Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya Jawa Tengah Wisnu Suhardono kelihatannya sudah merasa saat inilah waktu yang tepat untuk dia maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah, dijadwalkan digelar Juni tahun depan.

Itu tampak saat dia melihat judul buku karangan saya. Dia langsung terpikir soal slogan kampanye untuk dirinya. Wisnu pun menyadari banyak pihak, termasuk tiga partai di luar Golkar, siap mendukung dirinya untuk mencalonkan diri.

Namun dia memiliki satu syarat utama. "Kemungkinan besar saya mau maju kalau hanya dua, berhadapan dengan PDIP dan koalisinya," kata Wisnu saat ditemui Rabu lalu di kantornya, Wisma 77, Jakarta Barat.

 

"Pencalonan saya untuk menjaga eksistensi dan kehormatan Partai Golkar di Jawa Tengah," kata Wisnu Suhardono.


Berikut penuturan Wisnu Suhardono dalam wawancara khusus dengan Faisal Assegaf dari Albalad.co.     

Banyak pihak meyakini hanya Anda calon yang pas dari Golkar buat bertarung dan menang dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah tahun depan?

Penilaian itu ada dua, penilaian dari Partai Golkar dan penilaian eksternal di luar Partai Golkar. Eksternal ini ada dua kelompok, eksternal kelompok PDIP dan eksternal kelompok non-PDIP.

Dari komunikasi saya secara tidak langsung dalam kapasitas Ketua Golkar Jawa Tengah dengan eksternal non-PDIP, sepaham seperti itu, tanpa merendahkan kader-kader dari partai lain yang eksternal non-PDIP. Tapi justru mereka menyampaikan kepada saya, walau tidak dalam forum resmi, pantaslah saya itu maju dan mereka insya Allah bergabung mengusung saya sama-sama.

Kapasitas saya ini kan ketua Golkar provinsi, sehingga tidak dalam domain saya untuk bicara antar ketua umum DPP partai lain. Tentunya yang harus bicara dengan ketua umum partai lain adalah DPP Partai Golkar, apakah itu ketua umumnya, atau ketua umumnya menugaskan ketua harian, atau juga menugaskan seksinya.

Kedua, kalaupun saya maju, ada dua hal juga, eksternal dan internal saya. Internal saya, pertama, istikharah. Kedua, keluarga. Ketiga, rekan-rekan bisnis saya, harus saya komunikasikan dengan baik. Seandainya faktor eksternal tadi memeuhi, yaitu Golkar menugaskan saya dan tidak ada kelompok atau calon lain di luar saya dan PDIP sudah eksis di sana.

Tetapi kalau uncul tiga calon dan saya termasuk di dalamnya, saya pasti tidak akan bersedia. Karena menurut matematika politik, pengalaman politik, kalkulasi yang ada, nggak kuat melawan PDIP kalau calonnya lebih dari dua.

Tapi apakah Anda merasa memang sudah saatnya maju demi membela kehormatan Golkar?

Jadi tadi faktor internal adalah istikharah, keluarga, dan rekan bisnis saya. Faktr eksternya adalah Partai Golkar sendiri. Apa benar DPP Golkar akan menugaskan saya? Kedua, apakah dalam kapasitas dan kemauan dari Partai Golkar untuk berkomunikasi dengan DPP partai lain untuk menciptakan suasana dan iklim pilkada sehingga terjadi dua calon, yang diusung oleh Partai Golkar bersama partai-partai lain berhadapan dengan PDIP dan rekan-rekan PDIP. Itu menarik.

Kalau lebih dari dua, untuk saya tiddak menarik. Sehingga hampir pasti saya tidak mau. Kalau calon nanti kelihatannya cuma dua, itu menarik dan saya mempertimbangkan dengan sangat. Kemungkinan besar saya mau maju kalau hanya dua, berhadapan dengan PDIP dan koalisinya.

Jadi Anda ini tipe petarung, hanya mau satu lawan satu?

Di sini bukan persoalan petarung tapi pengamatan dan pengalaman saya mengikuti 63 kali pilkada kabupaten/kota, satu pilkada provinsi, saya berkesimpulan seperti itu. Ditambah referensi pilkada tujuh kabupaten/kota Februari lalu. Sehingga saya berkeyakinan seperti itu dan keyakinan saya bukan berdasar rasa, emosi, atau hati, tapi ini ada ilmiahnya.

Apakah Anda proaktif mencari dukungan di dalam dan luar Partai Golkar?

Saya tidak proaktif tapi saya dihubungi dan berkomunikasi dengan ketua partai lain yang bicara ke arah sana. Tapi dari DPP Golkar sendiri belum khusus memanggil saya.

Apa yang membedakan Jawa Tengah dibanding provinsi lain?

Eksistensi PDIP kan terlalu kuat selama ini. Sejak Orde baru berhenti, selama ini dikuasai oleh PDIP. Bisa saja kita mendapatkan kesimpulan atau menciptakan suasana di mana masyarakat sudah jenuh dengan kepemimpinan PDIP selama ini di Jawa Tengah tanpa berpretensi merendahkan partai lain, termasuk PDIP.

Kepemimpinan nasional kan berpengaruh ke bawah di mana citra rezim PDIP makin buruk. Apakah Anda melihat masyarakat di Jawa Tengah juga mulai antipati terhadap PDIP?

Saya belum dan tidak mau melihat secara detail tapi yang saya jadikan refrensi adalah pilkada Februari lalu, yaitu dari tujuh pilkada, Golkar memenangkan enam di antaranya. Dua dimenangkan (berkoalisi) dengan PDIP, yang empat tanpa PDIP. PDIP memenangkan tiga, dua di antara dengan Golkar, satu sendiri.   
Jadi kalau mau dibandingkan 4-1. Golkar menang empat tanpa PDIP dan PDIP memenangkan satu tanpa Golkar. Ini menjadi referensi cukup signifikan daripada saya mengatakan pimpinan nasional tidak seusai janjinya waktu kampanye. Saya tidak ke sana, tapi referensi ini.

Referensi ini juga ada dua faktor. Fakgtor bagaimana kecanggihan operasi kita dan bagaimana masyarakat bersikap terhadap calon diusung pada pilkada kabupaten/kota Februari kemarin.

Dengan referensi tersebut, serta pengaruh dan pengalaman Anda dalam berpolitik selama ini, apakah itu juga menambah keyakinan Anda untuk maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah nanti?

Referensi saya satu saja. Saya melihat kok ada fenomena seperti ini, yaitu tujuh pilkada di Februari lalu. Saya membaca itu di Jawa Tengah, belum saya hubungkan, belum saya melihat, dan belum saya menyimpulkan apakah ada dampak pilkada di DKI terhadap pilkada di Jawa Tengah.

Saya tidak melihat Pak Ganjar persoalan e-KTP atau Semen di Rembang. Saya lagi melihat yang terakhir adalah referensi kami. Tentunya pilkada pada Februari tahun ini juga menjadi referensi PDIP. PDIP juga lagi berstrategi kenapa kita terjadi seperti itu pada Februari.

Berarti pertarungan menghadapi calon dari PDIP merupakan pilkada paling bergengsi bagi Anda?

Kata-kata melawan jangan dipakai. Seandainya hanya ada dua calon gubernur di Jawa Tengah, PDIP bersama kawan-kawan dan Golkar bersama kawan-kawan, itu akan menarik. Baru saya mempertimbangkan untuk mengambil keputusan.

Pasti mau kalau cuma menghadapi calon dari PDIP?

Hampir tapi kalau (kandidatnya) lebih dari dua, pasti saya tidak mau. Kecuali DPP Golkar menyerahkan kepada saya untuk melakukan lobi-lobi dengan ketua umum partai-partai lain. Itu akan saya lakukan. Tapi kan saya harus menghormati tata kramat politik ada dalam DPP, sehingga saya tidak punya keinginan untuk melakukan hal itu. Nanti dikirain saya mempunyai ambisi menjadi gubernur.

Kalau saya berambisi menjadi gubernur, mungkin tiga partai lain juga bersedia mendukung saya, bukan Golkar. Tapi bukan itu tujuannya.

Tiga partai itu mana saja?

Tebak aja sendiri.

Apakah sudah ada sinyalemen dari DPP Golkar, siapa bakal dicalonkan dalam pemilihan Gubdernur Jawa Tengah?

Saya tidak mau proaktif, takut nanti dikirain saya ada ambisi. Terserah DPP saja, apakah DPP masih punya keinginan menjaga eksistensi dan kehormatan Partai Golkar di Jawa Tengah atau tidak. Kalau iya, modelnya akan seperti apa, harus dibicarakan.

Kalau pihak keluarga pasti mendukung Anda maju?

Jujur, keluarga aslinya tidak menginginkan saya menjadi calon gubernur. Anak-anak saya tidak menginginkan. tetapi seandainya terjadi fenomena seperti itu, mungkin saya bisa meyakinkan keluarga, ini adalah pengabdian saya untuk masyarakat Jawa Tengah. Berilah kesempatan saya untuk mengabdi. Sudah cukup saya mengabdi untuk keluarga, saya coba mengabdi untuk masyarakat Jawa Tengah seandainya kondisi itu tercipta.

Apa alasan keluarga menolak Anda untuk menjadi calon Gubernur Jawa Tengah?

Saya sudah terlalu tua untuk main politik dan mereka sudah jenuh melihat saya ikut berpolitik. Saya walaupun tiddak dalam struktur tapi saya membantu Golkar Jawa Tengah sejak ketua umumnya Sudharmono sampai Harmoko dan Akbar Tandjung. Mereka sudah jenuh dengar saya berpolitik tapi apa boleh buat, itu keterpanggilan saya sampai hari ini.


Sumber : http://albalad.co/kabar/2017A7247/saya-mau-maju-bila-cuma-hadapi-calon-diusung-pdip/

Wisnu Suhardono: Saya mau maju bila cuma hadapi calon diusung PDIP

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya Jawa Tengah Wisnu Suhardono kelihatannya sudah merasa saat inilah waktu yang tepat untuk dia maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah, dijadwalkan digelar Juni tahun depan.

Itu tampak saat dia melihat judul buku karangan saya. Dia langsung terpikir soal slogan kampanye untuk dirinya. Wisnu pun menyadari banyak pihak, termasuk tiga partai di luar Golkar, siap mendukung dirinya untuk mencalonkan diri.

Namun dia memiliki satu syarat utama. "Kemungkinan besar saya mau maju kalau hanya dua, berhadapan dengan PDIP dan koalisinya," kata Wisnu saat ditemui Rabu lalu di kantornya, Wisma 77, Jakarta Barat.

 

"Pencalonan saya untuk menjaga eksistensi dan kehormatan Partai Golkar di Jawa Tengah," kata Wisnu Suhardono.


Berikut penuturan Wisnu Suhardono dalam wawancara khusus dengan Faisal Assegaf dari Albalad.co.     

Banyak pihak meyakini hanya Anda calon yang pas dari Golkar buat bertarung dan menang dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah tahun depan?

Penilaian itu ada dua, penilaian dari Partai Golkar dan penilaian eksternal di luar Partai Golkar. Eksternal ini ada dua kelompok, eksternal kelompok PDIP dan eksternal kelompok non-PDIP.

Dari komunikasi saya secara tidak langsung dalam kapasitas Ketua Golkar Jawa Tengah dengan eksternal non-PDIP, sepaham seperti itu, tanpa merendahkan kader-kader dari partai lain yang eksternal non-PDIP. Tapi justru mereka menyampaikan kepada saya, walau tidak dalam forum resmi, pantaslah saya itu maju dan mereka insya Allah bergabung mengusung saya sama-sama.

Kapasitas saya ini kan ketua Golkar provinsi, sehingga tidak dalam domain saya untuk bicara antar ketua umum DPP partai lain. Tentunya yang harus bicara dengan ketua umum partai lain adalah DPP Partai Golkar, apakah itu ketua umumnya, atau ketua umumnya menugaskan ketua harian, atau juga menugaskan seksinya.

Kedua, kalaupun saya maju, ada dua hal juga, eksternal dan internal saya. Internal saya, pertama, istikharah. Kedua, keluarga. Ketiga, rekan-rekan bisnis saya, harus saya komunikasikan dengan baik. Seandainya faktor eksternal tadi memeuhi, yaitu Golkar menugaskan saya dan tidak ada kelompok atau calon lain di luar saya dan PDIP sudah eksis di sana.

Tetapi kalau uncul tiga calon dan saya termasuk di dalamnya, saya pasti tidak akan bersedia. Karena menurut matematika politik, pengalaman politik, kalkulasi yang ada, nggak kuat melawan PDIP kalau calonnya lebih dari dua.

Tapi apakah Anda merasa memang sudah saatnya maju demi membela kehormatan Golkar?

Jadi tadi faktor internal adalah istikharah, keluarga, dan rekan bisnis saya. Faktr eksternya adalah Partai Golkar sendiri. Apa benar DPP Golkar akan menugaskan saya? Kedua, apakah dalam kapasitas dan kemauan dari Partai Golkar untuk berkomunikasi dengan DPP partai lain untuk menciptakan suasana dan iklim pilkada sehingga terjadi dua calon, yang diusung oleh Partai Golkar bersama partai-partai lain berhadapan dengan PDIP dan rekan-rekan PDIP. Itu menarik.

Kalau lebih dari dua, untuk saya tiddak menarik. Sehingga hampir pasti saya tidak mau. Kalau calon nanti kelihatannya cuma dua, itu menarik dan saya mempertimbangkan dengan sangat. Kemungkinan besar saya mau maju kalau hanya dua, berhadapan dengan PDIP dan koalisinya.

Jadi Anda ini tipe petarung, hanya mau satu lawan satu?

Di sini bukan persoalan petarung tapi pengamatan dan pengalaman saya mengikuti 63 kali pilkada kabupaten/kota, satu pilkada provinsi, saya berkesimpulan seperti itu. Ditambah referensi pilkada tujuh kabupaten/kota Februari lalu. Sehingga saya berkeyakinan seperti itu dan keyakinan saya bukan berdasar rasa, emosi, atau hati, tapi ini ada ilmiahnya.

Apakah Anda proaktif mencari dukungan di dalam dan luar Partai Golkar?

Saya tidak proaktif tapi saya dihubungi dan berkomunikasi dengan ketua partai lain yang bicara ke arah sana. Tapi dari DPP Golkar sendiri belum khusus memanggil saya.

Apa yang membedakan Jawa Tengah dibanding provinsi lain?

Eksistensi PDIP kan terlalu kuat selama ini. Sejak Orde baru berhenti, selama ini dikuasai oleh PDIP. Bisa saja kita mendapatkan kesimpulan atau menciptakan suasana di mana masyarakat sudah jenuh dengan kepemimpinan PDIP selama ini di Jawa Tengah tanpa berpretensi merendahkan partai lain, termasuk PDIP.

Kepemimpinan nasional kan berpengaruh ke bawah di mana citra rezim PDIP makin buruk. Apakah Anda melihat masyarakat di Jawa Tengah juga mulai antipati terhadap PDIP?

Saya belum dan tidak mau melihat secara detail tapi yang saya jadikan refrensi adalah pilkada Februari lalu, yaitu dari tujuh pilkada, Golkar memenangkan enam di antaranya. Dua dimenangkan (berkoalisi) dengan PDIP, yang empat tanpa PDIP. PDIP memenangkan tiga, dua di antara dengan Golkar, satu sendiri.   
Jadi kalau mau dibandingkan 4-1. Golkar menang empat tanpa PDIP dan PDIP memenangkan satu tanpa Golkar. Ini menjadi referensi cukup signifikan daripada saya mengatakan pimpinan nasional tidak seusai janjinya waktu kampanye. Saya tidak ke sana, tapi referensi ini.

Referensi ini juga ada dua faktor. Fakgtor bagaimana kecanggihan operasi kita dan bagaimana masyarakat bersikap terhadap calon diusung pada pilkada kabupaten/kota Februari kemarin.

Dengan referensi tersebut, serta pengaruh dan pengalaman Anda dalam berpolitik selama ini, apakah itu juga menambah keyakinan Anda untuk maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah nanti?

Referensi saya satu saja. Saya melihat kok ada fenomena seperti ini, yaitu tujuh pilkada di Februari lalu. Saya membaca itu di Jawa Tengah, belum saya hubungkan, belum saya melihat, dan belum saya menyimpulkan apakah ada dampak pilkada di DKI terhadap pilkada di Jawa Tengah.

Saya tidak melihat Pak Ganjar persoalan e-KTP atau Semen di Rembang. Saya lagi melihat yang terakhir adalah referensi kami. Tentunya pilkada pada Februari tahun ini juga menjadi referensi PDIP. PDIP juga lagi berstrategi kenapa kita terjadi seperti itu pada Februari.

Berarti pertarungan menghadapi calon dari PDIP merupakan pilkada paling bergengsi bagi Anda?

Kata-kata melawan jangan dipakai. Seandainya hanya ada dua calon gubernur di Jawa Tengah, PDIP bersama kawan-kawan dan Golkar bersama kawan-kawan, itu akan menarik. Baru saya mempertimbangkan untuk mengambil keputusan.

Pasti mau kalau cuma menghadapi calon dari PDIP?

Hampir tapi kalau (kandidatnya) lebih dari dua, pasti saya tidak mau. Kecuali DPP Golkar menyerahkan kepada saya untuk melakukan lobi-lobi dengan ketua umum partai-partai lain. Itu akan saya lakukan. Tapi kan saya harus menghormati tata kramat politik ada dalam DPP, sehingga saya tidak punya keinginan untuk melakukan hal itu. Nanti dikirain saya mempunyai ambisi menjadi gubernur.

Kalau saya berambisi menjadi gubernur, mungkin tiga partai lain juga bersedia mendukung saya, bukan Golkar. Tapi bukan itu tujuannya.

Tiga partai itu mana saja?

Tebak aja sendiri.

Apakah sudah ada sinyalemen dari DPP Golkar, siapa bakal dicalonkan dalam pemilihan Gubdernur Jawa Tengah?

Saya tidak mau proaktif, takut nanti dikirain saya ada ambisi. Terserah DPP saja, apakah DPP masih punya keinginan menjaga eksistensi dan kehormatan Partai Golkar di Jawa Tengah atau tidak. Kalau iya, modelnya akan seperti apa, harus dibicarakan.

Kalau pihak keluarga pasti mendukung Anda maju?

Jujur, keluarga aslinya tidak menginginkan saya menjadi calon gubernur. Anak-anak saya tidak menginginkan. tetapi seandainya terjadi fenomena seperti itu, mungkin saya bisa meyakinkan keluarga, ini adalah pengabdian saya untuk masyarakat Jawa Tengah. Berilah kesempatan saya untuk mengabdi. Sudah cukup saya mengabdi untuk keluarga, saya coba mengabdi untuk masyarakat Jawa Tengah seandainya kondisi itu tercipta.

Apa alasan keluarga menolak Anda untuk menjadi calon Gubernur Jawa Tengah?

Saya sudah terlalu tua untuk main politik dan mereka sudah jenuh melihat saya ikut berpolitik. Saya walaupun tiddak dalam struktur tapi saya membantu Golkar Jawa Tengah sejak ketua umumnya Sudharmono sampai Harmoko dan Akbar Tandjung. Mereka sudah jenuh dengar saya berpolitik tapi apa boleh buat, itu keterpanggilan saya sampai hari ini.


Sumber : http://albalad.co/kabar/2017A7247/saya-mau-maju-bila-cuma-hadapi-calon-diusung-pdip/

Solo - Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi dan Kabupaten/Kota se Jawa Tengah mengikuti Halal Bihalal di Sunan Hotel Solo, Sabtu (8/7/2017) siang.Halal Bihalal juga diikuti sejumlah anggota FPG DPR RI dari Daerah Pemilihan Jateng.

Ketua DPD I Partai Golkar Jateng, Wisnu Suhardono, mengatakan, kegiatan tersebut sekaligus untuk memberikan pengarahan dan sosialisasi kepada kader Golkar untuk persiapan Pilkada Kabupaten/Kota dan Pilgub 2018.
"Karena Kabupaten/Kota ketuanya sudah menulis surat ke DPP Golkar meminta saya untuk maju sebagai calon gubernur pada Pilgub Jateng," kata Wisnu. Pihaknya mengaku masih menunggu keputusan dari DPP Golkar terkait pencalonannya sebagai calon Gubernur Jateng 2018. "Karena tidak bisa mengusung sendiri dan harus ada komunikasi dan koalisi," jelasnya.

Untuk memutuskan tersebut, lanjut Wisnu adalah keputusan dari DPP Golkar. "Jadi saya (DPD I Golkar) dan DPD II Golkar tugasnya adalah melakukan sosialisasi kepada masyarakat," katanya. Sosialisasi tersebut agar nantinya masyarakat di Jateng dapat mengetahui profil dirinya.

"Seoptimal mungkin kita lakukan sosialisiasi agar masyarakat Jateng itu mengenal siapa Ketua Golkar Jateng," ungkapnya. Sehingga perlu ada langkah-langkah yang dibentuk, dikoordinasikan karena Golkar tidak bisa mengusung sendiri

Sumber: TribunSolo.com

AMPG Banjarnegara Dukung Wisnu Suhardono Jadi Cagub Jateng 2018

Banjarnegara – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah masih sekitar satu tahun lagi. Meskipun demikian, sejumlah organisasi mulai menunjukkan sikap politiknya. Salah satunya yaitu Pengurus Daerah Angkatan Muda Partai Golkar (PD AMPG) Kabupaten Banjarnegara yang mendukung Wisnu Suhardono sebagai Cagub dari Partai Golkar.

Dukungan ini merupakan poin utama sikap politik yang dihasilkan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PD AMPG Kabupaten Banjarnegara di Hotel Surya Yudha, (Selasa 23/5).

Rakorda diikuti 100 orang, terdiri dari pengurus AMPG Kabupaten, pimpinan kecamatan dan undangan dari provinsi serta perwakilan pengurus DPD II Partai Golkar Kabupaten Banjarnegara. Ketua PD AMPG Kabupaten Banjarnegara, Sugijen mengatakan, dukungan ini karena Wisnu Suhardono merupakan kader terbaik Partai Golkar di Jawa Tengah. “Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah, beliau merupakan figur yang kharismatik dan berprestasi.

“Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah, Wisnu Suhardono merupakan figur yang kharismatik dan berprestasi".

Di bawah kepemimpinan beliau, Golkar menenangkan Pilkada di enam kabupaten/kota dari delapan kabupaten/kota yang menggelar Pilkada,” kata dia. Wisnu Suhardono yang berlatar belakang pengusaha diharapkabn bisa mempercepat penyelesaian berbagai permasalahan di Jawa Tengah, terutama kemiskinan dan infrastruktur.

Terkait Pemilu Legislatif 2019, dia meminta kader muda Partai Golkar berperan aktif ikut pemilihan. “Pandangan politik lainnya terkait Pilpres, kita siap mengamankan kebijakan partai,” ungkapnya.

Sugijen menambahkan, dalam Rakorda ini juga dirumuskan program kerja tahun 2017. “Program tersebut antara lain meliputu Diklatsar dan Jambore AMPG yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Desember dan rekruitmen 1.500 kader AMPG hingga ke tingkat RT dan RW,” imbuhnya

Sumber: http://radarbanyumas.co.id