakarta - Golkar yakin masih tetap bisa kokoh dan meraih suara banyak dalam Pemilu 2014, meski sempat dilanda gonjang-ganjing karena kadernya tersangkut korupsi.

“Gonjang-ganjing apa pun tak akan mempengaruhi suara Golkar. Ini karena kami punya basis massa yang solid dan bakal memilih siapa pun yang diusung sebagai capres,” kata Wasekjen Partai Golkar Nurul Arifin, di Jakarta, kemarin.

Seperti pernah diberitakan, beberapa kader Golkar tersangkut kasus korupsi, misalnya Zulkarnaen Djabar, Ratu Atut Chosiyah, dll.

Kondisi Golkar, lanjutnya, berbeda dengan Partai Demokrat ketika kader-kadernya terlibat korupsi, basis massanya belum berakar kuat seperti Golkar. “Namanya pohon beringin, diterpa apa pun tetap tegar,” kata Nurul.

Menurut dia pengajuan Aburizal Bakrie (ARB) sebagai Capres Golkar, kata Nurul, bakal didukung massa Golkar. ARB akan digandengkan dengan cawapres dari Jawa karena konstituen terbesar di Indonesia adalah suku Jawa.

“Faktanya, orang Jawa adalah pemilih terbesar dan mereka tersebar di seluruh Indonesia. Makanya, cawapres ARB harus memperlihatkan faktor itu. Rasionalitas itu harus jadi pegangan,” kata mantan artis ini.

Nurul mengakui, di kalangan internal Golkar juga ada menolak ARB. Namun, setelah melihat kerja keras ARB selama menjadi ketua umum, penolakan itu melunak.

“Saat ini momentum untuk kader supaya solid. Jangan sampai ada lagi kader Golkar memilih capres dari parpol lain,” katanya.

sumber : http://www.poskotanews.com

Semarang - Ketua Pimpinan Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro 1957 Jawa Tengah Bowo Sidik Pangarso mengatakan pemilih perkotaan cenderung memilih figur calon legislator yang mereka kenal secara imajiner.

"Sementara itu, pemilih pedesaan cenderung memilih caleg secara fisik," katanya di sela Konsolidasi dan Pembekalan Calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota, Provinsi, dan DPR RI Partai Golkar dari Unsur Kosgoro 1957 Jateng di Semarang, Sabtu.

Di sela acara yang dihadiri Ketua Umum Pengurus Pusat Kolektif Kosgoro 1957 Dr. H.R. Agung Laksono itu, Bowo mengatakan pemilih juga cenderung berperilaku sosiopsikologis model daripada model-model perilaku pemilih lain.

Calon tetap anggota DPR RI periode 2014--2019 nomor urut 5 dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah II (Kabupaten Kudus, Jepada, dan Demak) itu menyebutkan pula bahwa pemilih cenderung untuk memilih figur caleg yang matang secara politik ketimbang caleg dari figur "dadakan".

"Pemilih juga cenderung memilih caleg yang dinamis, pembaharu, dan 'smart' daripada figur yang konservatif," kata Bowo.

Menurut dia, adanya pergeseran preferensi pemilih itu sebenarnya disebabkan hasil kinerja politikus di DPR maupun DPRD selama periode 2009 sampai menjelang Pemilu 2014 yang dinilai kurang memuaskan.

Menyinggung sistem kepartaian, dia mengemukakan pentingnya penguatan ideologi kepartaian dengan masa pendukungnya ditambah adanya penguatan peran media dalam pemihakan gaya dan kualitas komunikasi politik.

Peran parpol, kata Bowo, berbanding lurus dengan model rekrutmen caleg, soliditas elite dan massa, soliditas kepengurusan pusat dan daerah sehingga perannya mulai berubah dari sekadar "perahu sewa" ke arah pengumpul suara.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jateng Wisnu Suhardono mengungkapkan kecenderungan anggota DPR dan DPRD dari parpol itu yang masih mementingkan kepentingan pribadi daripada parpol.

Berdasarkan hasil pantauan DPD Jateng dan laporan dari DPD kabupaten/kota, kata dia, sejauh ini ada kecenderungan legislator dari Golkar yang masih cenderung mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang loyalitas terhadap parpol.

Hasil pantauan tersebut, kata Wisnu yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Kosgoro 1957 Jateng, perlu disampaikan kepada pengurus pusat meski mereka mungkin tidak percaya, tetapi perlu sebagai bahan evaluasi DPP.[]

Sumber : http://www.antarajateng.com

Jakarta - Soegeng Saryadi Syndicate melakukan kajian untuk melihat landscape politik 2014. Kajian itu dilaksanakan dengan menggunakan metode meta analisis terhadap hasil survei yang dirilis berbagai lembaga selama 2013.

Selain itu, analisis politik 2014 juga dilakukan dengan focus group discussion (FGD) dan studi pustaka. Konfigursi partai politik 2014, SSS menyatakan partai politik yang berpeluang besar memenangi pemilihan umum 2014 adalah PDI Perjuangan atau Partai Golkar.

"Berdasarkan 18 rilis survei parpol yang dilakukan lembaga survei, PDI Perjuangan dan partai Golkar yang berpeluang besar memenangi pemilu 2014," kata Ridho Hanafi, Koordinator Kajian Soegeng Saryadi Syndicate, di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (12/12/2013).

Ridho menuturkan, untuk posisi ketiga atau keempat akan direbut oleh Partai Gerindra atau Partai Demokrat. Sedangkan posisi partai Islam yang berlatar belakang asas Islam atau berbasis massa Islam belum menunjukan taringnya di pemilu 2014.

"Kemungkinan partai berasas Islam atau berbasis massa Islam akan menempati papan bawah," tuturnya.

SSS juga mengkaji partai politik yang berpeluang lolos ke Senayan dengan parlimentary threshold sebesar 3,5 persen. Hasil kajian tersebut memunculkan PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKB dan PPP diprediksi lolos ke Senayan.

"Sementara parpol yang tidak lolos ke Senayan adalah Partai Nasdem, PKS, PAN, Partai Hanura, PBB dan PKPI," cetusnya.[]

Sumber : http://www.tribunnews.com

Semarang - Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung meminta jajaran pengurus, kader, dan simpatisan partai berlambangkan pohon beringin untuk fokus dalam menghadapi Pemilu Legislatif (Pileg) 2014. Langkah ini penting dilakukan agar mampu merealisasikan target 33 persen suara atau 190 dari 560 kursi di DPR.

"Kami harus fokus ke Pemilihan Umum Legislatif 2014. Sebab, pileg ini menentukan jumlah kursi pencalonan presiden," katanya saat bersilaturahmi ke Menara Suara Merdeka, Jl Pandanaran, Semarang, Senin (25/11).

Akbar bertemu Komisaris Utama PT Suara Merdeka Budi Santoso, Direktur Pemberitaan Sasongko Tedjo, Direktur Operasional Hendro Basuki, Pemimpin Redaksi Harian Suara Merdeka Amir Machmud, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Suara Merdeka Gunawan Permadi, Pemimpin Redaksi Harian Wawasan Agus Toto Widyatmoko, dan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cybernews Setiawan Hendra Kelana, Redaktur Pelaksana Ananto Pradono, dan Triyanto Triwikromo. Mantan Menteri Sekretaris Negara ini didampingi Wakil Bendahara DPP Partai Golkar Soeharsojo dan Sekretaris DPD I Partai Golkar Jateng Iqbal Wibisono.

Akbar menyebut Golkar harus fokus dalam pemenangan pileg karena 2014 memiliki arti penting dalam perhelatan politik. Sebab, tahun tersebut juga dihelat Pemilu Presiden (Pilpres) yang akan memilih calon baru untuk menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyelesaikan dua masa periode kepemimpinannya.

Menurut dia, ada tiga dari 12 partai besar yang bersaing dalam pemilu, yakni PDIP, Demokrat, dan Golkar. Akbar pun berkomitmen turut mendukung untuk menjadikan Golkar pemenang pemilu agar bisa mengawal politik kedepan. Sekuat tenaga ia akan membantu capres dari Golkar Aburizal Bakrie untuk memenangkan pilpres. Provinsi Jatim dinilai akan menjadi titik lemah bagi Ical (sebutan Aburizal Bakrie- ) dalam mendulang perolehan suara.

Karena itu, Golkar menyiapkan strategi untuk melakukan pendekatan terhadap tokoh yang dianggap kuat di Jatim seperti mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. Guna menjaring suara sebanyak-banyaknya, Golkar juga akan mengkampanyekan calon anggota legislatif (caleg) dan capresnya berbarengan.

Dalam undang-undang pemilihan umum terbaru yaitu UU Nomor 8 Tahun Tahun 2012, ambang batas parlemen untuk DPR ditetapkan sebesar 3,5%, naik dari Pemilu 2009 yang sebesar 2,5%. Ia menyambut baik ambang batas parlemen tersebut karena partai politik dalam pemilu dinilainya tidak perlu banyak. "Idealnya cukup lima atau enam partai. Namun, hasil survei terkait ambang batas parlemen akan ada enam sampai delapan partai yang lolos. Ini mendekati ideal," jelasnya.

Menurut Ananto Pradono, kader Golkar dulu pernah dianggap sebagai antek dari mantan Presiden (alm) Soeharto. Dalam perkembangannya, stigma itu akhirnya bisa terhapus dan Golkar dinilai masih mampu bersaing dalam kancah perpolitikan nasional. Bahkan, Golkar mampu memenangkan Pemilu Legislatif 2004. Mengenai hal ini, Akbar menyatakan, Golkar mampu bertahan karena berhasil melakukan adaptasi politik. Selain itu, partainya bisa bersaing karena melakukan inovasi politik.[]

Sumber : suaramerdeka.com